
Milea menarik selimutnya hingga menutupi dada. Bukannya tidur, dia malah sibuk memandangi wajah tampan Rafael yang sudah terlelap beberapa saat lalu. Rona lelah terpancar diwajah tampannya.
"Apa selama ini aku sama sekali tak pernah memperhatikan dia? Lihatlah...dia lebih gagah dan...tampan dengan kulit putihnya yang kemerahan dari pada Richard. Dia juga pria penyayang yang amat santun pada siapapun." gumamnya dalam hati. Kedua bola matanya sama sekali tak bisa lepas mengamati wajah si tampan yang sudah tenggelam ke alam mimpinya. Tanpa sadar, tangan kanan Milly terulur membelai pipi Rafael lembut.
"Farah...." gumam Rafael pelan. Sebuah senyum terpatri di bibir tipisnya. Dalam tidurpun dia bisa menyebut nama seseorang dengan wajah semringah. Berarti orang itu pernah merajai hati si pria hingga saat ini. Dan tentunya menorehkan kenangan bahagia dihati Rafael.
"Farah?" ulang Milea tak kalah pelan. Ada yang terasa sakit disudut hatinya. Kenapa Rafael malah menyebut nama wanita lain saat pertama kalinya mereka tidur satu kamar dirumah itu? siapa Farah? pasti mantan pacar Rafa. Memikirkannya saja sudah membuat darah Milea mendidih. Pengorbanannya membuka hati untuk Rafa benar-benar tak ada artinya. Milea segera duduk dan menyingkirkan selimutnya.
"Bangun kak!!!" tangannya mengguncang tubuh Rafa. Tuan muda Hutama itu membuka matanya yang terlihat sayu dan memerah karena baru bangun tidur.
"Ada apa Milly?" tanyanya malas. Rasa capek dan mengantuk masih menguasai dirinya.
"Siapa Farah??" tanyanya terdengar amat emosi. Milly lebih emosi lagi saat melihat Rafael bukannya memberi dia penjelasan, malah kembali menarik selimutnya dan mencari tempat nyaman untuk melanjutkan tidurnya seolah tak terjadi apa-apa. Milea marah.
"Kak!! Aku bertanya dan kakak harus menjawabnya!!" Milea kembali menarik selimut yang menutupi tubuh kekar suaminya. Rafa kembali membuka matanya dan menatapnya sekilas.
__ADS_1
"Bisa kita bicarakan ini besok saja Mil? aku sangat mengantuk." ujarnya lembut. Tapi Milea yang sudah dikuasai amarah tak bisa menerimanya. Ditariknya selimut Rafael hingga jatuh ke lantai lalu mengguncang tubuh Rafael kasar.
"Bangun atau aku akan langsung bertanya pada momy sekarang!!" ancamnya keras hingga Rafapun terpaksa bangun dan duduk. Pria itu menarik nafas, mengumpulkan kesadaran yang tinggal separuh saja.
"Lihat jam berapa sekarang? Pantaskah kau membangunkan suamimu dan mengajaknya bertengakar tengah malam begini?" Tak ada raut marah diwajah Rafael yang teduh. Hanya kata-katanya terdengar menekan dan penuh intimidasi.
"Aku pantas melakukannya karena aku istrimu. Kakak duluan yang mulai." balas Milea berang. Wajahnya jadi segalak srigala sekarang.
"Aku?? Apa yang kulakukan padamu hemm?"
"Farah!! Kakak menyebut nama Farah tadi. Siapa dia kak?" buru Milea dengan tangan terkepal. Entah sejak kapan dia jadi emosian seperti sekarang. Yang jelas mendengar suaminya menyebut nama wanita lain saja sudah membuatnya ingin menemui wanita itu dan menjambak rambutnya sekarang.
"Itu tidak penting!! Jawab saja..siapa dia!!" Milly tentu tak bisa berterus terang soal insiden belai-membelai pipi yang tadi sempat dia lakukan. Bisa hancur harga dirinya.
"Aku tidak mau menjawabnya Milly." Rafael membuang wajahnya, menyembunyikan matanya yang berkaca. Tapi Milea teralu awas untuk melewatkannya. Milly tau Rafa terluka. Salahkah dia yang memaksa dan berkata kasar pada suaminya dan membuat perasaannya terluka? Ahhh...dia tak peduli lagi siapa Farah, apa hubungannya dengan Rafa, atau seberapa lama wanita itu menghuni hati suaminya. Milea trenyuh.
__ADS_1
"Maafkan aku kak." dan tanpa aba-aba wanita itu memeluk Rafael erat, merasakan kesedihan yang dirasakan suaminya.
"Aku sudah kehilangan dia Millea...." lirih Rafael diiringi setetes air mata yang jatuh dirambut hitam legam Milly. Pria setampan dadynya itu membalas pelukan Milly tak kalah erat, menyeka air mata yang terus berjatuhan di pipinya.
"Maafkan aku yang sudah menyakitimu kak." Milly kembali mengucapkan kata maaf karena rasa penyesalan yang mendalam dihatinya. Rafael mengangguk seraya melepaskan pelukannya.
"Aku lupa belum mengenalkanmu padanya. Besok kita akan kesana bersama momy dan dady." tatapan teduh itu seperti menyihir Milea.
"Momy? dady? me...mereka berdua juga mengenal Farah?"
"Mereka sangat menyayangi Farah." Rafael tersenyum kecil saat mengatakannya. Seolah kenangan tentang Farah hadir dipelupuk matanya.
Milea tentu saja merasa heran mendengar kenyataan itu mengingat kedua orang tua Rafael bukan orang sembarangan yang mengijinkan anaknya dekat dengan lawan jenisnya. Jika itu momy Sofia, Milea percaya karena ibu mertuanya itu memang ramah dan penyayang pada siapa saja. Tapi dady Nando? auranya sangat kuat dan dingin. Dia yang sudah jadi menantunya saja tak berani terlalu dekat dengannya, Farah pasti wanita yang istimewa. Milea menundukkan kepalanya. Perjalanannya akan semakin berat. Belum apa-apa saja sudah ada batu sandungan di depan matanya. Farah mungkin cinta pertama suaminya. Siapapun tau jika cinta pertama itu sulit dilupakan. Apalagi dia sangat dekat dengan keluarganya. Ahh...Milly tak yakin bisa memenangkan hati Rafael untuknya.
"Sekarang tidurlah." Rafa menata bantal untuknya lalu menepuk sisi ranjangnya. Sebenarnya terbuat dari apa hati suaminya itu? Dia tak marah saat Milly mengusik tidurnya dan membuatnya bersedih. Lalu bagaimana Millea bisa menolak kekaguman dan kesabaran sosok sempurna di depannya itu?
__ADS_1
"Boleh...aku peluk kak Rafa?" Pertanyaan yang terdengar polos dengan ekspresi serupa yang membuat Rafa ingin tertawa. Tiba-tiba dia ingat Leon saat meminta tolong padanya. Wajah mereka identik.
"Hmmm...kemarilah." Rafael yang sudah lebih dulu merebahkan diri membuka tangannya hingga Milea refleks menjatuhkan diri dan memeluk tubuh tegapnya.