
Rafael mengeram kesal manakala dering ponsel Milea yang diletakkan di atas nakas samping ranjang kembali berdering. Dalam hati pria tampan itu menggerutu karena ponsel istrinya itu terdengar amat cerewet dari tadi. Sepertinya ponsel CEO besar seperti dirinya malah kalah sibuk dengan ponsel istrinya yang hanya ibu rumah tangga biasa.
"Lanjutkan saja...tak usah di dengarkan." rengek Milea yang mulai kesusahan mengatur nafasnya karena cumbuan liar Rafael disekujur tubuhnya. Milly yang merindukan sentuhan suaminya seakan tak rela saat momet romantis nan panas mereka terganggu. Nyonya muda Hutama itu bahkan memegang kedua pipi suaminya yang sedang menatap lekat ke arah ponselnya untuk hanya fokus padanya. Tapi apa Rafael bisa? Jawabannya adalah tidak. Putra sulung Fernando itu memilih mengecup singkat bibir istrinya lalu beranjak dari pelukan Milea. Sebenarnya tak ada kewajiban bagi dirinya untuk berhenti karena yang berdering adalah ponsel Milea. Tapi sungguh, Rafael adalah pria yang sangat disiplin pada sesuatu hal. Jika ada orang yang menelepon, berarti ada hal penting yang ingin dibicarakan.
"Leon..." desisnya bertambah kesal tapi tak urung menggeser panggilan ke tombol hijau.
"Bagaimana kabarmu Milly? aku...."
"Ada apa Lee..." potong Rafa tak sabaran hingga ucapan salam Leon saja tak sempat dia jawab. Leon sampai menarik nafas jengah karenanya.
"Kau benar-benar ipar yang buruk Rafael hutama. Setidaknya sapa kakakmu ini dengan benar." sergah Leon tak kalah geram. Bukannya menuruti saran sang kakak ipar, Rafa malah dengan sengaja mengeraskan nafasnya yang memburu agar terdengar oleh Leon yang bahkan sudah berdecih kesal karenanya.
"Dimana adikku? apa dia sudah baikan?" tanya Leon acuh.
"Ayolah Lee...ini bukan waktu yang tepat untuk sekedar menanyakan kabar Milea. Sudah seminggu lebih dan kami harus buka puasa malam ini. Teleponlah lagi satu jam lagi." dan tanpa menunggu jawaban Leon, Rafael segera menutup panggilannya lalu memencet tombol power. Dia tak ingin diganggu dalam satu jam kedepan. Melihat wajah penuh hasrat istrinya saja sudah membuatnya panas dingin ingin segera menerkamnya. Ya, Milly terlalu seksi untuk dilewatkan malam ini.
__ADS_1
"Sudah kukatakan jangan dengarkan, tapi mas Rafa keras kepala." ucap Milea kesal. Tapi kekesalannya seketika sirna saat Rafael sudah kembali membungkam bibirnya dengan ciuman panjang hingga dia kembali terlena dalam cumbuan maut sang tuan muda.
Sementara diseberang sana, Leon mengumpat kesal pada ipar sekaligus sahabatnya itu. Padahal dia hanya ingin menanyakan kondisi Milea. Tapi sayangnya dia lupa jika Milea sudah bersuami dan punya kewajiban sendiri.
Leon melangkah gontai menuruni tangga menuju dapur. Persediaan air di kamarnya sudah habis dan minta diisi. Masih terlalu sore baginya sebagai bujangan untuk tidur walau rasa penat setelah seharian bekerja mendera. Minum kopi sambil menikmati angin malam bukan ide yang buruk bukan?
"Ahhh....selamat malam tuan Leon." Suster Mega yang sedang menyeduh kopi segera memberi salam saat melihat Leon memasuki dapur.
"Ehhmm...." balas Leon berdehem ringan menuju kulkas dan mengambil air.
