
"Yura duduklah. Ikutlah sarapan bersama kami." pinta Sofia saat melihat Yura ingin pergi keluar bersamaan dengan datangnya Fernando yang sudah mengambil duduk di ujung meja. Milea melirik sang asisten tajam. Bersamaan dengan Yura yang juga meliriknya.
"Saya akan sarapan di dapur nyonya besar." jawab Yura sopan.
"Kenapa di dapur? duduklah dan ikut sarapan bersama kami." pinta Sofia untuk kedua kalinya. Tapi Yura masih terlihat sungkan dan rikuh.
"Duduklah. Ini perintah!" tegas Fernando seraya menatap Yura datar. Sontak gadis itu menunduk patuh lalu menyeret salah satu kursi di samping Richard yang bersikap tak mau tau. Milea menatap Yura tajam. Sepertinya peperangan akan segera dimulai. Sarapan pagi itu berlangsung dalam keheningan.
"Raf." Panggil Nando usai makan. Para pelayan sudah merapikan meja, sementara yang lain masih duduk menikmati kopi atau teh mereka.
"Ya dad..." Rafael segera meletakkan cangkirnya, dadynya sedang bicara serius.
"Mulai hari ini dady sudah memutuskan agar kau jadi CEO tetap Hutama grup. Dady akan sangat sibuk mengurus bisnis opa beberapa bulan ke depan. Opa harus istirahat total. Dan kau Rich...bantu kakakmu. Jangan hanya ke kampus atau naik gunung saja. Kalian harus sama-sama belajar untuk jadi seorang pemimpin. Kelak kau juga harus mengurus perusahaan sendiri." tegur Nando. Namun Richard hanya diam lalu menundukkan kepalanya. Sungguh memimpin perusahaan dan jadi CEO sama sekali bukan impiannya. Tapi untuk mejawab dan mengecewakan dadynya...dia masih tak sanggup.
"Akan kucoba dad." balasnya kemudian. Nando menarik sudut bibirnya. Dia tau Richard sama sekali tak tertarik mengikuti perintahnya.
__ADS_1
"Baik, kau harus mulai dengan mengelola universitas milik keluarga kita, juga beberapa yayasan dibawah naungan Hutama grup." Richard duduk membeku.
"Tapi aku hanya ingin jadi dosen biasa dadm Biar kak Rafa saja yang bekerja."
"Waktumu bermain-main sudah usai tuan muda kedua. Sekarang waktunya bekerja. Keturunan Hutama akan tetap menduduki posisinya. Baik kau suka atau tidak suka." pungkas Nando dingin. Tentu saja semua jadi terdiam karenya. Mereka cukup tau jika sang tuan besar marah.
"Baik dad." jawab Richard patuh. Tak ada gunanya melawan. Selama ini dadynya itu sudah banyak mengalah dengan menuruti apapun kemauannya. Bukankah dia juga seorang anak yang harus membantu orang tuanya?
"Sayang, sebaiknya kau ke kamar dulu." Sofia yang melihat Richard menunduk sedih segera mengajak suaminya ke kamar. Jika dibiarkan tentu Fernando akan murka dan merusak suasana pagi mereka. Nando melirik istrinya sekilas lalu berdiri dari duduknya.
"Sayang aku harus malakukannya." sanggah Nando. Sofia segera memakaikan jas pada suaminya dan merapikan penampilannya. Diusia seperti sekarangpun Fernando terlihat makin mempesona.
"Apa kau...mengagumiku Sofia?" Tanya Nando lirih, namun bisa membuat wajah Sofia memerah.
"Aaahhh...sudah setua ini tapi kau masih bersikap malu-malu seperti pengantin baru heemmm." Nando yang gemas segera meraih dagu istrinya dan mendongakkan kepalanya. Benar...Sofia malu.
__ADS_1
"Kau terlihat sangat tampan hubby." Lirih Sofia yang dihadiahi kecupan singkat di bibirnya.
"Istriku ini juga terlihat cantik." puji Nando kemudian. Sofia menelusupkan wajahnya di dada suaminya.
"Anak-anak punya kehidupannya sendiri Hubby. Kita tak berhak selalu mengatur mereka."
"Tapi kita juga wajib mengarahkan mereka Sofia. Seperti meraba-raba jalan kehidupan, mereka juga butuh tuntunan kita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan."
"Aku tau." balas Sofia kemudian. Hutama grup memang butuh regenerasi lebih awal agar pewarisnya mendapatkan pelatihan yang cukup nantinya.
"Apa kau mau ke yayasan pagi ini?" Sofia bergidik.
"Sebenarnya tidak. Tapi sepertinya anak nakal itu butuh di dampingi. Maka aku akan berangkat bersamanya nanti."
"Ide bagus. Tapi kuharap kau akan di kantorku saat makan siang sayang." pinta Nando penuh permohonan. Sofia hingga terkekeh karena sikap manja suaminya itu.
__ADS_1
"Akan kuusahakan." balasnya singkat.