
"Dimana istriku Yura?" Yura yang berdiri di depan pintu segera menyahut.
"Saya sudah membawa nyonya muda ke kamarnya. Juga sudah memastikan dia baik-baik saja tuan muda." lapor sang asisten penuh kepatuhan. Rafael berjalan dengan langkah panjang ke lobi dan langsung menuju mobilnya. Disana seorang sopir telah siaga dan dengan sigap membukakan pintu untuk Rafael seraya menunduk hormat.
"Perintahkan empat pengawal menjaga kamar ku. Jangan biarkan mereka meninggalkan istriku sebelum aku datang." Perintahnya. Sigap, dua pengawal yang masih berdiri di dekat mobil berlari kecil memasuki hotel kembali tanpa diperintah. Hanya dua orang yang menjaga Milea tadi. Empat lainnya segera masuk ke mobil lain dan membuntuti mobil yang membawa Rafa dan Yura ke proyek dan pabrik yang masuk daftar tinjauan.
"Kita tidak membawa nyonya muda tuan?" Yura bertanya dengan sangat hati-hati dari jok depan tanpa menolehkan kepalanya.
"Tidak. Biarkan istriku istirahat di kamarnya saja. Besok dia harus ke rumah sakit milik momy." sahut Rafael mutlak. Yura diam, sesekali pandangannya mengarah ke jalanan di depan mereka yang lumayan lancar hingga mereka bisa sampai tepat waktu dan meninjau dua tempat itu dalam waktu yang relatif lebih cepat dari yang di jadwalkan.
Pukul tiga siang mereka sudah kembali lagi ke hotel. Sama seperti saat berangkat, Rafael juga berjalan dengan langkah lebarnya menuju lift yang akan membawanya naik ke lantai lima tempat kamarnya berada. Untung saja Yura adalah jenis asisten semi militer dengan pendidikan khusus hingga tak merasa kewalahan mengikuti bos kebuleannya.
"Tuan Winata baru menelepon. Dia ingin berjumpa dengan anda di acara gala dinnernya nanti malam." Rafa yang hampir sampai di dekat kamarnya berbalik.
"Siapa dia hingga berani memerintahku? Katakan aku tak akan datang. Satu lagi, hancurkan perusahaan mereka hari ini juga!" Yura tercengang mendengar perintah tuan mudanya. Rafael yang dia kenal lembut, santun dan sabar sudah menghilang. Yang tersisa adalah Rafael sang pewaris Hutama yang punya sisi Arogan seorang Fernando. Wajah malaikat berhati iblis. Sisi mengerikan yang bahkan sangat jarang nampak. Tapi siapa yang bisa menghentikannya? Fernando mungkin akan takhluk di bawah Sofia, tapi jangan menyepelekan sang singa jika Sofia yang dia cintai menyakitinya. Membayangkannya saja sudah membuat Yura bergidik ngeri.
"Paman Alex akan mengirimkan beberapa file padamu. Bekerjalah dengan baik Ayura Moraimma!" Yura segera membungkukkan tubuhnya hingga Rafael masuk ke kamarnya. Apa tadi?? Sekretaris Alex?? Jika sekretaris utama Hutama grup sudah mengirimkan file penghancuran itu artinya Fernando satria hutama juga sudah menyetujui perintah putranya. Itu juga berarti jika Yura harus segera bertindak seperti perintah Rafael. Entah kenapa jiwa pejuangnya meronta. Yura segera memberi isyarat pada dua pegawal tadi untuk mengikutinya, menyisakan dua yang lain disana. Dia butuh tenaga mereka.
Rafael membuka pintu kamarnya. Tatapannya menelisik semua ruangan tapi tak menemukan Milea. Tak ada siapapun disana, kamar mandi juga kosong. Kemana Milea?? hampir saja dia kembali untuk bertanya pada pengawalnya kala melihat tirai korden yang melambai ditiup angin.
__ADS_1
"Milly...bangunlah." Milea tertidur sambil duduk meringkuk di atas sofa. Saat membuka mata, istri kecilnya itu merangsak memeluk tubuhnya amat erat.
