
"Tapi membiarkannya tetap berada di kediaman Ibarahim sudah mempermalukan keluarga kita Raf." Ungkap Nando dengan nada dingin. Milea adalah menantu pertama keluarga mereka. Kesan pertamanya dengan sang menantu yang tak mengenakkan tadi pagi saja masih membuatnya kesal, apalagi sekarang saat tau Milly malah meninggalkan rumahnya. Fernando amat kesal karenanya. Milea yang dia harapkan menjadi pendamping terbaik untuk putranya malah jadi bumerang baginya.
"Dad, Milea hanya butuh waktu untuk kuliahnya." Sofia menatap lembut putranya. Sebagai seorang ibu dia tau jika rumah tangga putranya sedang tak baik-baik saja. Tapi lihatlah...putranya begitu gigih menutupi aib keluarga barunya. Anak lelakinya benar-benar tumbuh mewarisi kepribadiannya.
"Dengan membiarkannya memilih kamar sendiri lalu pulang kerumahnya tanpa seijinmu? kau terlalu baik Raf." Rafael tersenyum getir, berbanding terbalik dengan Leon dan Ken yang kembali dibuat meradang mendengar kelakuan Milea. Anak gadisnya benar-benar keterlaluan.
"Memilih kamar sendiri?" ulang Ken getir. Nando langsung mengarahkan pandangannya pada sang besan yang terpekur di depannya.
"Ya, dia bahkan memintanya beberapa menit setelah sampai di rumah ini seolah Rafael kami ini kotoran yang tak ada harganya." Murka Nando dengan kata-kata tajam. Siapa yang tak tersinggung jika putranya diperlakukan seolah barang tak berguna oleh istrinya yang strata sosialnya saja bahkan jauh dibawah mereka. Bahkan Sofia yang seorang dokter waktu dia menikahinya dulupun tak seberani itu. Sofianya cenderung lembut dan penurut walau bisa jadi singa betina yang menyeramkan saat marah.
"Maafkan putri kami tuan Fernando...." ucap Ken Ibrahim terdengar lemah dan putus asa. Pria paruh baya itu amat malu dengan kelakuan sang putri sekaligus takut akan kemurkaan besannya.
"Dady tolong..biarkan Milea melakukan apapun yang dia inginkan atau...."
"Atau apa?" potong Fernando tak sabaran. Lagi dan lagi Sofia memegangi lengan suaminya, menenangkan pria tampan itu dengan caranya.
__ADS_1
"Nikahkan dia dengan Richard." Semua yang ada disana terbelalak tak percaya. Rafael, seorang tuan muda yang harusnya punya ego yang besar dan harga diri setinggi langit memohon pernikahan antara istrinya dengan adiknya pada ayahnya yang tak tersentuh.
"Rafael..kau??!!!"
''Dad...dalam pernikahan ini akulah yang bersalah. Aku sudah menghancurkan masa depan Milea dengan menidurinya sebelum menikah. Jika sekarang Milly menginginkan kebahagiaannya maka sudah semestinya aku yang bertanggung jawab memenuhinya sebagai kompensasi dari kesalahanku." Fernando menegang. Bola mata blue oceannya menggelap, membuat siapapun merinding melihatnya.
"Hubby...tenangkan dirimu. Jangan mengambil keputusan saat sedang marah." kata-kata lembut Sofia menyadarkan Fernando yang langsung menarik nafasnya panjang, lalu beristigfar.
"Satu minggu. Jika dalam satu minggu ini Milea tak kembali secara suka rela ke rumah ini maka aku akan mengurus perceraian anak-anak kita. Dan soal menikahkannya dengan Richard...biarkan dia berusaha sendiri agar bisa melakukannya." Ken Ibrahim menegakkan tubuhnya, menatap sang besan dengan tatapan tak terbaca.
"Saya tidak akan pernah merestui pernikahan anak saya dengan tuan muda kedua atau menjadi wali nikahnya tuan Fernando. Jika memang Milea tetap bersikeras tak mau kembali maka saya dan Leon yang akan menjadi gantinya. Ambil semua yang kami punya karena kami akan dengan senang hati mengabdi pada keluarga ini meski jadi tukang kebun sekalipun." Putus Ken ibrahim berani. Pria itu masih cukup tau arti balas budi dan menghargai. Mengabdi pada keluarga itu sampai matipun tak akan bisa membalas kebaikan yang pernah mereka berikan.
"Momy benar papa, jangan pernah memaksa Milea satu katapun karena aku akan menganggap paksaan kalian adalah penghinaan bagiku. Biarkan Milly memutuskan jalan hidupnya sendiri." tegas Rafael tulus. Sama sekali tak ada dendam dan kebencian disana.
"Papa.....kakak......" semua sontak menoleh keasal suara. Milea.
__ADS_1
Wanita muda itu berdiri di ambang pintu dengan kegelisahan yang nyata.
"Untuk apa kau kesini Milly." desis Leon galak. Kehadiran adiknya itu pasti akan memperkeruh suasana yang berubah tegang. Fernando mengetatkan rahangnya seiring pegangan Sofia yang berubah jadi cengkeraman kecil di lengannya.
"Maafkan Milly dad, mom, kak Rafa...." lirih Milly tapi masih terdengar jelas ditelingan semua orang. Tubuh Milea bergetar ketakutab di tempatnya yang membuatnya seolah menjadi tersangka di pengadilan. Gadis itu juga seketika menjatuhkan tubuhnya, bersujud sambil berulang kali mengatakan maaf hingga Sofia berdiri dan menghampirinya. Dokter cantik itu memeluk Milea penuh kasih sayang lalu membantunya berdiri. Milea tetap sesenggukan dalam penyesalannya.
"Milly sayang sudahlah. Kami semua sudah memaafkanmu. Sekarang ayo duduklah disamping momy." Sofia memeluk erat Milea seolah dia adalah putri kandungnya yang barusan berbuat kesalahan. Entah kenapa dia amat menyayangi Milea dan tak ingin membuat gadis itu bersedih hati.
"Apa ada yang memaksamu kembali kemari Milea?" suara bariton Nando memecah suasana haru diantara mereka. Milea menggeleng.
"Bagus. Sekarang masuklah ke kamarmu, kau butuh istirahat." perintah Nando lunak. Sofia segera berdiri dan membawa Milea ke kamarnya.
"Apa kau mendengarkan percakapan kami nak?" tanya Sofia saat mereka sudah sampai di kamar. Sang mertua bahkan menunggu menantunya itu berbaring lalu menarik selimutnya. Milea mengangguk lemah. Dia memang datang sejak tadi dan menunggu di balik pintu dengan perasaan campur aduk.
"Kenapa kalian tetap bersikap baik padaku juga keluargaku saat aku sudah membuat kalian kecewa dengan perbuatanku momy?" Sofia membelai rambut lurus Milea.
__ADS_1
"Kita tidak harus membalas perbuatan tak menyenangkan orang lain Milea. Biarkan mereka bersikap begitu. Kewajiban kita hanya berbuat baik. Itu saja."
"Maafkan Milly momy." ujar sang wanita muda diantara isakan penyesalannya.