
Para pelayan kediaman Hutama hilir mudik membawa beberapa koper keluar dari rumah. Mereka bahkan membawa beberapa barang yang ditunjuk Rafael tentu atas ijin momy dan dadynya.
"Sudah cukup mom." Sofia menoleh pada putranya sedikit bersungut kesal. Padahal belum semua barang-barang Rafa terangkat. Hanya beberapa saja yang mereka bawa.
"Aku tau dadymu sudah membelikan kalian barang-barang baru tanpa setahu momy. Tapi yang momy bawakan adalah barang penting Raf." tegas Sofia. Momy Sofia memang tak berlebihan, yang dia bawakan adalah barang pribadi Rafael yang awalnya ingin ditinggalkan di rumah utama. Tapi Sofia tetap kukuh pada pendiriannya.
"Apa momy ingin mengusir kami?" Sofia mendelik kesal pada putranya. Orang tua mana yang tega mengusir anak-anaknya dari rumah?
"Mom...dad ..kami berangkat dulu." pamit Rafael pada kedua orang tuanya. Tapi alangkah terkejutnya pasangan muda itu saat mama dan papa mereka malah membuka pintu kemudi mobil lalu naik hampir bersamaan. Dilihat dari posisinya, dadylah yang akan jadi sopir mereka hari ini.
"Kalian...ingin mengantar kami?" Rafael memasang ekspresi bingung. Demikian pula Milea yang menenteng tas kerja suaminya.
"Tentu saja. Kami juga akan menginap disana." Lagi dan lagi Rafael terkejut mendengar jawaban santai dadynya yang terlihat amat serius seperti biasanya. Menginap? apa dadynya tak tau jika apartemen miliknya hanya punya dua kamar saja. Bagaimana mereka bisa menginap saat kamar satunya sudah dialih fungsikan sebagai ruang kerja? Ahh....Rafael jadi pusing karenanya.
"Apa ini tak berlebihan dad? Kami hanya akan pergi dan tinggal di apartemen."
"No. Dady akan tetap mengantar kalian." sepertinya Fernando sangat bersemangat hari itu. Rafa berlahan membuka pintu belakang, demikian pula Milea yang mengambil posisi disampingnya.
Beberapa menit berjalan, Rafael dibuat mengerutkan keningnya heran. Ini bukan jalan menuju apartemen miliknya. Apa dadynya lupa? tapi Nando bukan orang pikun apalagi bodoh. Dady tampannya itu sangat perfeksionis.
"Sepertinya kita salah jalan dad." Nando melirik dari kaca depan tanpa sahutan. Begitu pula momy Sofia. Tapi Nando tak mungkin salah karena di depan mereka mobil boks pengangkut barang masih bergerak lincah membelah jalanan. Merasa tak mendapat tanggapan, Rafa memilih menutup mulutnya rapat. Milea yang ada disampingnya malah lebih asyik memperhatikan deretan penjual makanan yang berjajar disepanjang jalan sambil sesekali menelan ludahnya. Sofia yang meliriknya dari kaca segera bertanya.
"Apa ada yang kau inginkan Milly?" sontak Milly menegakkan tubuhnya.
"Tidak momy." jawabnya terbata.
"Momy lihat kau memperhatikan gerobak sate dari tadi. Bahkan sudah beberapa kali kau mendekatkan kepala ke jendela." Milea melirik suaminya canggung. Dady Nando segera menghentikan kendraannya begitu Sofia memintanya menepi.
"Sekarang katakan apa yang kau inginkan Milly. Jangan menahannya." pinta sang ibu mertua amat lembut. Milea menelan ludahnya susah payah.
__ADS_1
"Aku ..aku ingin makan sate itu momy." akunya penuh rasa tak enak hati. Sofia menatap Fernando sekilas. Sang suami mengangkat bahunya. Yang mereka lewati adalah jalan satu arah. Jika ingin kembali maka mereka harus berputar dan itu terlalu jauh.
"Aku akan turun." putus Sofia tegas. Tapi lengannya buru-buru dicekal Fernando yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Masuk!!" perintahnya seperti biasa. Tegas dan penuh penekanan. Sofia urung membuka pintu mobil.
"Aku hanya akan berjalan beberapa meter saja hubby." jawab Sofia lemah. Dia tau Nando tak akan mengijinkannya berjalan sendirian.
"Nanti saja delivery order." tangan kekarnya terulur membenahi sabuk pengaman sang ratu hati penuh perhatian.
