Love You More, Husband

Love You More, Husband
Berulah


__ADS_3

Mata jernih Sena menatap penuh kekaguman rumah mewah dua lantai saat gerbang tinggi terbuka. Sebuah gumaman penuh kekaguman bahkan sudah terlontar dari bibirnya layaknya orang udik yang baru masuk kota. Leon hingga harus melengos kesal melihatnya. Kampungan sekali.


Mobil terus bergerak melintasi halaman luas nan asri lalu berhenti di teras luas yang sangat indah dimana beberapa asisten rumah tangga dan pengawal bertubuh tinggi besar berbaris menyambut kedatangan sang empunya rumah dengan tertib.


Pintu samping dimana Rafael berada dibuka oleh seorang pengawal. Sang tuan muda segera turun lalu mengulurkan tangannya pada Milea yang masih beringsut mendekat. Tubuh ramping itu sudah melayang dalam dekapan erat sang tuan muda saat Leon hendak turun membantunya. Rafael membawanya berjalan gagah memasuki kediamannya disusul seorang dokter yang sudah berdiri menunggunya.


"Turun!!" perintah Leon pada Sena seraya melengang masuk kedalam. Meninggalkan si gadis tanpa perasaan. Sena bergegas turun lalu memburunya dengan langkah panjang. Gadis itu terlihat canggung saat memasuki rumah. Dia bahkan itu menundukkan tubuhnya mengikuti cara hormat para pelayan saat mereka melakukan itu padanya. Sungguh, Sena tak biasa melihatnya.


"Duduklah dulu Lee." Leon hanya bergumam saat menanggapi permintaan adik iparnya. Dia tak bisa lagi terlalu lama disana. Hanya memastikan Milea baik-baik saja. Setelahnya Leon sudah harus kembali ke rumah dan memastikan papanya juga baik-baik saja meski sudah ada suster Mega yang akan menunggui dan merawatnya.


Dokter yang memeriksa Milea menyudahi sesi periksanya setelah memastikan kondisi Milea. Dia berjanji akan datang sore nanti dan meminta Rafael menghubunginya jika ada apa-apa.


"Kak, apa papa sudah tau aku kecelakaan?" Milea bertanya lirih.


"Ya, aku memberitaunya. Papa baik-baik saja Milly, jangan khawatirkan dia." balas Leon. Dia memang berkata jujur pada papanya dengan berbagai pertimbangan. Untunglah Ken tak begitu terkejut mendengarnya. Pria paruh baya itu terus berdoa untuk keselamatan Milly dan suaminya. Rasanya Milly harus banyak berterimakasih padanya. Berkat doanya juga kondisinya cepat membaik.


"Kunjungi papa jika kau sudah pulih."


"Tentu saja Lee. Maafkan aku yang beberapa hari ini tak menjenguk papa. Aku akan membawa Milly menginap jika dia sudah sembuh nanti." Tentu Rafael tak enak hati karenanya.


"Tenanglah Raf, papa tau betul kesibukanmu di Bimantara. Beliau sudah sangat bahagia mendengar kalian rukun dan baik-baik saja." Sejujurnya Leonlah yang paling bahagia melihat kemesraan adik-adiknya. Hal yang selalu dia tunggu. Melihat Rafael maupun Milea yang saling menatap penuh cinta. Sahabatnya yang terkenal selektif memilih wanita itu juga memperlakukan Mileanya penuh kelembutan. Hal yang sama sekali tak pernah Leon lihat meski saat pacaran dengan Paula maupun Shane. Rafa tak pernah menyentuh mereka secara intens.


"Kalau begitu sebaiknya kakak segera pulang."


"Kau mengusirku?" ungkap Leon terlihat tidak suka.


"Bukan itu maksud Milly Lee..."

__ADS_1


"Kau sudah membelanya sekarang, Raf."


"Tentu aku akan membelanya Leon Ibrahim, dia istriku." tega Rafael ikut kesal.


"Baiklah. Kalian memang merasa dunia ini hanya milik berdua saja. Oke, nikmati harimu untuk jadi baby sitter nona Ibrahim itu." Cibir Leon.


"Bukan nona Ibrahim lagi, tapi nyonya muda Hutama." Leon hanya mengangkat bahunya. Rafael terlalu lebay untuk masalah begituan. Dia jadi lupa keadaannya yang bukan lagi pewaris utama Hutama.


"Sudahlah, terserah kalian saja! aku mau pulang."


"Jangan lupa bawa Sena pulang, kak." Kata Milly hampir berteriak.


"Isshh...jangan bawel! Aku tau itu." Rafael mengelus pucuk kepala Milea mesra saat mendengar perdebatan kakak beradik itu.


"Kau sangat manis Mileaku." bisiknya sambil mengecup pipi kiri istrinya. Milea bergelung manis didalam pelukan suaminya kembali.


"Hallo Dan..." Rupanya Danu yang menelepon. Rafael mendengarkan semaunya dengan seksama hingga dahinya berkerut.


