Love You More, Husband

Love You More, Husband
Sendiri


__ADS_3

Milea menatap nanar dua sejoli yang duduk berdampingan dipinggir kolam renang di kediaman Hutama yang berada tepat diseberang jendela kamar Rafael yang sekarang dia tempati. Suaminya mencelupkan sebagian kakinya ke kolam, nyaris sama sepert yang dilakukan Naura dismpingnya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi baik Rafa ataupun Naura terlihat amat serius dalam pembicaraannya.


Ponselnya tiba-tiba berbunyi, menampilkan nama Leon disana. Dalam hati Milea bertanya, untuk apa Leon menghubunginya? hatinya mulai terasa ressh, takut terjadi sesuatu pada orang tuanya dirumah karena sejak kejadian tempo hari Leon sama sekali tak pernah menghubunginya atau menanyakan kabarnya. Ada apa dengan Leon??


"Hallo kak...." suara Milea terdengar gamang. Ada ketakutan yang bercampur dari suara rendah itu hingga dia memilih meninggalkan jendela dan duduk di sofa kamar.


"Kau dimana?" tanya Leon tanpa basa-basi. Milea menegang.


"Di kamar." jawabnya singkat dan apa adanya.


"Kamar Rafael?" Leon kembali bertanya penuh selidik.


"Ya."


"Lalu Rafa?" keheningan seketika tercipta karena baik Leon ataupun Milea sama-sama menunggu.


"Dia di kolam." Milly memang tak pandai berbohong. Sejak kecil dia terlalu polos dan naif karena dibesarkan pada keluarga yang baik.


"Teruslah begitu Milea! Teruslah menjauhi Rafael!! apa kau tau..mungkin bulan depan kau sudah dipulangkan lagi ke rumah ini dengan status berbeda!" Ujar Leon ketus. Walau tak melihat wajahnya, Milly tau kakaknya marah.


"Dipulangkan? apa maksudmu kak?" Leon berdecih. Adiknya itu sebenarnya cerdas, tapi perasaannya pada Richardlah yang membuatnya bodoh.

__ADS_1


"Sekarang kukatakan satu hal padamu. Rafa akan menceraikanmu setelah hasil pemeriksaanmu negatif bulan depan. Dia menikahimu hanya karena ingin bertanggung jawab pada perbuatannya, jadi jangan merasa dirimu luar biasa karena bisa menikah dengannya. Om dan tante Hutama juga sudah menyetujui keinginan Rafael. Mereka tak akan memaksamu. Jadi Milea...kuucapkan selamat menjadi milyarder baru karena sebentar lagi kau akan mendapatkan harta gono-gini dari Rafael yang nilainya tak pernah kau bayangkan." Kepala Milea seperti dihantam godam besi mendengar penuturan kakaknya. Leon tak akan pernah membohonginya.


"Itu tidak akan terjadi!" pekik Milea dengan dada berdebar, nyaris jantungan.


"Apanya yang tidak akan terjadi? setelah itu jangankan mengejar Richard, melihatnyapun kau tak bisa. Keluarga Hutama tak akan menerimamu sebagai menantu keluarga mereka kembali meski kau sudah berusaha. kamipun tak akan selamat Milly. Well...teruslah begitu hingga kau puas menyakiti semua orang!" kali ini Milea sudah tak kuat lagi mendengakan perkataan sang kakak. Ponsel ditangannya terjatuh dengan deraian air mata yang tumpah ruah di pipi mulusnya.


Seketika tubuh itu bangkit, membuka pintu kamar lalu berlari cepat menuruni tangga. Milea bahkan lupa memakai alas kakinya karena tak dapat berpikir jernih. Tujuannya hanya satu...kolam renang tempat Rafa berada.


"Kak...aku ingin bicara." ucap Milea dengan mata sembabnya pada Rafa dan Naura yang masih duduk bersama.


"Bicaralah." ujar Rafa lemah. Tak ada niat pria itu untuk menjauh atau memberi sedikit ruang untuknya hingga Milea termangu. Dia tak mungkin membicarakan hal tadi dihadapan Naura yang juga terlihat enggan pergi dari sisi Rafael.


"Bicaralah. Naura bukan orang lain disini." ucap Rafa sekali lagi. Tapi bukannya bicara, Milea malah memilih berbalik hingga sebuah tangan lembut meraih jemarinya.


"Siklus bulananmu masih beberapa hari lagi bukan? apa yang kau permasalahkan?" tanya Rafael dingin. Milea mendekat padanya dengan bibir bergetar.


"Apa..kau akan menceraikan aku kak?" Rafael diam, namun tak kunjung menatapnya. Pria itu memilih memainkan kakinya yang masih berada di dalam air.


"Milly aku tak suka mengulang perkataanku." dan air mata Milea kembali mengalir.


"Tolong beri aku kesempatan kak...papaku, kakak juga menyalahkanku..."

__ADS_1


"Atau lebih tepatnya takut pada keluarga kami. Milly dengar, kami tak sekejam yang kalian bayangkan. Nanti aku akan bicara dengan mereka." putus Rafael tegas.


"Sekarang tidurlah. Angin malam tak baik untuk kesehatan wanita." Rafalah yang lebih dulu beranjak ke kamarnya, meningglkan Milea yang tercekat ditempatnya.


🍒🍒🍒


Pagi masih diambang subuh saat Milea mendengar banyak suara dilantai bawah. Tapi sungguh dia tak ingin turun untuk melihatnya dengan mata sembab seperti sekarang. Semalaman menangis membuat kepalanya pusing dan berat.


Milea tau dia sudah melewatkan makan pagi karena ini sudah jam 8. Dia memang sengaja melakukannya agar tak berinteraksi dengan siapapun. Berlahan Milly menuruni tangga menuju dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Tapi anehnya dia disambut kesunyian. Tak ada Rena atau rekannya yang biasa lalu lalang di sekitaran rumah. Hampir saja dia berjingkat kaget kala melihat Richard masih duduk di meja makan menikmati serealnya.


"Kau..masih di rumah?" Richard melirik Milly sekilas. Mengacuhkan pertanyaan kakak iparnya itu. Milly sendiri merasa heran karena Richard sarapan jam sekian karena pria itu tak pernah melewatkan makan paginya.


"Tak ada orang di rumah. Jadi masaklah sendiri makananmu." ucap Richard tegas. Bibir Milly bergetar.


"Apa momy dan dady sudah pergi bekerja?"


"Mereka ke Amerika pagi ini. Grandpa sedang tidak sehat."


"Lalu kak Rafa?"


"Kau bertanya padaku? tidak salah? Kau istrinya bukan? bagaimana bisa seorang istri tidak tau suaminya pergi kemana?" hardik Richard keras. Milly hanya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Setidaknya kau beritau aku dimana dirinya." Richard meletakkan kartu nama di meja makan sebelum beranjak.


"Belajarlah dewasa dengan menghubungi suamimu sendiri." Milly tetap terpaku hingga Richard pergi. Setelah kesadarannya pulih, wanita muda itu mulai menyusuri rumah besar itu dengan langkah tertatih. Seluruh kamar dirumah utama terkunci. Hingga gadis itu memberanikan diri mengetuk pintu kamar tamu tempat Naura bermalam. Tak ada sahutan, Milly memberanikan diri membukanya. Hasilnya..kosong. Tak ada siapapu disana. Koper Naurapun sudah tak ada ditempatnya. Milly terus berjalan hingga ke deretan bilik asisten rumah tangga di belakang rumah, hasilnya sepi. Dia sendiri hanya sendiri di kediaman besar itu.


__ADS_2