
"Kenapa ada dia?" iris coklat Milea membola saat melihat Yura yang berpakaian formal mendatangi mereka yang sudah akan naik ke mobil. Melihat gelagatnya, asisten suaminya itu pasti hendak bergabung. Hal aneh bukan? Yura bukan bagian keluarga mereka, lagi pula ini bukan acara resmi kantor. Tak ada alasan dia ikut meski sebagai seorang asisten. Milea meliriknya tajam.
'Awas saja jika kau berani dekat-dekat dengan suamiku. Aku kubuat rambut pirangmu itu hilang tak bersisa.'
Batin Milea kesal. Tapi Yura tetap terlihat tenang.
"Selamat pagi tuan, nyonya, tuan muda." Yura membungkukkan tubuhnya didepan semua orang. Nando tersenyum padanya. Hal yang bahkan tak pernah Milea lihat terjadi padanya. Ayah mertuanya itu terlihat amat menyukai si gadis.
"Mari bergabung bersama kami." kata sang tuan Hutama lalu menyuruh Sofia masuk lebih dulu. Milea juga menyusul dan duduk di jok belakang bersama suaminya. Anehnya, Yura malah duduk di depan bersama Richard yang mengemudikan mobil mereka seperti telah terbiasa melakukannya tanpa harus diperintah.
Hampir satu jam perjalanan, mobil mereka memasuki sebuah taman luas yang ditanami bunga warna warni disekelilingnya menuju sebuah pondok ahh...tepatnya rumah berukuran sedang yang tampak asri. Satu persatu mereka turun. Milea menatap rumah itu lamat. Mungkinkah gadis bernama Farah itu tinggal disana? ditempat sesepi ini walau sangat asri dengan lingkungan yang bersih dan jauh dari polusi. Melihat sekeliling, Milly melihat sebuah ayunan dan wahana bermain anak yang amat rapi ditempatnya seolah ini juga taman bermain seorang bocah. Apa Farah punya anak? Pikiran itu terus berputar hingga seorang pria mendekati enampuluhan datang mendekat.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan, nyonya, tuan muda..." ujarnya memberi salam dan hormat.
"Al, kami akan bertemu Farah disana." Fernando menepuk bahu pria itu.
"Mari tuan." Ajak Ali berjalan mendahului semua orang. Seorang wanita seusianya segera membuka bagasi atas perintah Richard dan membawa keranjang besar menyusul mereka.
Milea kembali dibuat bertanya-tanya saat mereka bukannya masuk ke rumah itu tapi malah menuju halaman samping, melewati lorong panjang yang dihias apik dengan gambar angsa dan kupu-kupu hingga ke belakang rumah. Untuk kesekian kalinya Milea kembali dibuat terpana saat melihat sebuah makam dengan granit mahal yang menghiasinya. Dari tampilannya bahkan tempat itu tak layak disebut makam dan lebih pantas disebut wahana bermain yang indah. Sofia mendekat dan mengusap nisannya. Air mata jatuh membasahi pipi mulusnya.
"Milly...kau harus tau. Farah ini anak bungsu kami. Adik Rafael dan Richard yang meninggal saat berusia lima belas tahun. Kami semua sangat menyayanginya, tapi sayang Allah tak mengijinkan dia tinggal lebih lama bersama kami." jelas Sofia sambil menyeka air matanya. Kepalanya sudah melebah dipelukan dady Nando yang juga merasakan kesedihan yang sama. Milea menatap suaminya penuh penyesalan. Tangannya terulur membelai nisan Farah.
"Farah, aku Milea...istri kak Rafa, kakakmu juga. Semoga kau tenang disana. Kakak akan sering mengunjungimu jika ada waktu." bisik Milea yang entah kenapa juga ikut berkaca-kaca saat mengucapkannya. Seolah dia kenal baik dengan Farah sebelum ini, Milea melirik tangan kekar Rafael yang menyentuh bahunya. Ada rasa bersalah pada suaminya itu.
__ADS_1
"Maafkan perkataanku semalam kak." ucapnya penuh sesal. Rafael meraih jemarinya dan mengajaknya bangkit menyusul yang lain menuju rumah didepan sana. Ali dan istrinya yang memang bertugas mengurus makam Farah sudah menyiapkan minuman dan kudapan diatas meja.
"Silahkan tuan...nyonya..." Yang lain segera mengambil tempat duduk. Selain asri, tempat itu juga amat menyenangkan. Ternyata ada beberapa rumah disekitar sana. Milea jadi takjub karenanya.
"Itu juga rumah para juri kunci makam. Mereka tinggal bersama anak istrinya ditempat ini." Rafael berbisik pada Milea karena tau istrinya pasti sibuk berpikir dan mengira tempat itu adalah pemukiman.
"Jadi ini lokasi makam?"
"Ya..tepatnya makam keluarga golongan atas." jelasnya diangguki Milea. Pantas saja lahannya terlihat luas.
"Apa kau sudah puas sekarang?" Milea menatap Yura yang juga secara tak sengaja tengah menatapnya meski sedang berbincang dengan momy Sofia. Hatinya memanas. Refleks dia memeluk Rafael kuat hingga Rafapun dibuat kaget karenanya.
__ADS_1
"Ya.sekali lagi maafkan aku kak." lirihnya lagi.