Love You More, Husband

Love You More, Husband
Nanti


__ADS_3

Milea melangkah pasti memasuki gedung Bimantara siang itu, melawan matahari yang terbilang terik. Pasmina biru muda yang dipakainya melambai ditiup angin kala melewati halaman pabrik yang terbilang luas itu. Milly menuju meja resepsionis tempat seorang wanita awal tiga puluhan menyambutnya dengan senyum ramah. Benar kata suaminya, Bimantara dipenuhi orang-orang yang tulus. Lihat penampilan para karyawan disana yang amat sederhana, termasuk wanita di depannya itu.


"Saya mau bertemu tuan Rafael." katanya ramah, sang resepsionis melirik kotak makan yang tersusun rapi ditangan Milea sekilas.


"Maaf mbak, pak Rafanya sedang ada tamu. Bisakah mbak menunggu sebentar?" Milly mengerutkan keningnya. Tamu? saat jam istirahat? Lagipula kantor suaminya itu tetap sibuk di jam istirahat seperti sekarang. Para pekerja kantor Bimantara tampak masih duduk anteng di mejanya masing-masing. Demikian pula para pekerja pabrik yang berada dibelakang bangunan kantor. Tak ada pergerakan berarti kecuali beberapa orang yang menuju mushola secara bergiliran. Selebihnya hanya suara mesin yang terdengar sampai ditempatnya berdiri. Milly memindai sekitarnya sebelum menyetujui saran sang resepsionis untuk duduk menunggu.


Jangan membayangkan bangunan mewah, gedung yang tinggi, atau pernak-pernik lain. Bimantara dimata Milea hanya sebuah bangunan dua lantai, itupun bagian depannya saja yang berfungsi sebagai kantornya. Walau berdiri di lahan lumayan luas hanya berupa bangunan pabrik pada umumnya yang bahkan biasa saja. Kantornya saja hanya seperti bangunan biasa walau dikelilingi kaca. Tak ada lift disana hingga orang yang punya kepentingan dengan pimpinanya harus rela naik turun tangga.


Hampir setengah jam menunggu, terdengar suara derap langkah kaki dari anak tangga. Sepasang suami istri paruh baya nampak turun dari sana dengan raut tak terbaca diikuti suaminya yang juga memperlihatkan hal yang sama. Hanya satu kata yang sempat di dengar Milly dari ucapan mereka. Shane....ya mereka menyebut nama wanita itu. Hati Milea kembali terbakar.


"Maaf pak, mbaknya ingin bertemu bapak." belum sempat Milly tersadar dari lamunannya, resepsionis itu sudah memberitau suaminya soal keberadaannya. Padahal Milly berencana akan duduk saja disana hingga Rafael naik kembali ke ruangannya. Tempat duduknya yang agak tersembunyi memang tak terjangkau dari penglihatan Rafael.


"Sayang...kau disini?" Rafael mendekatinya dengan perasaan takjub, sama sekali tak menyangka jika istrinya akan menyusul ke kantornya. Tapi apa itu tadi? Sayang? tumben-tumbenan panggilan itu berubah? apa karena ada orang lain disana? atau karena rasa takut ketahuan dan Milly akan kembali marah?

__ADS_1


"Nur, kenalkan...ini istri saya, Milea. Jika dia datang langsung suruh naik saja ya." Resepsionis yang disapa Nur itu mengangguk hormat.


"Kau bawa apa itu? Ayo naik." Rafael menarik jemari istrinya, namun Milly tetap kukuh ditempatnya.


"Apa kau sakit?" Milly menepis halus tangan Rafa yang akan menyentuh keningnya. Rasa kecewa kembali menderanya.


"Siapa mereka mas? Kenapa menyebut nama wanita itu?" tanya Milly lirih. Rafael mengeratkan tautan tangannya.


"Naik dulu...kita bicara diatas." Balas Rafa tak kalah lirih. Milly tak punya pilihan. Para staf kantor menatap mereka dari balik kubikel masing-masing. Milly memutuskan tersenyum lebar pada mereka dan mengatupkan kedua tangannya di dada sebagai penghormatan. Hal yang dibalas dengan sesuatu diluar ekpektasinya. Satu persatu para staf itu berdiri lalu melakukan hal yang sama seperti yang dia perbuat tadi. Sungguh, hati Milea menjadi sejuk karenanya. Senyumnya tak pernah luntur meski mereka sudah menghilang dianak tangga terakhir hingga sampai dilantai atas.


