Love You More, Husband

Love You More, Husband
Syarat


__ADS_3

"Kak...." Milea yang baru saja memasangkan dasi di leher Rafael memanggil suaminya pelan. Tangan halusnya bahkan masih memegangi ujung dasi biru tua bergaris-garis putih suaminya.


"ehmmm...ada apa Milly?" Rafael menatap wanitanya intens. Terlihat sekali jika pria itu amat perhatian pada Milea. Dia tak pernah mengabaikan Milly juga tak segan menghentikan aktivitasnya saat Milly hendak bicara.


"Tentang keinginanku bekerja...." Milly memang sengaja menggantung kalimatnya, telihat ragu untuk melanjutkannya. Yang dia lakukan sekarang adalah mengamati ekspresi Rafael. Tapi wajah datar suaminya selalu membuatnya kalah. Tak ada apapun yang bisa dia jadikan acuan disana.


"Kakak tau aku tidak hamil bukan? jadi apa salahnya jika aku bekerja di luar rumah? bukankah momy juga bekerja setelah menikah dengan dady?"


Ya, walau sudah memutuskan resign berpuluh tahun lalu saat mengandung dan melahirkan anak-anaknya, Sofia memang kembali pada pengabdiannya sebagai seorang dokter meski sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengurus anak dan suaminya. Fernando tak pernah mau lepas atau jauh darinya hingga selalu mengajak belahan jiwanya itu kemanapun dia berada. Usia sudah tua tapi bucinnya masih seperti anak muda saja. Sofia yang patuh tak pernah menolak. Pun saat Nando memberinya ijin kembali bekerja, ibu dua putra itu sudah terlanjur nyaman disamping lelaki yang memujanya bak seorang ratu itu. Hanya saat mereka di Indonesia saja Sofia menginjakkan kaki di rumah sakit dan melakukan praktik juga operasi. Dokter senior seperti dirinya juga harus banyak berbagi pengalaman juga memberikan bimbingan pada dokter baru yang kebetulan bertugas di rumah sakitnya. Lalu kenapa Milea malah iri dengan momynya? Milea bukan sofia.


"Bukankah kita sudah sepakat jika kau hanya bekerja dari rumah saja?" Milea terdiam. Tak ada lagi yang bisa dia katakan. Apapun alasannya dia pasti tak dapat ijin karena mereka sudah lebih dulu sepakat.


"Baiklah." lanjut Milly kemudian. Rafael tau istrinya kecewa. Dia tau pasti jika Milly hanya ingin referensi kerja mengingat jurusan yang dia ambil berkaitan dengan bisnis juga.


"Apa kau benar-benar ingin bekerja di rumah sakit momy?" Rafael menyentuh tangan Milea yang masih berada di dadanya, meremasnya lembut lalu menurunkannya hingga keduanya berdiri tegak saling berpegangan.


"Kalau kak Rafa memberiku ijin." Sahut Milea ragu.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi ada beberapa hal yang harus kau patuhi Milea." kali ini Rafael merendahkan suaranya seolah menuntut Milea menyetujui juga mematuhi keinginannya.


"Apa itu kak?." Milly menantang mata kelam sang suami dengan mata hazelnya yang berbinar. Diijinkan bekerja diluar saja sudah membuatnya amat senang.


"Kau pulang dan pergi bersama pak Man, sudah ada di rumah sebelum aku pulang, juga harus ada saat kuperlukan." Tak ada alasan untuk tidak setuju bukan? Itu juga tugasnya sebagai seorang istri. Semua bukan masalah besar untuknya.


"Ya, aku setuju kak." sahutnya mantap.


"Dua lagi Milly." Milly yang tadi girang sekarang malah bengong.


"Masih ada lagi? dua? banyak sekali??" tanyanya seperti sebuah keluhan. Satu saja belum tau apas syaratnya, ini malah dua. Kepala Milly jadi pening karenanya. Jangan-jangan syarat ini berat untuknya. Beberapa bulan jadi istri Rafa membuat Milly hafal kebiasaannya membuat orang bahagia lalu menggantinya dengan kesedihan.


