
Yura kembali mengetuk pintu ruangan CEO Hutama grup yang baru. Pada hitungan ketiga, dia membuka pintu lalu menundukkan kepalanya, memberi hormat sebelum masuk dan mendekati meja.
"Duduk." perintah Rich tanpa menatapnya. Yura segera duduk dengan gestur tegas bak seorang bodyguard wanita. Tugas yang dia emban memang mengharuskan dia bersikap demikian.
"Kerjakan laporan ini. Aku ingin secepatnya selesai. Dua jam dari sekarang jika kau tak bisa menyelesaikannya, maka pintu perusahaan Hutama ada disana, silahkan resign." Aura dingin menyelimuti sosok Richard yang mengulurkan tumpukan berkas yang tak main-main banyaknya. Yura hingga terhenyak sesaat menatapnya.
"Ini bukan tugas saya tuan muda. Sekretaris Liam akan lebih paham karena ini tugasnya. Saya hanya asisten anda. Tugas saya hanya mengawal dan menyiapkan kebutuhan anda, bukan mengerjakan tugas kantor." Sahut gadis itu tegas. Jari Rich mengepal. Tak biasanya Yura berani melawan perintah pemimpin Hutama grup.
"Aku bukan anak kecil yang perlu kau siapkan kebutuhannya, juga kau jaga. Jadi mulai sekarang, kerjakan yang kuperintahkan." Lanjut Rich dengan ekspresi dingin.
__ADS_1
"Saya bekerja atas rekomendasi tuan besar Fernando tuan muda. Jadi saya akan mengerjakan tugas yang beliau berikan." Kalimat padat yang terdengar menusuk hati Rafael yang langsung tersenyum kecut saat mendengarnya.
"Bilang saja kau tak bisa. kuliah di universitas besar karena belas kasih ayah ibuku, tugas begini saja kau tak bisa, tapi masih bergaya memakai baju perlente seolah kau berarti bagi perusahaan. Orang tuamu saja tau balas budi, tapi kau???bagaimana kau bisa membalas budi pada orang tuaku hemm??" Yura masih terdiam, menatap datar Richard Hutama tanpa rasa takut. Dia bukannya tak bisa, tapi mengerjakan pekerjaan itu dalam dua jam...seorang Alex yang sekretaris senior saja tak akan sanggup, apalagi dirinya. Rich pasti mencari celah untuk menyingkirkannya.
"Saya akan mengerjakannya." balasnya singkat, meraih tumpukan berkas itu dari meja Rich lalu bermaksud membawanya pergi ke ruangannya.
"Mau kemana? Kerjakan disini." Yura hampir saja mengeram kesal karena perintah yang menurutnya tak masuk akal itu. Tapi dia sadar diri. Mereka sedang ada di kantor. Kewajibannya adalah menuruti perintah atasan suka atau tak suka. Apalagi Rich mengungkit soal balas budi tadi. Rich benar...dia dan keluarga Moraima amat berhutang budi pada keluarga Hutama. Yura harus menekan perasaannya. Dengan cekatan, putri bungsu Moraima itu meraih laptop yang disodorkan Rich lalu mulai mengerjakan laporannya. Tak peduli jika di depannya, Rich menatap lekat padanya seolah dia seorang buronan yang tertangkap polisi. Yura hanya ingin membuktikan jika dia bisa memegang amanah seorang Fernando untuk bekerja dan mengawasi putranya. Ya, Yura harus bisa menunjukkan jika di pantas dan lebih baik dari Rich walau dia seorang CEO sekarang.
"Minum obatnya sekalian mas." Katanya sambil mengulurkan dua butir tablet pada Rafael yang selesai mencuci tangannya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku minum dirumah saja. Obat itu menyebabkan kantuk." Milly lupa jika kebanyakan obat alergi memang menyebakan kantuk. Tanpa bersuara dia memasukkan kembali obat itu.
"Hmmm...tapi jika kau ingin aku minum maka aku akan meminumnya." Milly tersentak saat jemari besar dan kokoh Rafael sudah meremas lembut tangannya yang memegang bungkusan obat dari rumah.
"Engg....sebaiknya nanti saja mas. Aku bahkan lupa jika kau masih harus bekerja hingga jam empat nanti." Sahut Milea tak enak hati. Ngomong-ngomong kenapa akhir-akhir ini Rafa begitu lembut dan perhatian padanya? Milly juga merasakan banyak perubahan pada diri suaminya.
"Aku tak ingin tidur malam ini." bisik Rafael sensual di dekat telinganya. Entah sejak kapan pria itu sudah memeluknya dari belakang. Tangannya juga sudah bergerak nakal menggerayangi tubuh Milea juga meremas bukit kembarnya lembut. Hampir saja Milea melenguh karenanya, apalagi saat Rafael sudah menyingkapkan kerudungnya dan mencumbui lehernya, Milly tak kuasa bertahan hingga sebuah ******* lolos dari bibirnya.
"Sayang...apa masa mestruasimu sudah berakhir?" tanya Rafael dengan suara serak penuh nafsu. Tangannya bahkan sudah berpindah mengelus pangkal paha Milea yang mengenakan celana soft jeans model pensil yang mencetak lekuk tubuhnya.
__ADS_1
"Be..belum mas..." jawab Milea terbata karena kesulitan menghadapi serangan Rafael yang bisa dibilang liar siang itu. Rafael mendengus kecewa saat meraba dan merasakan ketebalan pembalut yang dipakai istrinya. Tubuhnya berangsur melemas meski tak melepaskan pelukannya. Berlahan dia kembali menurunkan jilbab istrinya lalu mencuri ciuman ringan di pipi kanan Milea. Si tampan keluarga Hutama itu bahkan sudah menaruh dagunya di pundak Milea dengan mesra.
"Tak apa, aku akan bersabar menunggunya."