Love You More, Husband

Love You More, Husband
Tshirt


__ADS_3

Alarm ponsel Rafa berbunyi nyaring hingga sang empunya ponsel harus meraba-raba sekelilingnya untuk mencari benda itu dan mematikannya. Pasti sebentar lagi subuh karena ponselnya memang selalu di stel pada jam itu. Rafael meregangkan otot tubuhnya, sedikit terkejut saat melihat Milea yang masih tertidur manis di sampingnya.


"Milly ..." bisiknya tak percaya. Kenapa wanita itu malah tudir disini? bukannya semalam dia sudah masuk kamar? apa mungkin dia ....trauma? Mereka sama-sama tau jika di kamar itulah Rafa mengambil paksa keperawanan si gadis. Apa mungkin karena itu Milea tak mau tidur di kamarnya? jika ya maka Rafalah yang paling merasa berdosa karenanya.


"Kak...." Milea mengucek matanya yang tampak memerah, lalu menyingkapkan selimutnya. Pandangannya lurus pada Rafael yang duduk bersandar di sofa.


"Kenapa tidur disini?" Tanya Rafa datar. Milly hanya menyimak sambil melipat selimut mereka.


"Aku ingin saja. Apa tidak boleh?"


"Jawaban yang sama. Apa kau tak punya kosa kata lainnya? apa menurutmu semua hal akan berjalan sesuai keinginanmu?"


"Apa maksud kakak?" Rafael tersenyum miring. Masih bisa-bisanya wanita muda yang sudah jadi istrinya itu bertanya maksudnya tanpa tau kesalahannya. Sadar saja tidak.


"Pikirkan sendiri Milly!" Rafael bangkit dari duduknya lalu berjalan ke kamarnya.


.....Braakk....


"Aaaoooowwhh...." Teriak Milea keras karena keningnya terantuk pintu yang ditutup Rafael asal. Suaminya itu tak melihat Milly yang mengikutinya hingga menutup pintu lumayan keras. Mendengar jeritan Milea, Rafa kembali membuka pintu.


"Kau ...??!" Alangkah terkejutnya sang tuan muda melihat Milly yang berdiri sambil meringis memegangi keningnya yang berubah biru. Air matanya menetes.


"Ayo masuk!" Rafael bergegas menarik istrinya masuk dan mendudukannya di sofa kamarnya. Dengan cekatan pria tampan yang amat mirip Fernando itu mengambil es batu dan mengompres kepala Milly hingga benjolannya berangsur hilang. Tinggal warna ungunya yang masih membekas.


"Maafkan aku Milly." lirih Rafa terlihat amat menyesal. Dia bukan pria yang tega pada seorang wanita. Apalagi dia menutup pintu ity lumayan keras. Untung saja Milly tak pingsan karenanya.


"Tak apa kak. Aku hanya kaget saja." Sahut Milly sambil menundukkan kepalanya. Perlakuan manis Rafael membuat hatinya menghangat.


"Kenapa kakak tidak pulang semalam?" Rafa melirik wanitanya. Pertanyaan itu lagi. Bukankah semalam dia sudah menjawabnya?

__ADS_1


"Aku lembur." Menjawab sekali lagi bukan ide buruk. Lebih baik begitu dari pada gadis itu terus bertanya.


"Dengan Yura?" tanyanya menyelidik. Terus terang hati Milea ketar-ketir juga. Hatinya berdebar.


"Ya." jawab Rafa singkat. Sungguh, bukan jawaban itu yang dia harapkan. Milea kembali menunduk.


"Setidaknya kakak mengabariku agar aku tidak cemas." lanjutnya dengan suara bergetar.


"Baiklah, aku akan mengabarimu lain kali."


"Lain kali? berarti kakak berencana lembur lagi? dengan Yura lagi?" kecewa. Itulah yang dirasakan Milea. Entah kenapa hatinya begitu sedih. Bayangan kebersamaan Rafa dan Yura saja sudah membuatnya ingin menangis. Perasaan apa ini? kenapa jadi begini?


"Milea dengar...aku akan banyak lembur dimasa-masa awal menggantikan dady. Banyak yang harus kuselesaikan karena Hutama grup adalah perusahaan besar. Aku tak cukup punya waktu bersenang-senang atau bersantai menikmati hidup seperti Richard karena tanggung jawabku sangat besar. Kau masih terlalu muda untuk mengerti semuanya." jelas Rafael panjang lebar. Mungkin ini perkataannya yang paling panjang sejak awal pernikahan hingga sekarang.


"Kalau begitu kak Rafa akan sering pulang kemari?"


