Love You More, Husband

Love You More, Husband
Menguji


__ADS_3

Milea dan Rafael sama-sama terdiam saat kedua orang tuanya pergi dari rumah besar mereka. Tak ada oembicaraan, apalagi Milea hanya terus menundukkan kepalanya dengan wajah kemerahan. Rafael yang lebih dulu bisa menguasai diri berlahan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Milea tetap menunduk walau mendengar Rafael bertanya padanya.


"Tidak ada." jawabnya pendek, masih dengan jemari yang terus saling memilin, gelisah.


"Benarkah?" Bola mata Milea terus bergerak gelisah hingga dia memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap suaminya, takut.


"Itu..."


"Apa?" sergah Rafael tak sabar. Milly kembali gelisah.


"Soal pembesaran alami. A...apa...kak Rafa serius? Apa...aku benar-benar tak menarik bagimu dengan keadaanku yang sekarang?" Hampir saja Rafael tertawa jika tak ingat tujuan awalnya. Wajah Milea yang dipenuhi ketakutan dan kecemasan membuatnya menemukan hiburan baru. Semangat menggebu yang dia tunjukan kemarin seakan sirna tak bersisa.


"Milly...siapa yang memintaku membuka hati hemm? Kau sendiri bukan? lalu bagaimana aku bisa membuka hatiku jika kau...ahhh...!!" Rafael memasang wajah kecewanya dengan penuh drama.


"Ba...baik!! a..aku setuju!!" potong Milea cepat. Wanita muda itu bahkan refleks memegang tangan Rafael kuat untuk menunjukkan keseriusannya. Rafael tertawa penuh kemenangan dalam hati. Ternyata sama sekali tak sia-sia dia ikut kelas akting saat di London dulu.


"Baik...deal!! dalam tiga bulan ini kita mulai terapinya." lanjut Rafael dengan wajah kalemnya.


"Ti...tiga bulan? Kita?" beo Milea dengan wajah bingungnya. Lagi dan lagi Rafael menyembunyikan senyumnya. Jika tak sedang mengerjai Milea mungkin dia akan memeluk istri cantiknya itu gemas. Ya, Milea sangat mengemaskan dimatanya. Kemana keberaniannya saat berseteru dengan Yura kemarin? Juga perkataan tegasnya saat menyatakan dirinya akan membuat Rafael jatuh cinta? Gadis yang lucu dan Rafael suka itu.

__ADS_1


"Iya...lalu siapa lagi? aku sendiri yang akan melakukan terapinya pada tubuhmu. Kau pikir aku rela istriku dijamah orang lain hemm?" Milea beringsut mundur saat Rafael kembali menegakkan tubuhnya yang secara otomatis membuat jarak mereka makin dekat.


"Ka...kakak mau apa?" Milea sampai terus tergagap sejak tadi. Kedua tangannya berusaha menahan dada kekar Rafa. Tapi bukannya terdorong, tangan Milea yang bergetar malah serasa menggelitik dadanya dan membangkitkan sesuatu dalam diri seorang Rafael. Netra coklatnya menggelap. Pelan namun pasti dia menjangkau pinggang Milea. Tatapan matanya hanya terfokus pada satu titik...bibir mungil istrinya yang juga gemetar ketakutan seperti kedua telapak tangannya. Seolah Milly adalah gadis perawan yang baru pertama kali mendapat sentuhan.


"Menciummu Milea. Bukankah ini yang kau inginkan??" lirih Rafael parau. Milea menggelang kuat.


"Ha...hanya saat kau pergi dari ruu....eehhhemppptt..." Rafael sudah membungkam bibir itu sebelum perkataan sang empunya bibir selesai. Milea hanya mampu memejamkan matanya, tak kuasa menolak ciuman suaminya. Hatinya berbunga.


"Oohh....astaga!!" Rafael dan Milea refleks saling melepaskan diri saat pekikan lirih itu terdengar. Milea yang makin gugup, namun anehnya Rafa malah bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa.