"Hahhhh???!! Kak Rafa ingin aku tampil seperti ibu-ibu?" Rafael menjitak kening istrinya hingga Milea memekik sakit.


"Bukan itu maksudku. Kau harus pakai pakaian tertutup. Tidak boleh yang serba pendek begini. Aku tidak suka." Milea kembali menatap lekat suaminya. Bukan masalah jika itu hanya seputar pengeluarannya membeli baju baru. Uang dari Rafael bahkan sudah melebihi harga baju-baju itu. Milly juga bukan gadis dari keluarga biasa yang tak punya tabungan apa-apa. Tapi siapkah dia memakai kerudung dan menutup auratnya sedang keimanannya saja wajib dipertanyakan. Sholat juga bolong-bolong, apalagi ibadah yang lain? Milea merasa malu pada dirinya sendiri.


"Kenapa? kau tak sanggup?"

__ADS_1


"Bukan itu. Aku...hanya merasa rendah hati. Ibadahku.."


"Milly, menutup aurat adalah kewajiban. Soal yang lain bisa kita benahi berlahan-lahan." kita? Kenapa kata 'kita' membuat hati Milea teduh? Seolah Rafa sangat mendukung dan menginginkan dia berubah. Ada rasa nyaman dan aman saat lelakinya itu bersiap jadi pelindungnya.


"Baiklah. Aku setuju." keputusan tepat setelah Rafael saja hampir putus asa. Dia sangat tau wanita seusia Milea belum siap melakukannya, apalagi yang terbiasa hidup bebas tanpa ajaran agama. Senyum jahil si pria kembali terbit.


"Hmmmm...satu lagi." Milea menarik nafas panjang. Mau bekerja saja syaratnya sebanyak ini. Tapi Milly harus sabar. Toh dia tak harus berpanas-panas ria seperti pelamar kerja di luaran sana yang sama sekali tak punya koneksi. Milea jauh lebih beruntung dibanding mereka.


"Mulai besok kau harus menjalani terapi pembesaran alami tambahan." Rafael berkata dengan amat santai seraya berbisik lirih ditelinga istrinya, membuat gadis itu merinding. Tadinya Milea berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Rafa,tapi pria itu menahannya. Milea membuang pandangannya ke sembarang arah agar kegugupannya segera mereda.


"Memangnya bagian mana lagi yang akan kak Rafa besarkan?" kali ini Milea tertunduk malu. Tubuhnya bahkan sedikit gemetar saat tautan tangan mereka terlepas dan Rafa menggerakkannya ke belakang tubuhnya, meremas nakal pantatnya. Milea berjingkat.


"Kau lupa jika Paula memiliki ukuran yang besar? Aku juga ingin kau memilikinya Milea. Apa kau sanggup?" Milea menelan ludahnya kasar. Kenapa suami pendiamnya jadi mesum seperti sekarang? Tapi saat mengingat betapa liarnya Rafael diatas ranjang saat malam pemerkosaan dirinya di apartemen, Milea jadi tau. Betapa pria itu amat perkasa. Rafael juga bukan pria polos seperti pandangan semua orang padanya. Pria itu sangat romantis dan tau caranya membahagiakan pasangannya meski berada dalam pengaruh obat.


" Milly....." ulang Rafa lagi. Hidung mereka bahkan hampir bersentuhan.


"Aku anggap semua persyaratan diatas gugur jika persyaratan terakhir dariku kau tolak. Bagaimana sayang??" Suara lembut itu...kenapa jadi membuatnya merinding parah? Sudah kepalang basah. Milly tak punya pilihan.

__ADS_1


"Baik. Aku setuju kak." balasnya setelah sekian lama berpikir. Lagi...sebuah remasan nakal mendarat di pantatnya.


__ADS_2