
"Kak Leon?? kakak mau apa kemari?" Milea yang berjalan menuju mobil Rafael berada sontak menghentikan langkahnya saat melihat Leon yang baru saja keluar dari mobilnya. Sang kakak yang biasanya bersikap santai jadi terlihat sedikit tegang walau untuk sesaat.
"Milly...Rafa..." Milea memeluk kakaknya sejenak. Leon memindai wajah ayu adiknya yang terbungkus jilbab cantik berwarna pink lamat. Ternyata Millynya bisa sedewasa dan seteduh sekarang.
"Kakak mau apa kemari?" ulang Milea lagi. Rasa ingin tau tentu saja begitu kuat pada dirinya. Ini sudah sore, hanya pasien rawat inap dan gawat darurat saja yang akan datang kesana. Milly hanya khawatir jika ada yang sakit dan dibawa kesana. Belum sempat Leon menjawab, mobil lain yang juga Milly kenal mendekat dan langsung parkir di dekat mereka. Sesosok pria tampan berkulit kuning langsat dengan rambut hitam legam turun. Jika dulu Milea sangat terpesona dengannya, rela mengikutinya diam-diam dan sangat memujanya, tapi itu tidak berlaku sekarang. Selera Milly berubah...banyak berubah. Wajah lokal, dia tak suka.🤣
"Lho..kalian disini?" Sekarang tiga pria tampan itu berdiri melingkar dengan Milea sebagai satu-satunya wanita disana.
"Ya, aku menjemput Milly." jawab Rafa kemudian. Jika biasanya dia dan Leon akan banyak bicara, tapi tidak dengan Rich. Rafael hanya bicara seperlunya saja, apalagi saat ada Milly.
"Kalian...ada apa kemari?" Milea kembali bertanya walau beberapa kali tak mendapat jawaban memuaskan.
"Kami ada janji dengan seseorang." balas Rich kemudian karena Leon yang tampak enggan menjawab pertanyaan adiknya.
"Momy? Beliau masih di ruang operasi." tebak Milea. Tapi setelah dipikir-pikir, tak mungkin mereka ingin bertemu Sofia disini. Pasti ada hal lain yang membuat dua pria itu kesini secara bersamaan. Rich dan Leon tak sedekat itu.
"Tapi tak ada yang sakit kan kak?" Milea menguncang lengan kakaknya, setengah kesal karena sedari tadi Leon banyak diam seperti Rafael. Leon tersenyum lalu menggeleng.
"Tidak Milly. Percayalah semua baik-baik saja." Milly bernafas lega.
"Baiklah, kalau begitu aku dan kak Rafa akan pulang duluan." pamit Milly.
"Kau masih memanggilnya kakak juga? Kak Rafa bukan kakakmu. Kau masih memanggilnya begitu. Seolah dia Leon saja." sindir Rich pedas. Milly hanya menatapnya enggan. Kadang-kadang Rich tak menyia-nyiakan kesempatan mencari-cari alasan untuk menekannya. Sepertinya ada dendam pribadi mantan dosennya itu hingga terus memperlakukan Milea bak seorang mahasiswinya.
"Richard benar Milly. Rafael bukan kakakmu." timpal Leon dengan nada rendah. Nada yang sama saat dia meminta Milea melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Sudahlah. Biarkan Milea melakukan apa yang dia mau. Terserah dia mau panggil apa. Dipanggil nama saja aku juga tak keberatan." Penyakit saling melindungi pasangan muda itu kembali muncul tanpa diperintah. Milea tau Rafa tak ingin dia tertekan. Milly juga tau sedari tadi suaminya menjaga jarak dengan Rich. Leon juga terlihat salah tingkah. Milly harus melakukan sesuatu.
"Mas...ayo pulang." Milea segera bergelayut manja di lengan Rafael dan menariknya menjauh. Rafa masih sempat mengucapkan salam sebelum akhirnya mengikuti langkah Milea.
"Kira-kira mau apa ya mereka." lirih Milly begitu mereka memasuki mobil. Jemari Milly segera memasang seat belt dan duduk manis disamping suaminya. Rafa tak menjawab dan fokus menjalankan mobilnya.
"Kau terlihat sangat penasaran." Timpalnya setelah beberapa lama diam. Mereka juga sudah meninggalkan area parkir rumah sakit. Milea melirik suaminya sekilas.
