
Fernando mengeram kesal saat melihat putra sulungnya masih setia menatap momynya penuh permohonan. Sudah jam sepuluh malam, tapi pria muda duplikat dirinya itu masih tak bergeming dari tempatnya. Bagaimana Nando tak kesal? Rafael datang mengganggu saat dirinya dan Sofia sudah hampir menuju puncak. Bisa dibayangkan bukan petapa kepala atas bawah tuan besar Hutama itu mau pecah rasanya.
Sofia sudah kehilangan kata-kata untuk menjelaskan pada Raffael jika permintaannya itu salah. Ibu mana yang tidak trenyuh saat putra kesayangannya bersimpuh di kakinya untuk memohon agar istrinya diberi obat penunda menstruasi saat Milea baru saja kehilangan rasa nyeri saat mengeluarkannya. Bisa saja Sofia menundanya, tapi tak akan baik untuk kesehatan Milea. Hal yang harus dia pikirkan untuk masa depan menantunya juga karena cukup bahaya di dunia medis. Tapi mengabaikan putranya? Nyoya besar Hutama itu juga tak tega. Seumur hidup baru kali ini Rafael meminta sesuatu padanya hingga memohon, tapi dia tak bisa mengabulkannya. Permohonan aneh agar dia bisa memberi nafkah batin pada istrinya sebelum genap tiga bulan mereka menikah. Hal aneh yang membuatnya geli sekaligus kesal. Rafael sama sekali tak pernah memohon agar bisa kembali jadi CEO ataupun jadi ahli waris Hutama saat diusir dari rumah, tapi sampai berlutut memeluk kakinya hanya untuk hal kecil yang harusnya bisa diatasi dengan mudah.
"Bangun Raf." pinta Sofia dengan nada tegas. Tapi putranya tetap diam dan menatapnya. Lagi dan lagi Fernando dibuat kesal karenanya. Kepalanya berdenyut.
"Momy...aku tidak keberatan jika setelah ini momy dan dady mengusirku. Aku tak akan pernah kembali dan menghilang dari kehidupan kalian. Aku sama sekali tak ingin apa-apa dari kalian. Tapi tolong momy..aku tak bisa menerima jika harus terpisah dari Milly." Sofia berjongkok, menyamakan dirinya dengan Rafael lalu membelai kepalanya penuh kasih sayang. Sudut matanya berair.
"Maafkan momy Raf. Momy tidak bisa melakukannya." mungkin ini sudah ketiga kalinya Sofia menjawab hal yang sama. Tapi anehnya, Rafael tetap tak mengerti. Lebih tepatnya tak ingin mengerti. Sifat keras kepala yang menurun darinya dengan sangat sempurna. Apa tadi? menghilang dan tak kembali? dia yakin Fernandopun akan menangis dalam hati saat mendengarnya. Bagaimanapun Rafael adalah anak yang manis dan penurut dimata mereka.
"Berdiri dan dengarkan momy." Rafael seperti terdihir pada kata-kata momynya yang sudah meraih bahunya agar berdiri. Sofia menuntun putranya hingga duduk di sofa besar diantara dirinya dan Fernando.
"Menghentikan menstruasi sangat berbahaya untuk Milly. Semakin dihentikan dia akan makin sakit dibulan berikutnya. Lagipula darah haid harus keluar karena merupakan leburan dinding rahim. Momy hanya bisa memberikan obat pelancar agar masa haidnya bisa segera usai. Tapi momy tidak bisa menjamin kapan bisa selesainya. Siklus haid seseorang berbeda-beda Raf." Rafael hanya diam mendengar penjelasan momynya. Mana dia tau masalah wanita seperti itu. Dia dibesarkan dalam lingkungan yang masih banyak rasio pria dari pada wanita. Lagi pula momynya juga tak pernah mengeluh soal itu.
"Rasanya besok kau harus pergi ke pesantren." ucap Fernando tegas. Rasa pusing yang menderanya sudah berubah menjadi iba dan trenyuh kala melihat interaksi anak dan istrinya. Apa ada ibu seperti Sofia? Ibu yang menempatkan posisinya dengan sangat baik. Rasanya dia harus banyak bersyukur karena menikahinya bertahun lalu. Jika dia memilih wanita yang salah, Nando yakin dia tak akan sebahagia ini sekarang. Sofia bersikap tegas saat anak-anaknya melakukan kesalahan, tapi juga memeluk mereka saat berada dalam kesedihan. Wanita yang kuat seperti Fransiska, ibunya.
"Pesantren? untuk apa dad?" Fernando menghela nafas jengah. Itu salahnya karena Rafa belajar setengah-setengah dan menghabiskan masa tumbuh kembangnya di London.
__ADS_1
"Setidaknya agar kau tau jika talak tidak bisa jatuh begitu mudah hingga membuatmu panik seperti anak ayam yang kehilangan induknya." ucapnya mencemooh.
"Itu karena dady sudah berpengalaman karena sudah menjatuhkan talak pada momy." celetuk Rafael yang lagi-lagi membuatnya kesal. Tapi sejujurnya yang dikatakan Rafael adalah benar. Dia tau hukum pernikahan dab talak juga karena pernah menjatuhkan talak pada Sofia dimasa lalu. Hal yang sangat dia sesali hingga sekarang.
"Hubby sudahlah...semua sudah berlalu." Fernando tersenyum tipis saat suara lembut itu menyadarkan ingatannya tentang masa lalu. Rasa syukur itu kembali terucap. Kalau saja dia terlambat sedikit saja, maka ratu hatinya itu mungkin tak lagi bisa duduk disampingnya sekarang.