"Aku bawakan makan siang." Milly meletakkan kotak makan bawaannya diatas meja. Rafael terus mengeratkan gengamannya seolah takut jika Milea akan pergi darinya.


"Mereka orang tua Shane." Tubuh Milea membeku. Tanpa sadar dia meremas kuat jemari Rafael yang tertaut dengannya. Rafael masih bermain dibelakangnya. Hatinya yang tadi sakit menjadi terluka walau tak berdarah. Baru kemarin dia membuka hati, baru semalam mereka baikan, dan baru tadi pagi dia kembali berani berharap. Tapi sekarang...Tuhan ingin mengambil lagi kebahagiaannya.

__ADS_1


"Aku tau. Hmmm...makanlah, aku harus buru-buru pulang. Papa memerlukanku." Milea memaksakan diri tersenyum. Dia tau..amat tau jika sama sekali tak punya tempat dihati pria tampan itu walau tak dapat melupakan kata-kata Rafael semalam.


"Kalau begitu kita pulang saja." Milea menarik tangan Rafa yang akan mengajaknya keluar hingga tatapan mereka bertemu. Saat itu Rafael tau jika Milea terluka. Mata jernihnya menyiratkan luka yang amat dalam.


"Mas Rafa kerja saja. Nanti kita bicara." Walau Milly mencoba bersikap biasa saja, tapi Rafael tau istrinya kecewa.


"Kenapa nanti jika sekarangpun bisa? Milly...mereka datang untuk berterimakasih. Shane sudah mendapat perawatan yang tepat." Rafael mengunci gerakan Milea, memeluk pingangnya kuat agar merapat pada tubuhnya.


"Shane bukan berada dirumah sakit jiwa seperti penjelasanku kemarin. Dia berada di Singapura karena menjalani kemoterapi. Kanker yang dideritanya sudah stadium empat. Perkembangannya sangat cepat karena stres, alkohol dan gaya hidupnya. Yang sebenarnya Shane memang seperti perkataanmu. Saat dokter memvonis dia terkena kanker rahimlah dia lari dari rumah suaminya karena depresi. Aku mengajaknya ke apartemen karena ada Jose. Dia memintaku agar merahasikan semuanya hingga nanti dia pergi. Berulang kali dia meminta bantuanku agar Jose bisa diasuh dan diterima oleh Richard dan keluarga kami hingga dia bisa pergi dengan tenang nantinya." Rafael menjeda kalimatnya, membenarkan lipatan hijab sang istri penuh kasih.


"Maafkan aku yang merahasiakan semuanya darimu Milly. Kau terlalu dekat dengan momy. Jose harus masuk ke dalam keluarga kami dan satu-satunya jalan untuk itu adalah aku harus pergi. Rich harus jadi penggantiku karena hanya anak-anak dari penerus keluarga saja yang berhak tinggal dirumah utama. Dady tak akan bisa menerima Jose jika masih ada kita. Anak-anak kita yang akan menjadi penerus keluarga Hutama karena lahir dari pernikahan sah. Sedang Jose...dia hanya akan mendapatkan belas kasih keluarga kami karena lahir diluar nikah. Tapi aku sudah cukup bahagia dengan jalan yang kupilih. Setidaknya Jose tak akan kekurangan apapun karena mau tak mau dady harus menerimanya.


"Mas...aku...."

__ADS_1


"Aku memang belum punya apa-apa Milly, tapi aku akan berusaha membahagiakanmu." Milea tak kuasa lagi berkata-kata. Sekuat tenaga dia memeluk Rafael erat, menumpahkan tangisan di dada bidang suaminya.


"Milly...apapun yang terjadi pada kita nantinya, tetaplah percaya padaku seperti aku yang sangat mempercayaimu. Nanti kau akan tau jika dengan percaya, maka kau mencintai juga."


__ADS_2