Love You More, Husband

Love You More, Husband
Anggun


__ADS_3

Sena masuk ke ruang perawatan Milea dengan tubuh bergetar, juga jantung yang tak henti bertalu hingga ingin keluar dari rongga dadanya. Milea dan Rafael yang sama-sama duduk di atas brankar saling bersisihan menatap gadis malang itu heran.


"Sayang...dia wanita yang sudah menabrak mobil kita dan menyebabkan kau seperti sekarang." Ucap Rafael nyaris berbisik di telinga istrinya. Milea menegakkan tubuhnya, ingin melihat lebih jelas orang yang mencelakakan dirinya juga Rafael kemarin.


"Sa..saya ti ...tidak sengaja nona. Maafkan saya." tentu Sena juga mengucapkannya dengan suara bergetar. Gadis itu terlihat takut, apalagi saat menatap wajah garang Leon yang seakan akan menerkam dan mencabik-cabik tubuhnya. Kata-kata pria itu bahkan masih menancap sakit hingga ke ulu hatinya. Ketus dan penuh istimidasi hingga dia begitu ketakutan. Dia juga sama sekali tak berani menatap Fernanndo yang duduk santai di sof Sena sedang tertekan berat.


"Sudahlah, jangan merasa bersalah begitu. Aku sudah baik-baik saja." Tentu Milea tak tega melihat wajah pucat Sena. Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap Milea penuh rasa terimakasih.


"Terimakasih sudah memaafkan saya nona. Tapi sungguh, saya tidak bisa membiayai pengobatan anda karena saya...."


"Membiayai pengobatan?" ulang Milea yang saling bertukar pandang dengan suaminya. Mereka bahkan tak berpikir menuntut biaya pengobatan pada Sena.


"Tuan ini bilang jika saya tak bisa membayarnya maka saya akan dijebloskan ke penjara." Sena menunjuk Leon dengan tangan yang lagi-lagi bergetar.


"Penjara??? Kakak...apa yang kau lakukan?" Milea sontak menatap Leon tajam. Kenapa kakaknya setega itu pada wanita yang bahkan terlihat sangat lemah hari itu.


"Dia pantas mendapatkannya. Selain mencelakai kalian ternyata wanita ini juga seorang pembunuh." Ucap Leon acuh.


"Saya...saya hanya ingin menyelamatkan diri tuan." Balas Sena mencoba membela dirinya.


"Menyelamatkan diri? Untuk apa? Kau bahkan sudah kehilangan kehormatan atas dirimu dengan menjadi kupu-kupu malam." ungkap Leon dipenuhi kekesalan. Entah mengapa dia jadi kesal saat mengatakab kata kupu-kupu malam itu.


"Kau....."

__ADS_1


"Dia ini...ahhh...entah bagaimana menyebut profesinya dengan kata-kata halus. Yang jelas dia adalah pemuas nafsu para pria hidung belang yang membunuh pelanggannya lalu menabrak kalian." potong Leon cepat saat pikiran Milea masih menebak-nebak apa yang terjadi pada Sena. Lagi dan lagi air mata berjatuhan dari pelupuk mata Sena membuat Milea iba.


Suara pintu terbuka di susul langkah kaki mendekati mereka. Momy Sofia datang dengan bungkusan makanan dan air mineral ditangannya juga sebuah paper bag ditangan lainnya. Terlihat amat anggun hingga Fernando yang tadinya tak tertarik untuk ikut campur dengan masalah para anak muda itu jadi memajukan tubuhnya yang tadi duduk santai saja.


"Sena...ganti bajumu. Dari semalam kau pasti kedinginan karena baju itu. Bersihkan dirimu lalu makanlah." Momy Sofia memberikan paper bag itu pada Sena yang langsung mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih banyak nyonya, semoga Tuhan membalas semua kebaikan anda." Sofia mengangguk. Sama seperti Milea dia juga iba melihat gadis seumuran menantunya itu. Suara ketukan di pintu menyadakan mereka semua dan menampakkan seorang pria tinggu kekar yang ternyata seorang pengawal.


