
Milea menatap nanar suaminya yang berjalan gagah di lobi perusahaan Hutama grup. Disampingnya, Paula berusaha mengimbangi langkahnya yang sejenak terhenti karena menunggu mobil masing-masing. Sepertinya mereka akan keluar dari kantor.
Milea mengamati gestur Paula yang terlihat berulang kali mencondongkan tubuhnya pada Rafael. Wanita itu juga tak sungkan memajukan dada berukuran XXL miliknya dengan percaya diri di depan suaminya meski Rafa sama sekali tak pernah meliriknya. Sang tuan muda hanya menatap lurus wajahnya saat bercakap-cakap. Diam-diam Milea melirik dadanya. Perkataan Rafael terngiang kembali di telinganya. Tubuhnya rata dan tak ada menarik-manariknya. Andai posturnya seperti Paula, pasti Rafael akan tertarik padanya. Tapi naasnya, postur tubuhnya setali tiga uang dengan Yura yang berdiri dibelakang suaminya sambi membawa note booknya. Keduanya sama-sama rata walau tak bisa dikatakan demikian. Baik Milea maupun Yura sama-sama punya postur idela yang layak disebut langsing proporsional karena sama-sama pernah ikut club bela diri saat sekolah dulu. Bedanya, Yura sedikit lebih tinggi dari pada Yura yang cenderung mengikuti postur wanita luar negeri dengan wajah blasteran bule dan orientalnya.
Lagi dan lagi hati Milea dibuat meradang saat mobil perusahaan datang. Paula tampak sengaja menyenggol lengan Rafael dengan payudara jumbonya sebelum melangkah ke mobil merah terangnya. Pun Rafa sama sekali tak menghiraukannya. Secepatnya, pria itu juga masuk ke dalam mobilnya diikuti Yura yang duduk disamping sopir kantor. Mobil keduanya berjalan beriringan keluar dari area Hutama grup. Milly sama sekali tak berniat mengikuti mereka. Dia hanya ingin tau aktivitas suaminya setelah Yura mengirimkan jadwal hari ini padanya. Sudah dua hari ini mereka saling diam dan kembali pisah kamar. Mily juga banyak menghindar. Dia keluar kamar siang setelah Rafael berangkat dan akan mengurung dirinya saat Rafael pulang.
"Ke rumah sakit Lexa pak." perintahnya saat iringan mobil itu sudah jauh. Sopir taksi online itu segera memutar arah menuju tujuan yang disebutkan sang penumpangnya dengan patuh. Melaju dengan kecepatan sedang hingga berbelok dihalaman luasnya yang ramai. Logo rumah sakit khusus bedah plastik dan kecantikan itu terpampang saat Milea segera turun setelah membayar tarif beserta tipsnya. Langkahnya begitu mantap untuk memasukinya. Tekatnya sudah bulat.
🌺
🌺
"Ada laporan penarikan uang dalam jumlah besar dari rekening yang anda berikan untuk nyonya muda tuan." Rafael melirik Yura sesaat saat asistennya itu tiba-tiba mendekat. Hal yang biasa dia lakukan jika ada hal penting. Paula yang tadinya berjalan lebih dulu segera menghentikan langkahnya saat tau jika asisten cantik itu bicara sambil berbisik pada bosnya. Entah kenapa dia jadi curiga jika keduanya punya hubungan khusus.
__ADS_1
"Biarkan saja. Milly berhak menggunakannya." jawab Rafael tegas. Saat memberikan kartu itu pada Milea, dia sudah ikhlas jika Milly menggunakan ataupun menghabiskannya. Uang itu tak sebandinh dengan kehormatan Milea yang sudah dia renggut paksa.
"Tapi pengawal yang anda tugaskan bilang, nyonya muda sedang berada di rumah sakit bedah plastik Lexa tuan." jelas Yura lagi. Kening Rafael berkerut.
"Bedah plastik? Untuk apa Milea disana? Segera cari tau apa yang ingin dia lakukan Yura. Secepatnya kita akan menyusul Milea kesana." Yura segera mengirim pesan pada pengawal yang ditugaskan mengawasi Milea sembari berjalan lambat menyusul bosnya.
"Ada apa?" tanya Paula begitu mereka berada dalam jarak dekat. Mata birunya memincing, menyelidik.
"Bukan hal penting nona." potong Yura sebelum Rafael menjawab pertanyaan itu. Dari tadi dia sudah berusaha mencari celah agar bisa melapor pada Rafa saat ulat bulu itu terus menempel pada Rafael.
"Dia bawahanku La, ada hal pribadi yang dia laporkan padaku." Rafael berkata datar tanpa menoleh pada siapapun. Dia tak suka ada perdebatan, apalagi kaum wanita. Menyebalkan rasanya.
"Tapi tak seharusnya dia melaporkan hal diluar pekerjaan jika masih dalam jam kerja Rafael. Dia patut ditegur." kecam Paula tanpa perasaan. Rafael melirik jam tangan mahal yang dia kenakan lalu menunjukkannya pada Paula.
__ADS_1
"Ini sudah lewat lima menit dari jam kerja La, kuharap kau tau jika ini waktu istirahat. Dan ya..kurasa tinjauan kali ini sudah selesai. Aku harus kembali ke kantor." Paula berubah kesal saat melihat Rafael malah membela asistennya yang menurutnya terlalu cantik walau Milea jauh lebih manis dari pada wajah kaku Yura.Tapi untuk ukuran asisten...Yura termasuk kategori meresahkan.
"Raf..tunggu!!" Rafael dengan gesit menghindar saat Paula berusaha memegang tangannya. Netra coklatnya menajam. Dia tak suka disentuh sembarang wanita. Saat mereka pacaran saja Rafa hanya berpegangan tangan, apalagi sekarang saat sudah jadi mantan.
"Ini sudah waktu makan siangkan? Kita mampir resto favorit kita dulu yuk. Aku kangen ingin makan disana." Yura seperti mau muntah saat mendengar perkataan manis Paula yang terkesan dibuat-buat.
"Maaf La, aku sudah menikah. Milea pasti sudah menungguku di kantor untuk makan siang bersama. Permisi." Belum sempat menjawab, Rafael sudah menjauh dengan langkah lebar diikuti Yura yang tersenyum puas dibelakangnya. Dia tau Rafael berbohong soal makan siang dengan Milea karena Yura tau Milea tak pernah menyusul suaminya ke kantor. Tapi sungguh...Yura dibuat kagum pada sosok majikannya juga teman masa kecilnya itu.
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Yura saat keduanya sudah berada di dekat mobil. Rafael segera masuk dan menutup pintu sendiri.
"Nyonya muda bermaksud melakukan operasi pemasangan implan pada payudara dan pinggulnya tuan." lapornya membuat Rafael terhenyak.
"Perintahkan agar pengawal mencegah Milea melakukannya. Pak, cepat ke Lexa hospital." Sopir segera tancap gas setelah mendengar perintah Rafael senada dengan Yura yang langsung menelepon seseorang.
__ADS_1
"Milea apa yang kau lakukan?? Kau tak memikirkan bayi kita??" desis Rafael penuh kemarahan. Tangannya bahkan hingga mengepal kuat karenanya.