"Mas...apa yang dikatakannya tidak benar. Kami tak pernah pacaran. Dia yang mengejar-ngejar aku dan beberapa kali ingin mengajakku berkencan. Aku sudah menolaknya termasuk saat dia melamar pada papa. Kak Leon bahkan sudah pernah memukulinya karena terus berniat jahat padaku. Mas, aku akan menjelaskan semuanya." Milea terus memeluk tubuh Rafael hingga pria itu sesak nafas dan memutuskan mengajaknya masuk. Setidaknya tak akan ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Milly apa yang kau lakukan??!!!" Rafael megeratkaj rahangnya saat mendapati Milea sudah luruh dan bersimpuh di kakinya ketika dia usai menutul pintu balkon. Bukannya menjawab, wanita muda yang sudah jadi istrinya itu malah menangis dan terus memegangi kedua kakinya.
"Berdirilah Milly. Kau tak perlu melakukannya." Rafael yang jengah segera membantu Milly berdiri. Air matanya jatuh berderai.
"Makanlah dulu." Rafael mengajaknya mendekati meja. Terlihat dua menu makanan sama sekali tak disentuh oleh istrinya. Besar kemungkinan Milly tak makan sejak pagi. Membayangkannya saja sudah membuat Rafael geram.
"Mas aku...."
"Mas Rafa harus percaya padaku."
"Hmmmmm....."
"Ada berapa banyak Kelvin dalam hidupmu Milea?" Milly memilin ujung kaos rumahan yang dikenakanya. Dia bahkan tak pernah pacaran. Jadi apa maksud pertanyaan suaminya?
"A...aku...aku tak tau maksud mas Rafa." sahutnya tergagap.
__ADS_1
"Mereka fansmu bukan?"
"Tapi aku mengagumi pak Richard saat kak Kelvin mengejarku mas. Yang kusukai bukan dia."
"Kau menyukai Richard? Begitu maksudmu?" Habislah sudah dirinya. Bak makan buah simalakama dijawab salah, tak dijawab juga salah. Baru kemarin mereka salah paham soal Richard, lalu kenapa sekarang balik lagi ke Richard??
"Itu dulu. Sekarang yang kusukai adalah kau. Yang kucintai juga kau!!" pekik Milea sambil kembali menangis. Kepanikan sudah menyerangnya. Tak ada yang bisa dia lakukan selain menangis meruntuki nasibnya yang bisa dibilang sial hari itu. Andai dia tak bertemu Kelvin hari itu, tentu dia dan Rafa masih baik-baik saja.
"Benarkah?" Rafael menyetuh dagunya, sedikit memaksa Milea menatap wajah tampannya yang membuat siapapun tergila-gila.
"Semua yang kukatakan benar mas. Aku tidak sedang berbohong sekarang. Tolong jangan terus mengungkit perasaanku pada Rich diwaktu lampau. Aku takut kehilangan kamu." Dan tanpa aba-aba, sebuah kecupan sudah mendarat di bibir manis Milea.
"Aku tau Milly." kata Rafael diatas bibirnya lalu kembali ******* bibirnya penuh perasaan hingga Milea terhanyut.
"Mas percaya padaku kan?" Rafael yang baru saja melepaskan tautan bibirnya menatap teduh istrinya.
"Kau istriku, maka yang kupercaya adalah dirimu. Milly...aku yang sudah membuatmu tak gadis lagi hari itu. Gestur tubuhmu juga tak memperlihatkan jika kau pernah pacaran dan dekat dengan pria selain aku. Ingat...aku juga tau Leon tak akan membiarkan adiknya bergaul sembarangan. Kelak jika terjadi sesuatu pada rumah tangga kita maka orang yang harus kau percaya adalah suamimu, sama seperti aku yang mempercayaimu." Milea terharu karena kata-kata manis sang suami. Pelan tapi pasti, dia kembali menjatuhkan tubuhnya memeluk raga hampir sempurna sang belahan jiwa.
"Terimakasih mas."
__ADS_1