"Apa bi Asih tak ada? kenapa menyeduh kopi sendiri. Kau bisa minta tolong padanya." Suster Mega hanya balas menatapnya walau sekilas membuat Leon mengrenyitkan keningnya. Selalu saja begitu. Sejak pertama memasuki rumah ini suster cantik itu sama sekali tak berani menatapnya langsung. Hanya curi-curi pandang atau berusaha menghindar jika tak sengaja saling tatap. Ada apa dengannya?
"Apa papa sudah tidur?"
"Sudah tuan."
__ADS_1
"Lalu untuk apa membuat kopi? Ingin bergadang?" Suster Mega mundur selangkah saat Leon mendekatinya, lagi-lagi membuat Leon mengrenyitkan kening. Tak ada wanita yang pergi menjauh saat dia dekati sejak sekolah dulu. Latar belakang anak orang kaya, tampan, juga bintang lapangan basket membuat dia digandrungi banyak wanita meski tak sepopuler Rafael hutama yang punya otak brilian, tampan rupawan dan punya sederet prestasi membanggakan.
"Saya sedang tidak bisa tidur tuan." Elak suster Mega salah tingkah. Gestur tubuh yang sama sekali tak lepas dari mata awas seorang Leonard Ibrahim.
"Bisa minta tolong buatkan aku secangkir kopi juga?" pinta Leon. Entah sejak kapan dia menyukai racikan kopi Mega yang terasa pas dengan seleranya.
"Eh...tentu tuan. Ada bisa menunggu disana. Saya akan mengantarnya nanti." Yang dimaksud suster Mega adalah meja makan, tapi Leon lebih suka menunggun di meja dapur. Meja yang mengarah langsung ke tempat Mega membuatkan kopi untuknya. Lalu mengamati si wanita dalam jarak dekat. Baru kali ini dia melihat rambut sang perawat tergerai bebas. Juga baru sekarang dia mengamati tubuh indahnya berbalut baby doll bergambar anime. Mega terlihat lebih muda dari biasanya.
"Tuan, ini kopi anda." Terlalu banyak melamun membuat Leon tak tau kapan Mega sudah berdiri di dekatnya dengan secangkir kopi ditangannya lalu meletakkannya di depan Leon.
"Silahkan diminum, saya permisi." Leon sama sekali tak bereaksi. Pria itu lebih fokus pada kopinya juga sibuk melihat aplikasi di ponselnya sebelum merasa jenuh lalu membawa kopinya ke taman belakang. Udara malam mungkin akan mendinginkan pikirannya. Bukannya melihat bintang juga adalah hiburan tersendiri baginya? masih satu jam lagi waktu yang dijanjikan Rafael untuk bisa menelepon adiknya.
Langkah panjang Leon melambat manakala mendengar isakan tertahan dibalik pepohonan. Siapa yang ada disana malam-malam begini? hanya ada bi Asih, pak Tarno suaminya yang bertugas membersih-bersih, satpam dan suster Mega pasca penarikan pekerja keluarga Hutama dari sana. Lalu siapa yang menangis disana? Leon segera mendekat dengan langkah pelan. Matanya melebar saat tau siapa yang duduk menangis di sana. Suster Mega berjongkok menyembunyikan wajahnya sedang menangis sesengukan mencoba meredam suaranya. Leon berjongkok di depannya.
"Kenapa menangis??" tanyanya lembut. Sontak Mega menegakkan tubuhnya lalu buru-buru mengusap air matanya.
__ADS_1
"Ehh...sa...saya...saya tidak apa-apa tuan. Ma...maaf sudah menganggu anda." Leon mencekal tangan sang suster saat wanita muda itu ingin beranjak dari sana. Pria tampan berkulit sawo matang itu meletakkan kopinya disamping cangkir suster Mega lalu kembali fokus pada si wanita.
"Katakan ada apa denganmu suster." ucapnya dalam dengan tatapan tajam. Sungguh dia tak suka melihat wanita menangis.