Love You More, Husband

Love You More, Husband
Cara alami


__ADS_3

Milea sudah berada dalam ruang operasi bersama empat perawat yang membantu dokter nanti. Sebagai pasien VVIP yang rela membayar mahal, Milea memang diberi palayanan ekstra termasuk penyegeraan operasi setelah beberapa jam lalu melakukan observasi.


"Kenapa dokternya lama sekali?" Seorang perawat yang barusan memakai sarung tangannya mendekat dan mengangguk sopan , memamerkan senyum manisnya.


"Mohon bersabar nyonya. Doktee Tom sedang menerima tamu. Tapi beliau akan segera datang." Perawat itu benar. Dokter Tom adalah tipe dokter yang sangat profesional dan tepat waktu. Dokter plastik asal Singapura itu juga sangat menghargai pasiennya baik yang biasa saja hingga yang elite seperti Milea. Aneh memang jika sang dokter sampai harus terlambat lima belas menit seperti sekarang. Dari sana dapat dipastikan jika tamunya kali ini istimewa.


Suara pintu terbuka membuat Milea menoleh. Seorang dokter berpostur tinggi berusia empat puluhan masuk dan langsung mendekat.


"Maaf karena saya terlambat nona. Mari mulai operasinya." katanya lembut. Dokter Tom segera memberi isyarat pada perawatnya agar mendekat. Milea menarik nafas lega. Akhirnya, jadi dioperasi juga.


Suara pintu terbuka membuat semua yang bersiap operasi menoleh. Dokter Tom hingga harus mengerutkan keningnya, dia tak mengenal siapa pria muda yang menerobos kamar operasinya bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Hentikan operasi ini dokter." Milea sontak membuka matanya yang sempat tertutup kala mendengar suara bariton yang amat dia kenal. Wanita muda itu bahkan terduduk secara spontan dan menatap tak percaya. Suaminya sedang berjalan gagah ke arahnya yang masih terbengong tak percaya.


"Ada siapa? kenapa masuk kemari?" Rafael tersenyum sekilas pada dokter Tom yang menatapnya penuh tanya.


"Saya suaminya." tegas Rafa. Wajah garangnya seakan ingin menelan semua yang ada disana hidup-hidup.

__ADS_1


"Tunggu....nona ini bilang dia masih singel. Apa anda yakin jika anda suaminya?" lagi dan lagi Rafael menjadi amat gusar. Tatapan tajamnya dia arahkan pada Milea.


"Anda bisa melihatnya." Rafael menyodorkan ponselnya. Dokter Tom segera menerima dan memandangi sebuah foto pernikahan disana. Benar, pria ini dan wanita muda yang merupakan pasiennya ini sedang melakukan prosesi akad nikah.


"Saya Rafael Hutama dokter. Momy saya juga dokter seperti anda..."


"Nyoya Sofia...." desis sang dokter lirih.


"Anda mengenal mama saya?" Dokter Tom mengangguk. Siapa yang tak kenal Sofia Hutama. Dia adalah pemilik rumah sakit terbesar dan terbanyak seantero negeri hingga merambah negara-negara tetangganya. Dokter Tom bahkan berpraktik juga di Hutama husada miliknya. Pantas saja dia seperti familiar dengan wajah Rafael tadi. Benar...dia baru ingat jika pria muda ini amat mirip Fernando satria hutama. Konglomerat yang merupakan suami atasannya juga.


"Dia istri saya, Milea hutama dan dia sedang mengandung calon anak saya." dokter Tom terkesiap. Ekor matanya melirik Milea yang terus menundukkan kepalanya.


"Apa dokter yakin?"


"Saya selalu meneliti kesehatan pasien saya sebelum operasi tuan muda. Dan saya pastikan jika dia tidak hamil." Rafael berubah merah padam karena perkataan sang dokter. Tapi dia masih berusaha mengontrol emosinya. Pun dokter Tom segera minta maaf karena kesalah pahaman yang terjadi. Rafael sama sekali tak bisa menyalahkannya seratus persen. Dia tau jika Milealah yang menyebabkan semuanya.