"Mesin baru? investasi besar?" ulangnya masih dalam ekspresi yang sama. Milea hanya diam, namun tidak dengan tangannya yang bergerak lembut menyusuri dada berotot suaminya hingga Rafael segera menangkap tangan mungil itu lalu mengecupnya penuh cinta sebelum memutuskan mengakhiri panggilan dari Danu.


"Sayang...jangan melakukannya."


"Memangnya kenapa mas?" Tanya Milly polos. Dasar mantan perawan.


"Kau belum sehat benar Milly. Aku tak akan bisa menahan diri untuk menerkammu saat kau melakukannya sayang. Kau tau...usapanmu membangkitkan jiwa lelakiku." Milea tercekat. Nafas harum itu bahkan sudah menyapu wajahnya, membuat dia ingin merasakan sesuatu yang entah kenapa sudah membuatnya candu. Buru-buru dia membuang wajahnya yang pasti sudah memerah sekarang. Namun Rafael sudah bergerak lebih cepat darinya.


"Apa kau menginginkannya sayangku?" bisiknya dengan suara serak dipenuhi nafsu. Milea tak menjawab. Hanya tangannya saja yang kembali bergerak menyusuri dada liat itu sekali lagi. Rafael kalap. Dia menyambar bibir seksi istrinya dan ********** penuh kerinduan. Hal yang langsung disambut Milea tak kalah panas hingga nafas keduanya ngos-ngosan tak karuan.

__ADS_1


"Sayang...sudah cukup. Kau masih sakit." Rafael segera mengakhiri ciumannya, tentu diiringi wajah kecewa istrinya.


"Aku berjanji akan melakukannya hingga kau puas setelah infus itu dilepas." bisik Rafael sensual seraya menggigit kecil telinganya. Pria mana yang tahan digoda seperti itu? Apalagi mereka masih pengantin baru.


"Aku ingin sampai pagi." Netra coklat Rafael membulat. Istrinya bahkan sangat mesum dan terdengar seperti wanita hiper sekarang. Apa dunia sudah berbalik sekarang?


"Kau yakin kuat?" Milea menyembunyikan wajahnya yang makin merah di dada sang suami saat menganggukkan kepalanya tanpa ragu sedikitpun. Benar-benar membuat Rafael terkejut.


"Aku...menyukainya." Kali ini Rafael harus dibuat terkejut dua kali saat jemari Milly dengan amat nakalnya membelai juniornya yang masih terbungkus celana jeans dengan berani dan tanpa malu sedikitpun. Lagi dan lagi getaran di ponsel si pria menyudahi pembicaraan intim keduanya.


"Dady..." desis Rafael sebelum mengangkat panggilan dan mengucapkan salam.


"Besok, kembalilah bekerja di Hutama grup. Dady akan ke Jepang bersama momymu. Adikmu kembali berulah disana." Fernando sudah memerintah sebelum Rafael sempat bertanya.


"Tapi bagaimana dengan Bimantara dad? aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Ada banyak janji yang belum kutepati pada para pekerja disana. Aku tak bisa dad." Tolak Rafael dengan nada rendah. Fernando menarik nafas kasar.


"Apa Danu tidak bilang padamu jika aku sudah menanam saham bernilai milyaran disana? aku juga sudah membelikan banyak mesin baru untuk kalian. Kau bisa membangun Bimantara menjadi lebih baik dengan dana dari Hutama grup dan menjadikannya salah satu anak cabangnya. Semua akan untung, termasuk para pekerja. Aku akan mensejahterakan mereka." Haruskan Rafael bahagia? Ya, dia sangat bahagia mendengar keputusan dadynya. Berada diantara seluruh karyawan Bimantara selama beberapa waktu sudah membuatnya tau apa itu arti loyalitas, perjuangan bertahan hidup, ketulusan dan keikhlasan. Rafael sangat tersentuh karenanya. Mereka bukan bawahan, tapi seperti keluarga ketiga baginya.


"Baik dad dan terimakasih untuk semuanya." Fernando gantian terharu. Anak sulungnya itu berwatak sangat mirip ibunya. Banyak berterimakasih meski tau dia tak membutuhkan itu sebagai ayahnya. Jangankan satu perusahaan kecil seperti Bimantara, Fernando bahkan bisa memberikan seratus perusahaan seperti itu pada putranya.


Tapi apa itu tadi?? Adiknya berulah?


"Apa yang Rich lakukan dady?" Fernando mendengus kesal mendengar pertanyaan si sulung. Tak sekali dua kali pria yang masih sangat tampan diusianya itu menghadapi kenakalan anak bungsunya itu. Tapi Nando sangat menyayanginya juga.


"Dia nekat menikah besok."


"Menikah??" ulang Rafael bingung. Sejak kapan Rich mau menikah? membicarakannya saja dia tak suka. Hatinya sudah tertutup setelah Shane meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2