Love You More, Husband

Love You More, Husband
Mencari


__ADS_3

Milea segera bangkit dari duduknya kala Rafael menyelesaikan sarapannya. Di pintu penghubung sekretaris Alex berdiri tegap menunggunya seraya memegang tas kerjanya. Kebiasaan yang selalu dia lakukan sejak menjadi sektetaris dadynya. Saat Fernando tak ada ditempatpun kebiasaan itu akan berlangsung pada penggantinya, yaitu Rafael sang putra sulung. Posisinya sebagai seorang paman sama sekali tak membuatnya kehilangan rasa hormat pada sang keponakan pada jam kerja.


"Selamat pagi tuan muda." sapanya, Rafa segera tersenyum dan membalas salamnya. Pria itu memang menuruni keramahan momynya pada siapapun.


"Selamat pagi juga uncle. Apa dady sudah mengirimkan tugas bagiku?" Alex mengangguk. Fernando memang selalu mengirimkan tugas pada putranya jika dia sedang tak ada di tempat. Alex, selain sebagai sekretaris, dia juga paman Rafa yang dipercaya penuh Fernando untuk membimbing putranya untuk menjadi pewaris Hutama grup nantinya.


"Sudah tuan muda. Saya akan membacakan jadwal anda di mobil nanti."


"Baiklah. Mari berangkat."


"Kak ..." Rafael yang hendak melangkah pergi berbalik lagi begitu mendengar panggilan Milea.

__ADS_1


"Ada apa?" Ini sudah siang. Para pelayan dan penjaga juga sudah berada kembali di rumah ini dengan formasi lengkap. Sudah tak ada alasan bagi Milea untuk takut bukan?


"Itu....." Milea mengulurkan tangan kanannya, ragu. Rafa yang melihatnya segera mengeluarkan dompet dari saku celana bahannya lalu menarik sebuah card dan menyerahkannya pada Milea yang tentu saja menatapnya dalam kebingungan.


"Maafkan aku yang melupakan kewajibanku. Pakailah ini, pinnya akan ku kirim ke ponselmu nanti." Rafa begitu gemas karena istrinya yang tak menjawab dan malah memasang wajah tak terbacanya. Segera dia meraih tangan Milly dan menyerahkan card itu padanya.


"Bukan! aku hanya ingin.....salaman." ujar Milea lirih diakhir kata. Rafa sedikit menundukkan kepalanya, mengulum senyum lucu mentertawakan dirinya sendiri yang mungkin terlalu sensi pagi itu. Dia yang terlalu terbawa perasaan akan suatu hak dan kewajiban malah melupakan segalanya dengan menganggap menengadahkan tangan sebagai bentuk permintaan uang dari Milea. Rafael segera mengulurkan tangannya. Milly juga segera menyambutnya. Entah perasaan apa yang dirasakan Rafael saat jemari itu menyentuhnya, juga saat bibir lembut Milly mengecupnya. Sesaat dia terpaku.


Rafael segera menuju mobilnya karena Alex sudah menunggunya di halaman. Seorang sopir membukakakan pintu untuknya. Rafael segera masuk diikuti Alex yang mengambil tempat di sisinya. Hal yang tak lazim dia lakukan saat bersama Nando. Namun karena kapasitasnya saat ini adalah sebagai sekretaris sekaligus pembimbing bagi Rafael, maka dia merasa perlu melakukannya.


"Jadwal anda pagi ini adalah meeting dengan yenstar production, dilanjutkan dengan rapat bulanan Hutama grup dan di tutup dengan acara amal di yayasan peduli anak milik Hutama grup dan jika anda berkenan maka ada undangan Lieyen grup untuk makan malam di acara ulang tahun perusahaan mereka." Alex segera membacakan jadwal Rafa hari itu. Rafael mengangguk-angukkan kepalanya seraya memfokuskan pandangannya ke jalan raya.

__ADS_1


"Tuan muda...."


"Ya uncle." Saat Rafa menoleh, sekretaris Alex juga balas menatapnya seksama. Dari sikapnya Rafa tau ada hal yang akan disampaikan Alex padanya.


"Tadi tuan Fernando menelepon saya agar tuan muda segera mencari asisten pribadi. Saya mungkin bisa membantu anda di kantor, tapi tidak bisa mengurus keperluan anda di luar itu. Tuan Nando tau itu sebenarnya adalah juga tugas istri anda. Tapi mengingat hubungan kalian yang berada ditanda koma, maka tuan Nando memutuskan mencarikan anda asisten pribadi." Rafael terdiam. Yang Alex katakan itu benar. Dia butuh asisten karena pekerjaannya yang menumpuk dan tentu saja butuh seseorang untuk membantunya selain sekretaris Alex. Ahh...alangkah beruntungnya dadynya karena memiliki Alex yang merangkap sebagi sekretaris juga asisten pribadinya. Hal yang tak bisa Alex lakukan karena saat ini Nando belum turun tahta.


"Kalau begitu lakukan perintah dady." Siapapun tau jika Rafa bukan tipe pembangkang seperti Richard. Pria ini lebih lembut dan penurut pada perintah orang tuanya. Bersikap manis dan jarang membantah.


"Apa anda punya kriteria khusus?" Rafa menggeleng.


"Aku menyerahkan semuanya pada uncle yang tentu lebih mengerti soal semua itu."

__ADS_1


"Baik tuan muda. Hari ini saya akan mencarikan kandidat yang tepat untuk anda." Alex memang tak pernah main-main dengan keputusan dan pilihannya. Rafael cukup tau jika pilihan Alex adalah juga pilihan dadynya. Bisa dikatakan dua orang itu punya pikiran yang sama. Selanjutnya mereka hanya diam disepanjang perjalanan menuju kantor hingga tiba di lobi. Rafa bergegas turun dan masuk ke kantor milik keluarganya. Beberapa karyawan yangkm kebetulan berpapasan segera memberi hormat padanya.


__ADS_2