"Selamat siang tuan besar...nyonya..." sapanya sopan.


"Ehhmmm...."


"Berdasarkan laporan anak buah kami, tuan Andrews masih hidup dan dirawat di rumah sakit anda. Keadaannya sudah mulai membaik sekarang karena di tangani oleh dokter Adam." lapornya amat lengkap. Nando menganggukkkan kepalanya lalu menyuruh pengawal itu pergi.


"Aku sudah meminta Milea di rawat dirumah saja. Momy akan mengirim dokter rumah sakit kita untuk mengunjungi kalian setiap harinya jadi bersiaplah pulang dalam satu jam kedepan. Lee, tolong antar mereka pulang ya."


"Baik tante." balas Leon patuh. Untuk sesaat Sofia bersalaman dengan mereka sebelum pergi hingga tubuh rampingnya berbalik menatap Sena.


"Kau dengar bukan? tuan Andrews masih hidup. Kau bukan pembunuh Sen. Jadi jangan lagi merasa berdosa pada siapapun. Kau juga tak usah takut dengan bosmu karena suamiku akan memberi mereka pelajaran." Tanpa di duga Sena menjatuhkan dirinya, berlutut memeluk kaki Sofia penuh syukur hingga Sofia terpaksa membungkuk untuk memaksanya berdiri.


"Sen, jangan pernah berlutut pada manusia. Kau hanya pantas berlutut juga bersujud pada Rabbmu." bisik Sofia.


"Kau juga tak usah kembali ketempat itu. Ehhmm... Lee..."

__ADS_1


"Iya tante."


"Apa kau keberatan jika Sena pulang bersamamu?"


"Bersama saya??" ulang Leon galau. Membawa gadis ini pulang? sepertinya bukan ide bagus. Tapi bagaimana dia bisa menolak seorang Sofia Hutama? Kata-kata wanita paruh baya itu adalah hukum yang wajib dia taati jika ingin selamat.


"Ya. Sena akan bekerja di rumah kalian."


"Tapi tante ...pekerja dirumah kami sudah cukup, jadi kami...."


"Tante akan menarik asisten rumah tangga keluarga Hutama yang membantu kalian dan menggantikannya dengan Sena." ujar Sofia mantab. Leon jadi tercekat karenanya, sama sekali tak menyangka jika ibu sahabatnya itu akan memutuskan semuanya secara sepihak.


"Sen, kau tak usah bingung mau pergi kemana. Ikutlah Leon dan bekerjalah dengan rbaik padanya." lagi dan lagi Sena terlihat sangat bahagia, dia juga berulang kali memberi hormat pada pasangan suami istri baik hati itu hingga menghilang dibalik pintu.


"Segeralah membersihkan dirimu seperti perintah momy tadi Sen." Sena segera menganggu saat Milea mengingatkannya. Tubuh ringkihnya segera masuk dan mandi kilat lalu berganti baju


"Kalian dengar?? ahh....gadis itu benar-benar." gerutu Leon tidak suka. Tentu saja dia begitu karena penerima imbas sesungguhnya adalah dirinya..


"Menangnya kenapa kak? Sena bisa bantu-bantu dirumahkan?" Leon bertambah kesal saat mendengar reaksi adiknya.


"Entah kenapa aku jadi tak nyaman karena profesi awalnya."


"Dia terpaksa."

__ADS_1


"Semua orang akan bicara begitu untuk menghalalkan perbuatannya Milly." sanggah Leon keras bertepatan dengan terbukanya pintu kamar mandi. Bolehkah Leon terpana? Ya, itu yang terjadi padanya saat Sena muncul dengan pakaian islami yang sangat pas ditubuhnya juga jilbab instan yang membungkus kepalanya. Sangat anggun.


__ADS_2