Love You More, Husband

Love You More, Husband
Orang tua


__ADS_3

Sofia menyambut suamimya di depan pintu saat mendengar suara mobil memasuki pagar dan mendekat ke teras rumah besar itu. Fernando segera menghampirinya saat melihat istrinya sudah berdiri menunggunya. Puluhan tahun bersama sama sekali tak merubah kebiasaan istrinya untuk selalu menyambut kedatangannya.


Sudah pukul sepuluh malam, namun Sofia masih telaten menunggunya. Istrinya itu pasti duduk di sofa favoritnya saat menunggu kepulangannya. Lihatlah, wanita itu masih seperti yang dulu...cantik dan terlihat smart. Jika ada yang berubah darinya, itu hanya karena faktor usia yang tentunya membuat a pedia jadi sosok kharismatik dan elegan. Tak salah jika bertahun lalu dia memilih sang dokter untuk mendampinginya. Sosok pengganti Fransisca dimasa depan benar-benar melekat sempurna pada dirinya.


"Kau belum tidur sayang?" tanya Nando seraya merangkul mesra istrinya masuk ke dalam rumah besar mereka. Suara langkah kaki merekapun terdengar jelas di keheningan rumah itu.


"Apa kau lupa jika aku tak bisa tidur tanpa dirimu hubby?" Nando terkekeh, dikecupnya kening sang istri sekilas. Sejak hamil putra kedua mereka sikap manja Sofia bisa dikatakan stagnan. Tak ada perubahan dari waktu ke waktu. Nando yang dulunya dingin jadi laki-laki bucin karena kemanjaan Sofia yang membuatnya merasa seperti muda kembali setiap detiknya.


"Mau kubikinkan sesuatu?" Nando menggeleng. Dia memilih mengajak istrinya masuk ke kamar mereka yang sekarang pindah ke lantai dasar. Kamar utama yang dua kali dipakai Sofia saat hamil dan punya baby kecil, malaikat kecil keluarga Hutama. Sofia dengan telaten membantu suaminya melepaskan jas dan pakaiannya, lalu menyiapkan setelan piyama tidur sebagai gantinya setelah Nando usai bersih-bersih nanti.


"Apa mereka sudah pulang?" Sofia menatap suaminya yang sedang berpakaian di depannya. Dada bidang dan bentuk tubuh itu tetap terlihat sempurna karena dia yang selalu menjaga pola makan sang suami. Bisa dikatakan Sofia total mengurus suami dan anak-anaknya walau sesekali tetap pergi ke rumah sakit milik keluarga mereka untuk menyibukkan diri dan mengusir jenuh yang kadang melanda.


Sejak anak-anak mereka beranjak dewasa, Nando sama sekali tak melarangnya ini itu temasuk bekerja seperti dulu. Entah bagaimana Sofia harus bersyukur memiliku suami penuh pengertian seperti Fernando. Pria itu begitu mengetahui apa yang dia inginkan dan butuhkan hingga mengijikannya kembali bekerja meski tak full time dirumah sakit besar keluaga mereka. Mengabdikan hidup untuk kemanusiaan seperti impiannya.


"Hmmm...lepas isya tadi mereka datang. Tapi...." Nando menatap istrinya, yang sudah lebih dulu duduk bersandar di kepala ranjang. Pria itu segera menyusul duduk disamping istrinya.

__ADS_1


"Apa ada masalah?" kalimat menggantung yang diucapkan Sofia tadi sudah memberinya isyarat jika semua tak sebaik harapan mereka.


"Milea minta pisah kamar."


"Tapi kenapa? Oke jika dia belum bisa membuka hati untuk Rafa, tapi pisah kamar juga bukan hal baik. Kita juga tak saling mencintai saat pertama kali menikah. Tapi aku juga tak minta pisah kamar bukan?" Sofia tersenyum kecut kala suaminya mengungkit awal pernikahan mereka yang penuh masalah.


"Ehmm..maafkan aku sayang." bisik Nando ditelinga kiri istrinya. Tangan besarnya mengenggam erat jemari halus istrinya, mengusap cincin kawin bertahtakan berlian yang dia berikan. Dia ataupun Sofia memang selalu terbawa suasana dengan penyesalan abadi yang mereka sesali satu sama lain.


"Kau tak salah hubby. Aku...aku hanya takut Rafa mengalami hal yang sama dengan kita. Kau mungkin kuat menghadapi aku karena aku tak berada disituasi Milea kini. Bisa dikatakan yang kucintai adalah kau seorang, bukan saudaramu. Kita hanya punya masalah berdua, bukan cinta segitiga yang ruwet seperti mereka."


"Kita akan mengirim Richard ke luar negeri. Ke momy atau mungkin ke Prancis mengikuti kak Karin."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" entah kenapa Nando akan merasa kalah jika disuruh menghadapi masalah keluarga. Sikap garang dan ketajamannya seakan tumpul jika tersandung masalah itu. Dia hanya terlatih berbisnis, mencari uang berlimpah yang anehnya sangat jarang dipakai oleh istrinya yang tetap dengan gaya sederhananya. Dia juga cenderung menyerahkan semua masalah diluar itu pada istrinya. Jika Sofia mengadu atau curhat padanya mungkin itu hanya akan membuat bebannya sedikit berkurang karena pada akhirnya dia akan menuruti apapun keputusan sang istri. Cinta memang sudah merubah dirinya, juga membutakan hatinya.


"Kita akan membuat Milea sadar jika Rafa adalah yang terbaik baginya."

__ADS_1


"Apa dulu ada yang membantumu menyadari jika aku adalah yang terbaik bagimu?" goda Nando seraya menciumi telinga istrinya.


"Ehmmm...itu tidak perlu."


"kenapa?"


"Karena dari awal aku sudah mencintaimu. Bahkan sejak pertama kali kita bertemu." Sekarang Nando dibuat gemas oleh pipi istrinya yang berubah merah saat mengucapkannya. Sudah puluhan tahun menikah, tapi pipi itu tetap memerah dan menggemaskan. Diraihnya wajah sang istri lalu dilabuhkannya ciuman mesra di kedua pipinya.


"Sekarang aku tau apa yang membuatku tak tertarik dengan wanita lain selain dirimu sayang. ..sikap malu-malu kucingmu. Kau sangat cantik."


"Kau juga...sangat tampan hubby. Bahkan kau pria paling tampan yang pernah kutemui." Sofia menelusupkan wajahnya di dada suaminya, mencari kehangatan disana.


"Apa keputusanku menyuruh mereka tinggal disini sudah tepat hubby?"


"Seperti yang kau katakan, mereka butuh kita. Terutama kamu momynya yang selalu memantau kita. Kau tau bukan, jika aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu dan anak-anak kita nanti?" Sofia mengangguk. Tanpa dikatakanpun dia amat tau jika Nando adalah suami dan sosok ayah terbaik untuk mereka.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu hubby." lirih Sofia dihadiahi pagutan lembut oleh sang suami.


"Mee too honey."


__ADS_2