"Raf...jangan berkata begitu pada dadymu. Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, sama seperti dirimu yang sekarang. Manusia hanya perlu belajar dari kesalahan itu agar bisa bangkit kembali dan memperbaikinya." nasihan Sofia bijak hingga Rafa langsung mengucapkan kata maaf pada sang ayah. Keluarga mereka terlalu bahagia untuk mengenang kesalahan kecil dimasa lalu bukan?
"Jangan pernah mengikuti jejak dady Raf. Tapi satu hal yang harus kau tau...talak tak akan langsung jatuh hanya karena kau tak memberi nafkah lahir ataupun batin pada istrimu dalam kurun tiga bulan. Islam hanya mewajibkan seorang suami untuk memberi nafkah semampunya sesuai rejeki yang Allah berikan. Begitu pula dengan nafkah batin. Tak akan menjadi talak jika Milly ridho dengan semuanya."
"Tapi tadi Milly mengungkitnya dad. Sambil menangis pula. Bukanya itu berarti Milly tak ridho?" Nando hanya tersenyum tipis mendengar kata-kata anaknya yang mirip rengekan seorang bocah pada orang tuanya. Ahhh..si sulung ini cepat sekali tumbuh dewasa, tapi kadang juga manja seperti anak kecil padanya juga momynya. Bisa hancur nama keluarga besar Hutama jika tau penerusnya bersikap begitu behind the scene.🤣🤣
"Dadymu benar. Tanyakan baik-baik pada Milly. Momy yakin dia wanita yang tak akan banyak menuntut. Buah akan jatuh tak jauh dari pohonnya. Momy yakin itu. Sekarang pulanglah. Istrimu pasti menunggumu. Suruh Milly meminumnya pagi dan sore. Banyak-banyak minum air putih agar tak dehidrasi, perhatikan gizi dalam makanannya. Semoga sudah selesai sebelum empat hari." Rafael tersenyum sumringah saat menerima obat dari momy cantiknya sampai memeluk dan mencium pipinya. Tentu saja dihadiahi delikan marah dari Fernando yang tak menyukai siapapun mencium istrinya termasuk anak-anaknya setelah beranjak dewasa. Pria yang beranjak tua itu makin posesif saja pada istrinya. Rafael yang mengetahui kemarahan dadynya bergegas memeluk pria itu dan melakukan toast layaknya sahabat lalu pamit pulang setelah mengucap salam.
"Kenapa tak sekalian kau beri putramu itu obat kuat?" ujar Fernando yang masih dalam mode kesal pada istrinya.
"Apa itu perlu? Aku yakin Rafael akan punya stamina seperti dirimu dimasa muda. Kau bahkan tak membutuhkan itu diusia sekarang hubby." Lagi...pipi Sofia merona saat mengatakannya. Hal yang selalu membuat Fernando gemas dan langsung menariknya dalam pelukan, menghadiahi wanitanya ciuman panjang hingga tersengal kehabisan nafas.
__ADS_1
"Aku tidak ingin kau berpaling pada pria lain." bisiknya dalam deru nafas yang terasa berat.
"Bukannya aku yang harusnya berkata begitu hubby?" Balas Sofia seraya mengelus dagu suaminya.
"Aku takut kehilanganmu sayang."
"Aku tak akan kemana-mana sebelum izrail menjemput. Hmmm....ngomong-ngomong, apa kau tak ingin membantu putra kesayangmu menempati posisinya kembali hubby?" Nando mencium jemari istrinya penuh kelembutan.
"Tidak untuk sekarang. Aku sudah mendirikan Luxio saat seusianya. Aku juga ingin Rafael melakukan hal yang sama, atau mungkin lebih. Kita cukup memantau dan membantunya dibelakang layar seperti dady Teguh dimasa lalu sayang."
"Tapi Hutama grup tak akan aman ditangan Rich hubby. Anak itu terlalu suka berkelana hingga membuatmu terus sibuk diluaran." sungut Sofia kesal. Bagaimana tidak? sejak Rafael berhenti jadi CEO Hutama grup di gantikan Richard, Fernando selalu sibuk karena Rich masih melakukan hobi lamanya dan hanya jadi CEO diatas kertas. Dasar si bungsu yang berjiwa pemberontak dan suka kebebasan.
"Suatu saat nanti Rich pasti akan berubah. Dia putraku Sofia, dia akan jadi seperti aku dan Rafael nantinya. Biarkan dia menikmati dunianya. Melihat Rich juga membuatku bahagia, dia melakukan hal yang tak bisa aku atau Rafael lakukan. Anggap saja putramu itu sedang mencari jati diri. Toh Yura ada disampingnya."
"Hmmmm baiklah. Tapi aku tak ingin kau terlalu banyak bekerja hubby. Bukannya kau merencanakan pesiun?" Nando tertawa lepas hingga Sofia berbinar menatapanya. Seiring waktu suaminya sudah banyak berubah menjadi pribadi yang hangat.
"Nanti setelah penerus Hutama lahir. Aku akan banyak berada dirumah membantumu merawat mereka."
__ADS_1
"Jose juga cucu kita hubby." Fernando terdiam. Sofia benar, Jose juga cucu mereka meski lahir diluar pernikahan. Tapi ada darah mereka yang mengalir disana. Bocah itu begitu patuh dan pintar hingga tak banyak menyusahkan mereka saat tinggal di kediaman Hutama.
"Aku tau. Biarkan dia tetap disini hingga berusia tujuh belas tahun nanti."