Love You More, Husband

Love You More, Husband
Pistol


__ADS_3

"Apa kau senang sekarang?" Sofia menutup panggilan di ponselnya dengan senyum lebar. Pun pertanyaan suaminya terasa tak berarti hari itu. Bukannya tanpa dijawabpun pria sepintar Fernando akan tau jika dia sangat senang. Tak percuma dia mengusir sang putra dari rumah dan bersikap masa bodoh padanya. Nyatanya?? Ibu mana yang tak mengkhawatirkan anak-anaknya?


"Ya, Rafael sudah banyak berubah." Sofia memilih segera duduk di sisi suaminya yang barusan pulang dari kantor Hutama grup. Sesuai prediksi Sofia, Rich bukan sosok kompeten untuk diserahi tanggung jawab mengurus Hutama grup karena lebih mencintai dunianya sendiri. Sosok pemberontak yang diam-diam juga diidolakan sang ayah. Sekuat-kuatnya Fernando melawan orang tuanya, dia tak berani melangkah secepat Richard dalam melewati batasannya. Nando tetap berada di dunia bisnis layaknya Rafael sekarang, tak seperti Rich yang berani keluar dari lingkaran itu.


"Kau tak ingin mendengar kabar putramu yang lain?" Sofia terkekeh mendengarnya. Tentu saja dia ingin. Tapi orang kepercayaan Fernando belum melaporkan apa-apa selain putranya yang baru saja tiba di Singapura dan check in di hotel keluarga mereka bersama Yura dan Jose. Belum ada kabar lanjutan setelahnya. Tapi Sofia sedikit merasa tenang karena ada beberapa pengawal yang mengelilingi putra-putranya.


Ditempat berbeda, nun jauh disana...Seorang pria muda yang identik dengan Rafael versi gosong sedang berjalan tegap mengikuti seorang room boy yang membawa kopernya ke kamar VVIP diikuti gadis berwajag oriental yang dengan sabar menggandeng tangan kecil anak laki-laki menuju kamar lain disebelah Richard. Andai mereke berjalan beriringan, pasti orang akan mengira jika ketiganya adalah keluarga kecil yang bahagia.


"Pa, kenapa aku tak tidur bersama papa saja? Kenapa harus dengan tante ini?" tanya si bocah dengan aksen cadelnya. Si pria berbalik mendekati putranya lalu berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan si bocah.

__ADS_1


"Papa ada urusan dengan seseorang. Jose tidur saja di kamar tante Yura. Dia baby sitter yang akan menjagamu selama disini oke?" Si kecil Jose hanya memasang wajah cemberutnya sambil memandang Yura kesal.


"Aku membawamu kemari bukan untuk jadi asisten karena kita tak sedang bekerja, tapi sebagai baby sitter bagi Jose. Jaga dia dengan baik. Jika dia menangis atau kenapa-napa, maka aku tak akan mengampunimu." Ingin rasanya Yura mencakar wajah tampan yang sudah lama dia kagumi itu hingga berdarah-darah. Tapi semua urung terjadi kala mengingat sumpah setianya pada keluarga Hutama yang sudah menjadi pahlawan keluarganya. Yang bisa dia lakukan hanya mengangguk hormat hingga Rich menghilang dibalik pintu kamar VVIP nya. Seketika pandangannya beralih pada Jose kecil di depannya yang seperti melihatnya tidak suka. Yura menarik nafas panjang untuk melepaskan beban yang terasa berat di dadanya. Menghadapi hinaan dan cacian maupun kata-kata Rich yang tak enak di dengar dia bisa melaluinya. Tapi mengasuh anak? apa dia bisa?? dia tak pernah punya adik atau keponakan karena tinggal di asrama. Lingkup kehidupannya adalah wanita dan pria dengan basis semi militer. Bagaimana dia bisa mengasuh bocah? apalagi bocah itu sudah terlihat tak suka padanya. Bagaimana membujuknya? Ahhh...Yura serasa ingin meremas kepalanya karena sama sekali tak punya ide untuk mendekati Jose.


"Mau main tembak-tembakan?" tanyanya lesu. Pasti anak ini mirip papanya yang suka menyebalkan saat diajak bicara. Pasti tawarannya akan ditolak. Yura sudah menyiapkan dirinya saat wajah tampan pria kecil di depannya malah menatapnya dengan mata berbinar lalu mengangguk kuat. Bolehkah Yura merasa lega sekarang?


"Baiklah...ayo kita beli tembaknya dulu." Diluar dugaan Jose malah menggandeng tangannya dengan antusias hingga terkesan menariknya penuh semangat. Yura terpaksa menyuruh pengawalnya untuk memasukkan koper miliknya ke kamar lalu bergegas mengikuti Jose untuk turun ke lantai dasar. Yura melihat toko mainan besar tepat di depan hotel itu.


"Ohh hay Jose....bagaimana kabarmu?" tanyanya super ramah tapi hanya dibalas pelototan tak suka dari Jose yang langsung bersembunyi di belakang tubuh tegap Yura.

__ADS_1


"Selamat sore nona Paula. Senang berjumpa dengan anda." sapa Yura tapi diacuhkan oleh Paula.


"Dasar bocah. Sudah..bawa dia pergi! Lagian aku hanya butuh papanya, bukan anak idiot ini." Kata si wanita itu seraya beranjak pergi setelah mengibaskan rambutnya, centil. Hak sepatunya bahkan masih mematulkan bunyinya walau tubuhnya sudah menjauh dari sana.


"Ayo Jose." Ajak Yura menuntun Jose memasuki lift dengan pikiran berkecamuk. Mungkinkah Paula yang dimaksud Rich kemarin? Ahh...hati Yura terasa sakit. Pantas saja Jose diserahkan padanya agar Rich bisa bersenang-senang dengan si seksi itu sepuasnya. Lelaki mana yang tak tergoda pada wajah cantik dan ukuran dadanya yang...jumbo. Tak hanya dirinya, Milea saja pernah minder saat bertemu seorang Paula.


"Tante ....."


"Yura, namaku Yura. Bagaimana dengan dirimu? siapa nama panjangmu jagoan?" Jose mengerjab lucu. Terlihat sekali jika anak itu bangga dipanggil jagoan.

__ADS_1


"David Joseph Alansky." jawab si anak tegas. Yura mengacak rambutnya sayang. Ternyata Jose cukup ramah juga. Mereka bergegas keluar dari lift dan menyeberangi jalan raya menuju toko mainan. Yura membeli mainan berupa dua set pistol lalu memberikannya pada Jose yang tertawa girang sambil berkali-kali bergumam mengagumi mainan barunya. Hati Yura tersentuh, mungkinkah Jose tak pernah dibelikan mainan??


__ADS_2