
Tiga hari berada di Jogja dan menyelesaikan misinya, pasangan pengantin baru itu kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi. Beberapa pengawal tampak sibuk mendorong koper miliknya, juga sang majikan. Untung saja kedua majikan mereka bukan orang yang hobi belanja hingga hanya barang awal saja yang mereks bawa. Artinya sang majikan tak merepotkan sama sekali.
Milea berjalan anggun disamping suaminya. Pakaian kasual yang mereka pakai hari ini membuat wajah keduanya terlihat muda dan segar. Apalagi Milea sengaja menyiapkan outfit couple berwarna putih untuk mereka. Siapa yang bisa menyangkal kerupawanan mereka berdua? bahkan banyak mata terpana menatap pasangan muda yang kompak berkaca mata hitam dan berjalan bergandengan tangan itu.
"Jose....berhenti nak!!!" Teriak seorang wanita dengan dandanan seksi yang mengejar bocah itu. Tapi si bocah bukannya berhenti, namun tetap berlari hingga menubruk kaki Rafael dan terjengkang kebelakang. Sigap, Rafael membantunya berdiri.
"Hai jagoan...kau tak apa-apa?" tanyanya lembut pada sang anak yang masih mengerjabkan matanya, lucu. Rafael mengelus kepala si bocah penuh kasih sayang.
"Kau....Rafael." Milealah orang yang pertama menelisik wanita di depannya itu karena menyebut nama suaminya.Sontak Rafael mengangkat kaca matanya, memastikan pandangannya tak salah.
"Shane??" Milly lebih terkejut lagi saat suaminya balik menyebut nama wanita itu. Rupanya mereka sudah saling kenal.
"Ahh...senang bisa bertemu denganmu lagi Raf. Bagaimana kabarmu?" dan tanpa bisa dicegah, Shane sudah memeluk tubuh tegap Rafael. Hal yang membuat Milly tak percaya adalah saat Rafael juga balas memeluk wanita bernama Shane itu erat. Mereka terus bercakap-cakap tanpa menghiraukan Milea yang berdiri mematung disana. Tapi hal yang paling menarik bagi Milea adalah wajah Jose. Anak itu sangat mirip.......suaminya. Ya, dengan sekilas memandang saja semua akan tau jika anak itu mirip dengan Rafael Hutama. Hati Milea berdenyut sakit. Apa mungkin....Rafael dan Shane pernah menjalin hubungan dekat dan punya anak?? Memikirkannya saja sudah membuat kepala Milea pusing.
"Ohh hai...bagaimana kabar kalian semua?" sapa wanita itu ramah. Sontak para pengawal menjawab. Lagi dan lagi reaksi mereka membuat Milea tercengang.
"Kami baik nona Shane." Mereka mengenal wanita itu dengan sangat baik, begitu pula sebaliknya. Kini tatapan Milea beralih pada Yura seolah mencoba mencari tau. Tapi Yura memilih diam dan pura-pura tidak tau.
"Mas, apa masih lama?" Lirih Milly di dekat telinga Rafael. Rasa tak enak hati merasuki hatinya yang terlihat bodoh dan seolah menjadi lalat penggangu saja. Rafael bahkan sudah berjongkok untuk menggendong anak laki-laki berumur tiga tahunan bernama Jose itu dengan amat bahagia.
__ADS_1
"Hmmmm...tunggulah sebentar." sahutnya lalu kembali asyik bicara dan tertawa lebar bersama Jose dan ibunya.
Bermenit-menit menunggu, nyatanya tiga orang itu sama sekali tak ada niatan berpisah. Tema mereka sangat banyak dan variatif hingga terus asyik ngobrol. Yura dan pengawal mereka masih berdiri menunggu seperti dirinya. Milea merasa diabaikan.
"Nyonya...anda mau kemana?" Yura menghentikan langkah panjang Milea dengan sigap.
" Aku akan pulang duluan. Kau bisa melihat bukan jika aku sudah capek menunggu?" Yura mengangguk mengerti. Tapi asisten cantik itu tetap berusaha menahan Milea yang hendak pergi dari sana.
"Apa kau tau siapa wanita bernama Shane itu?" Yura terdiam. Bukan haknya untuk memberi tau siapa Shane pada Milea walau dia tau semua tentang Rafael dan keluarganya.
"Baik jika kau tak ingin menjawabnya." Milea terus melangkah diikuti Yura yang terus membujuknya tanpa henti hingga gadis itu menghentikan taksi dan menaikinya.
"Terimakasih atas penjelasanmu Yura. Aku berjanji tak akan kemana-mana. Aku akan langsung pulang. Tubuhku letih." Milea baru akan berbalik saat melihat Yura menyeka air matanya cepat. Saat Milly menatapnya lebih lama, asisten cantik suaminya itu malah mencoba tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Tapi mata merahnya tak bisa membohongi mata awas Milea jika dia baru saja menangis.
"Kenapa kau menangis Yura?" Milea mendekatinya namun Yura buru-buru menundukkan kepalanya.
"Apa ada hubungannya dengan wanita bernama Shania tadi?" usut Milly. Tak biasanya seorang Ayura Moraima menunjukkan kesedihan diwajahnya, bahkan sampai menangis di muka umum.
"Maafkan saya nyonya. Saya hanya ingat adegan film yang semalam saya lihat." balasnya beralasan.
__ADS_1
"Kita harus bicara Yura."
"Tapi nyonya...."
"Tidak ada tapi. Ayo ikut!!!" Milea segera menarik lengan Yura dan memaksanya naik ke mobil. Sebelum asisten itu sempat berbuat lebih banyak, Milea sudah mengunci mobil secara otomatis dan menjalankannya, meninggalkan sopir mereka di lobi bandara.
"Nyonya yang anda lakukan tidak benar." pekik Yura berusaha menghentikan perlakuan paksa Milea padanya.
"Sampai detik ini aku masih istri majikanmu Yura. Tolong hargai aku dan menurut saja." Dan setelahnya Yura hanya diam sambil sesekali menyeka air matanya. Milea semakin gelisah karenanya. Apa gerangan yang menyebabkan Yura seperti itu.
Mobil yang dikemudikan Milea berhenti di sebuah kafe di dekat kampusnya dulu. Cukup jauh dari rumahnya, tapi Milly merasa nyaman disana. Suasana kafe yang tak begitu ramai dengan penjagaan privasi yang baik membuat pengunjungnya betah berada disana. Milea mengajak Yura mengambil tempat di sisi kiri.
"Sekarang katakan kenapa kau menangis Yura." Milea yang barusan memesan makanan dan minuman menatap tajam Yura.
"Tidak ada nyonya. Saya hanya..."
"Stop memanggilku nyonya Yura. Kita hanya berdua. Lupakan hubungan kita karena aku sudah menganggapmu sahabat." tegas Milea sambil mengenggam jemari Yura kuat.
"Sahabat? sejak kapan?" lirih Yura namun bisa di dengar dengan jelas oleh Milea.
__ADS_1
"Sejak aku memutuskan berdamai denganmu."