"Ayo pulang!!" desis Rafael sambil menarik lengan Milea kesal. Tak ada bantahan. Milly malah dengan patuh menurutinya. Rasa malu karena ketahuan berbohong sudah berganti dengan ketakutan hingga wajahnya pias. Entah apa Rafa mau memaafkannya atau tidak atas dua kebohongan yang dia ciptakan. Milea hanya bisa pasrah, menunggu Mobil yang dia tumpangi sampai ke rumah mereka.

__ADS_1


Yura segera turun dan membuka pintu mobil. Milea turun dengan wajah lesu dan langsung masuk ke kamar sesuai perintah Rafael. Pikirannya kalut. Bukankah sudah tak ada gunanya lagi menyesal?


"Kenapa kau berbohong?" Rafael yang duduk di singel sofa membelakanginya bertanya tanpa menoleh sedikitpun.


"Aku terpaksa melakukannya." balas Milea datar. Sama sekali tak ada rasa takut seperti saat di rumah sakit tadi. Milly tau kesalahannya cukup fatal.


"Terpaksa? Lalu siapa yang memaksamu?" kekeh Rafa dengan nada sinis.


"Pasang implan, mengaku hamil, entah besok hal aneh apalagi yang ingin kau lakukan. Kau...memalukan Milea!!!" sergah Rafael. Telinga Milea panas. Gadis itu menegakkan kepalanya dan menatap manik coklat Rafael berani.


"Kau...kau yang memaksaku." Rafael berdiri dari duduknya dan mendekat Milea saat Milly menyebut dialah sang pemaksa itu.


"Aku? Kapan kau pernah memaksamu?"


"Ya. Kau orangnya. Kau lebih suka dekat dengan Paula beruang jumbo itu dari pada denganku. Kau bahkan tega mengatai tubuhku rata dan tak menarik. Lalu kenapa jika aku operasi implan? Aku hanya ingin menyenangkan hatimu agar kau tak lagi melirik atau mendekati perempuan itu. Aku juga bisa seperti mantan kekasihmu itu, bahkan lebih. Apa aku juga perlu operasi wajah agar bisa membuatmu menyukaiku? jika iya, katakan saja. Maka aku akan berusaha menjadi seperti yang kau minta. Dan soal kehamilan itu...aku tak pernah berniat membohongi siapapun. Waktu itu aku masuk angin dan muntah di kamar mandi. Momy mengira aku hamil tanpa melakukan test kehamilan. Lalu dimana salahku? Katakan padaku Rafael Hutama!!!" teriak Milea dengan kemarahan diatas normal. Nafasnya bahkan saling berkejaran menahan amarah yang terus mencekik rongga dada dan perasaannya.


"Kau terlalu banyak bicara Milea ibrahim!!" sergah Rafael. Tangan kekarnya menjangkau tubuh ramping Milea hingga tak bisa bergerak. Sebelum Milea sempat sadar, sebuah ciuman sudah membungkam bibirnya. Milea hendak memberontak, bayangan saat dirinya diperkosa melintas. Tapi sesaat kemudian Milly dipaksa hanyut oleh gerakan lembut bibir dan tangan besar Rafael yang meremas *********** bergantian seolah melakukan pijatan. Milea hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya, menahan lenguhan yang akan keluar dari bibirnya meski kesadarannya kian menipis saja. Rafael sudah menggulungnya dalam pusaran keikmatan dunia walau sesaat saja.

__ADS_1


"Jangan pernah berpikir melakukan operasi lagi tanpa ijinku Milea. Aku tak suka. Dan jika kau memang menginginkannya lebih besar dari sekarang maka baiklah. Aku akan melakukannya secara alami." dan apa yang bisa dilakukan Milea saat pria nan tampan menawan itu sudah mendorongnya ke tempat tidur, melepaskan kancing bajunya, juga bra warna hitam yang menutupi dua aset berharganya lalu ...menyesap *********** bergantian seolah bayi yang sedang menyusu? Milea hanya bisa meremas kepalanya dan membusungkan dadanya semakin kedepan.


__ADS_2