"Maybe...tapi kau tak usah khawatir. Selepas subuh aku pasti sudah dirumah utama. Lagi pula Richard akan selalu ada di rumah. Jadi kau tak perlu khawatir. Sesekali ajaklah dia keluar. Aku yakin dia tak akan berani menolak." Milea meremas kedua tangannya, mengigit bibirnya, menahan sesuatu yang bergemuruh dalam rongga dadanya. Harusnya dia bahagia saat Rafa memberi lampu hijau padanya, tapi apa yang dia rasakan sekarang? hambar.


"Baiklah. Aku akan menghubungi Rich agar dia pindah kemari." sahutnya enteng. Tangan besarnya sudah menekan ponsel pintarnya, menghubungi sang adik.


"Kak...."


"Ya."


"Jangan menelepon siapapun." Rafael mengurungkan niatnya, sedikit menjauhkan ponsel dan menatap Milea yang juga menatapnya.


"Baiklah. Aku akan langsung menemuinya nanti."


"Kubilang jangan!" Ketus Milea setengah menjerit. Rafa menarik nafasnya.

__ADS_1


"Terserah kau saja."


"Aku ingin tinggal disini denganmu. Bukan orang lain!" Rafa yang sudah berdiri diambang pintu kamar mandi berhenti sejenak.


"Richard bukan orang lain bagiku. Dia adikku, bukannya kau juga akan menjadi adikku?" Milly sudah tak tahan lagi. Secepat yang dia bisa gadis itu berlari memeluk pinggang suaminya dari belakang. Sejenak menangis sambil bersandar di punggungnya.


"Milly lepaskan! sebentar lagi Leon kemari. Akun harus bersiap." Leon? bukannya ini weekend? ada urusan apa kakaknya itu pergi keluar bersama suaminya? Tapi pada siapa dia akan bertanya? rasa terkejut bahkan sudah membuatnya tak ingat kapan Rafa melepaskan diri darinya dan mandi di dalam sana. Milly bergegas mendekati lemari, mencari baju santai untuk suaminya.


Sesaat kemudian Rafa sudah menyelesaikan mandinya. Milly yang mengira suaminya itu belum membawa pakaian dibuat kecewa. Rafa sudah memakai pakaian lengkapnya saat keluar dengan rambut basah dan handuk kecil di tangannya.


"Tadi ku kira...." Milly bergegas mengambil pasangan baju yang dia ambil tadi lalu memasukannya ke lemari. Sungguh dia jadi salah tingkah. Dia tak tau apa-apa soal suaminya juga kebiasaannya. Istri macam apa dirinya ini?


Suara bel berbunyi. Rafa yang selesai merapikan rambut dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya bergegas membuka pintu, meninggalkan Milly yang mematung di tempatnya.


"Masuklah Lee." Rafa melebarkan pintu apartemennya agar sosok setinggi dirinya ity bisa masuk ke dalam. Leon yang sudah berdandan modis seperti dirinya segera masuk dan duduk di sofa tanpa disuruh. Sudah jadi kebiasaan baginya sejak SMA dulu untuk menganggap rumah Rafa seperti rumahnya.


"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu." pamit Rafa membuat Leon heran.


"Bukannya kau sudah rapi? kenapa ganti baju lagi?" Leon amat tau jika Rafa sangat menyukai polo shirt warna putih. Dia akan banyak menghabiskan waktu luangnya dengan kaos berkrah itu saat pergi kemana-mana. Nyaris sama seperti dirinya yang juga menggunakannya meski dengan warna hitam. Kontras bukan, hitam dan putih. Dua warna sederhana yang indah saat dipersatukan. Indah yang sederhana, sederhana yang menjadi indah. Sekarang dia malah mau ganti baju lagi. Apa mungkin kaosnya kurang nyaman?


"Kakak..." panggil Milea yang barusan keluar dari kamar Rafael. Leon sampai terkejut. Tak menyangka adiknya berada disana.


"Dahimu....apa kalian bertengkar?" Sebagai seorang kakak tentu Leon dibuat khawatir melihat dahi Milea yang membiru. Tangannya mengelus dahi sang adik.


"Itu....aku...."


"Aku yang membuatnya begitu Lee. Sungguh aku tak melihat Milly menyusulku tadi." sahut Rafael diambang pintu kamar. Apa Milea harus tersenyum sekarang? Lihatlah...Rafael sudah berdiri gagah disana dengan tshirt biru langit yang dia pilihkan tadi. Sangat...sangat dan sangat tampan dimatanya. Siapa yang tak tergoda melihat postur gagah bak foto model itu sekarang? bahkan Leon tak ada apa-apanya dibanding suaminya. Rafael yang tampan dan mempesona.


"Ehhmmm!! apa itu benar Milea?" Milea hingga tersentak kaget karena deheman keras kakaknya.

__ADS_1


"I...iya kak." jawab Milea tergagap.


__ADS_2