"Aku baru ingat jika Rich adalah fokus hidupmu." lanjut Rafael seraya tersenyum sinis.
"Aku hanya ingin tau. Lagi pula yang kutanyakan juga adik ipar dan kakakku. Apa itu salah?" timpal Milea kesal.
"Tidak. Mungkin hanya pikiranku saja." tepis Rafael dingin.
"Pikiran yang penuh prasangka. Kenapa? Kakak takut aku masih ingin mengejar Richard? Kak Rafa takut kalah saingan?" sergah Milly yang mulai di kuasai emosi.
"Kak...maaf..bukan itu maksudku." Milea langsung panik. Dia tau ucapannya sangat keterlaluan.
"hmmmmm..." Rafa hanya berdehem sebentar seolah tak ingin melanjutkan percakapan itu. Milly yang sedih juga enggan bicara apa-apa pada suaminya itu hingga mereka memasuki gerbang rumah. Milea segera turun mendahului Rafa lalu masuk ke kamarnya.
Beberapa menit di kamar mandi, Milly memutuskan keluar. Tak ada salahnya rebahan sebentar sambil menunggu sholat maghrib. Seharian ini dia bahkan tak memegang ponselnya sama sekali. Tubuhnya juga lelah, minta diistirahatkan sejenak.
Kamar utama miliknya terlihat sepi. Lengang seperti tanpa penghuni. Sebenarnya Milly tak ingin tau kenapa Rafa tak ada di kamar mereka, tapi saat ingat suaminya belum mandi dan ganti baju, wanita itu memutuskan mencarinya dulu di seputaran rumah juga ke ruang kerjanya.
"Bik, apa kau melihat mas Rafa?" Beberapa ruangan sudah dia datangi ternasuk taman dan kolam renang, tapi tak ada tanda-tanda suaminya berada disana. Untunglah bi Desi lewat, Milly ingin mencari tau. Inilah akibat jika mandi saja terlalu lama.
__ADS_1
"Tuan kembali ke kantor nyonya." Milea mengerutkan keningnya. Untuk apa Rafael kembali bekerja? Jelas-jelas dia sudah pulang karena tas kerjanya ada di mobil tadi. Lalu kenapa tak pamit padanya juga?
"Ehmmm baiklah, aku akan meneleponnya nanti bik." Mile sentengah berlari ke kamarnya. Dia ingin bertanya soal keberadaan Rafa. Tapi setelah beberapa saat menelepon, wajah cantiknya jadi cemberut karena Rafa sama sekali tak mengangkat panggilannya. Milly melatakkan ponselnya lalu mulai merebahkan dirinya.
Terlalu capek membuat Milly yang semula hanya ingin rebahan jadi benar-benar ketiduran. Suara gemricik air di kamar mandi membangunkannya. Milea mengucek matanya yang memerah karena baru bangun tidur.
"Ahhh ya Tuhan....jam sembilan. Aku tidur terlalu lama." gerutu Milly lagi. Pintu kamar mandi terbuka saat dia bangkit dari ranjang.
"Kak Rafa sudah pulang?" Milly menyiapkan baju ganti suaminya segera.
"Hemmmm .." lagi-lagi Rafael berdeham, enggan menjawab pertanyaan Milly.
"Kakak sudah makan? Ayo turun, bibik sudah menyiapkan makan malam kita pastinya." Rafa tak bergeming.
"Makanlah, aku sudah makan di luar tadi." jawab Rafael dingin. Milea mendekat, menghalangi jalan suaminya yang ingin memasuki walk in kloset.
"Kakak kenapa? Kakak marah?" Rafael menggeleng. Tapi Milly bersikeras minta jawaban.
"Milly minggirlah, aku harus menyiapkan baju-bajuku."
"Baju?" ulang Milly diatara rasa terkejutnya.
"Ya, besok aku harus ke luar kota beberapa hari."
"Ke luar kota? Kenapa tiba-tiba sekali kak?" Milly memegangi lengan Rafael dengan wajah sedih. Cengekramannya begitu kuat hingga Rafael mengrenyit sakit, tapi pria itu tetap diam seolah tak merasakan apa-apa.
__ADS_1
" Milly ini masalah pekerjaan, jadi jangan banyak bertanya." Rafael melenggang pergu, meninggalkan Milea yang terpaku di tempatnya.