"Tapi saya mau yang itu tadi dad." entah dapat keberanian dari mana hingga Milea berani berkata atau lebih tepatnya merengek pada Fernando. Nando menarik nafas panjang.
"Raf, apa kau bersedia membelikannya untuk Milly?" Nando menatap putranya yang masih diam sedari tadi. Tapi belum sempat Rafael menjawab pertanyaan dadynya, Milea sudah membuka pintunya.
"Saya yang akan membelinya sendiri dad." dan gadis itu berlari kecil tanpa bisa dicegah. Sofia dan Nando hingga harus menahan nafas karenanya. Nando juga dengan sigap hendak menyusul menantunya karena khawatir. Tapi Rafael sudah lebih dulu keluar.
"Putramu sudah menyusul istrinya." Benar...Rafa sudah tak ada ditempatnya. Sofia bahkan menunjukkan pada Nando jika anak dan menantunya berjalan beriringan di trotoar menuju gerobak tadi.
"Ingat mas...ada suaminya. Kau hanya mertuanya." kekeh Sofia penuh kelucuan diikuti sang tuan besar yang menggelengkan kepalanya lucu.
Tak berapa lama, pengantin baru itu kembali dengan bungkusan penuh satu ditangan Milea.
"Kau...membelinya sebanyak itu Raf??" Sofia hingga terkejut melihat jumlahnya yang nyaris seratus tusuk.
"Bukan aku mom...tapi Milly. Aku bahkan tak membawa uang saat menyusulnya tadi." jawab Rafa lemah. Pada keluarga mereka memang jarang yang memegang uang cash. Maka tak heran jika Rafael juga tak membawanya.
"Rasanya enak mom...apa mom mau mencobanya?" tawar Milea.
"Makanlah Milly."
__ADS_1
"Tapi aku tak bisa menghabiskannya sendiri mom." Sofia dibuat geli oleh ulah menantunya itu. Kalau tak habis kenapa beli sebanyak itu? Padahal baik Rafa maupun dadynya pasti tak mau memakan makanan pinggir jalan. Hanya Sofialah yang mungkin mau.
"Baiklah. Nanti momy bantu menghabiskannya dirumah." hibur Sofia dihadiahi delikan marah Nando.
"Hubbby..makanan itu sehat. Jangan terlalu khawatir." Nando segera menjalankan mobilnya diikuti mobil pengawal yang sedari tadi mengikutinya hingga berbelok pada sebuah perumahan mewah di dekat kantor pusat Hutama grup.
"Apa dady hendak menemui seseorang?" Rafa yang sedari tadi bingung tak kuasa diam. Apalagi di depan sana, mobil boks mereka sudah masuk ke sebuah rumah megah yang lumayan luas dan berbeda dari sekitarnya.
"Kita akan ke rumah kalian nak." balas Sofia.
"Rumah kami?" ulang Rafa dan Milea hampir bersamaan tentu dengan ekspresi bingung yang makin menjadi. Mereka mau pindah ke apartemen karena ingin belajar mandiri juga saling mengerti bukan? kenapa malah di rumah besar ini?
"Ya. Ini rumah kalian. Mari turun." Fernando sudah lebih dulu keluar dari mobil diikuti istrinya. Hanya Rafa dan Milea yang masih saling pandang menetralisir ketekejutan mereka.
"Dad...kenapa harus rumah sebesar ini?" keluh Rafa. Pikirannya terus berputar manakala memikirkan Milea yang akan tinggal sendiri saat dirinya pergi bekerja. Pasti istrinya akan kesepian. Meski tak seluas dan sebesar kediaman Hutama, tapi rumah itu juga terlalu besar untuk ditinggali berdua saja.
"Kalian memerlukan rumah Raf."
"Dady...kami hanya berdua saja. Tidakkah semuanya terlalu berlebihan?" Sofia mendekat.
"Kalian akan tinggal bertiga, berempat, berlima atau berenam nantinya. Jadi jangan banyak protes Raf." nasihat Sofia lirih.
"Dan dady juga tidak ingin calon cucu dady tinggal di apartemen." tegas Nando membuat Rafael makin gelisah.
"Tapi itu masih lamakan dad...??"
"Tidak karena Milly mengandung anakmu. Calon penerus Hutama." potong Nando cepat. Rafael terhenyak.
"Mengandung?????"
__ADS_1