"Biasakan ketuk pintu sebelum masuk." tegurnya keras. Sang tamu hanya nyengir kuda sambil berjalan masuk dan duduk tanpa disuruh.


"Ya. Aku datang juga karena suruhan suami kurang ajarmu ini." sungut Leon kesal. Sudah benar jika tadi dia menolak. Namun ancaman Rafa lagi-lagi membuatnya bimbang. Rafael tertawa lebar.


"Sayang...bisa minta tolong membuatkan kak Leon minuman, kudapan kecil juga jika kau tak keberatan. Sepertinya kak Leon akan sedikit lama disini." Milea celingak-celinguk dengan ekspresi bingung. Tak ada orang lain disana selain mereka bertiga. Lalu siapa yang dipanggil sayang oleh suaminya?


"Sayang...." Milly baru sadar jika yang dimaksud adalah dirinya saat Rafael memegang tangannya lembut.


"Oohh...ehh...i...iyaa." dan detik berikutnya Milea sudah melesat ke dapur, menyembunyikan binar bahagia dan senyum lebar di bibirnya. Apa tadi? Sayang?? Aahh..Milly rasanya ingin salto hingga ke dapur saking bahagianya. Andai Rafael selalu semanis ini setiap hari, betapa bahagianya seluruh hati ini.


"Kau sudah membawanya?" Leon memasukkan tangannya ke dalam saku lalu mengeluarkan sebotol ramuan pada Rafael.

__ADS_1


"Kau sungguh adik ipar tak tau diri. Tega-teganya kau suruh aku untuk membeli obat pembesar di apotik Erka. Kau tau, bahkan Erka dan karyawannya menertawakan aku karena mereka mengira milikku kecil. Dasar sial!!" umpat Leon menahan marah. Rafa tergelak karenanya.


"Memangnya aku mau minta tolong siapa lagi Lee. Kau sahabatku, malah sekarang jadi kakak iparku. Apa aku harus membongkar aib adikmu pada orang lain?" kata Rafael sambil terus tertawa. Leon pasti sangat kesal sekarang. Kapan lagi bisa mengerjai adik kakak itu diwaktu yang hampir bersamaan?


"Hentikan tawamu tuan muda Hutama! Sekarang katakan padaku kenapa kau melakukan ini semua pada adikku. Jika kau tak suka padanya maka aku akan membawanya pulang. Jangan membuatnya tertekan atau sakit hati padamu." kecam Leon kesal. Kakak mana yang tega melihat adiknya menderita walau dia tak melihat itu semua dari kondisi bahagia Milea. Sejak menikah bahkan adiknya terlihat lebih berisi dan berseri.


"Apa aku pernah bilang jika tak menyukainya Lee??"


"Tidak!"


"Lalu?" Leon tersenyum sinis. Matanya menatap botol ditangan Rafa tajam.


"Yang ditanganmu itu sudah menunjukkan jika kau tak puas pada kondisi fisik Milea sekarang. Raf, apa adikku benar-benar tak menarik bagimu?" Rafael menghentikan tawanya. Pandangannya beradu dengan Leon yang memasang wajah amat serius di depannya.


"Apa aku pernah memandang seseorang dari fisiknya saja Lee?" tanyanya dingin. Tentu saja Leon menggeleng. Rafael yang dia kenal amat menghargai orang lain, penyayang dan punya pola pikir sederhana. Tak sekalipun sahabatnya itu berbuat aneh. Hal itu juga yang membuatnya meyakini jika Rafael adalah jodoh terbaik untuk adik tersayangnya.


"Aku tidak akan menuntut apapun dari Milea termasuk fisiknya. Aku sudah belajar mensyukuri apapun yang kumiliki Lee." ujar Rafael tulus.


"Lalu obat itu?" tanya Leon menelisik. Rafael mengangkat bahunya.


"Hanya menguji seberapa besar cinta Milea padaku."

__ADS_1


__ADS_2