
Rafael berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit. Setelah Milly meninggalkannya di area parkir hotel tadi pria muda itu memilih kembali ke rumah sakit keluarganya dimana Ken ibrahim dirawat. Leon yang baru saja keluar untuk membeli sesuatu menghentikan langkah dan menunggu Rafael di depan pintu ruang perawatan.
"Kenapa kembali kemari, Raf?" tanyanya heran.
"Kau meninggalkan papa sendirian?" tanya balik Rafael menyelidik. Bukannya menjawab, Leon memilih duduk di bangku yang diletakkan diluar kamar dan meminta adik iparnya itu duduk disana layaknya saat mereka usai latihan basket di sekolah. Tangannya merogoh kantung plastik yang dibawanya lalu mengulurkan minuman ringan pada Rafael.
"Ada perawat yang menjaganya." sahutnya enteng sambil meneguk minumannya.
"Perawat? Kau bahkan percaya begitu saja padanya dan meninggalkan papa sendirian saat tertidur?" suara Rafael sedikit meninggi karena kesal. Entah mengapa dia jadi khawatir mendengar mertuanya ditinggal bersama orang asing di kamar perawatannya.
__ADS_1
"Suster Mega ditugaskan langsung oleh momymu, Raf. Dia sangat kompeten karena nyonya Sofia sangat percaya padanya." Rafael sedikit merasa lega saat mendengarnya. Suster Mega adalah anak asuh keluarganya yang tentu saja tak bisa diragukan loyalitasnya pada keluarga Hutama. Jika Sofia sampai menugaskannya secara langsung, bisa dipastikan jika Ken Ibrahim adalah orang istimewa bagi keluarga Hutama.
"Syukurlah jika Mega yang menjaga papa." lirih Rafael sambil mengusap wajahnya lega.
"Lagi pula kami tak punya musuh seperti keluarga lain Raf. Tak ada yang kami khawatirkan. Toh hidup mati itu adalah takdir." Leon benar, keluarga Ibrahim sangat sederhana. Tak banyak pemberitaan yang beredar seputar keluarga mereka yang terkesan biasa-biasa saja dan jauh dari gosip. Leon dan Milly bahkan bisa hidup layaknya keluarga biasa diluar sana meski mereka termasuk ke dalam jajaran keluarga kaya raya. Hal yang sangat diinginkan oleh Rafael saat muda dulu karena sebagai seorang tuan muda dan penerus utama keluarga konglomerat terkenal dia selalu dikawal kemanapun dan kehilangan separuh kebebasannya. Momynyalah yang selalu menguatkannya juga membuatnya menerima dan mensyukuri nasibnya yang sebenarnya membosankan.
"Ngomong-ngomong kenapa kau kembali kemari? Apa Milly mengusirmu dari rumah kalian?" Suara kekehan pelan terdengar dari bibir pria tampan itu. Ya, Leon termasuk jajaran pria tampan meski tak setampan Rafael atau Richard. Jika Milea punya aksen Turki seperti papanya, maka Leon sama sekali tak mewarisinya. Tapi dia punya ketampanan khas Jawa dengan kulit sawo matang yang sangat mirip ibunya. Bisa dikatakan pria ini terlihat maskulin dari warna kulitnya.
"Milly mungkin belum bisa menerima alasanmu, Raf." Leon sangat hafal tabiat adiknya itu. Milly tak bisa marah dalam jangka waktu yang lama pada orang lain, apalagi keluarganya. Adiknya itu juga bukan seorang pendendam yang akan mengotori hatinya dengan hal ta berguna.
__ADS_1
"Tapi itu kenyataannya Lee. Aku malah belum sempat menceritaknan apapun, tapi dia pergi dan mengirimkan pesan itu." Rafael kembali mengusap wajah sendunya.
"Sudahlah, mungkin Milly butuh waktu untuk memaafkan dan menerimamu." nasihat Leon pelan.
"Pulanglah ke apartemenku Raf. Istirahatlah disana hingga papa diijinkan pulang. Aku akan membawamu tinggal di kediaman kami meski Milly tak mengijinkannya." Leon menyerahkan kunci apartemen miliknya yang selama ini dia tempati, termasuk tempat Rafael berkunjung saat melepas penat dan masalah. Persahabatan mereka bahkan terjalin laksana keluarga jauh sebelum rencana perjodohan Milea.
"Tapi Lee ... Aku bahkan sudah tak punya apa-apa." Leon menepuk bahu sahabatnya pelan.
"Kau masih punya aku. Walau nanti kau tak lagi menjadi suami Milly, aku berjanji akan selalu ada untukmu. Yang kupunya boleh kau gunakan juga. Jadi jangan berpikiran macam-macam." Rafael menatap sang sahabat dalam sebelum memeluknya erat. Jika ada sahabat terbaik di dunia, mungkin Leon adalah salah satunya. Dia selalu membuka lebar pintu tempat tinggalnya kapanpun Rafael butuh dirinya, jadi pendengarnya juga orang yang selalu pasang badan saat sang tuan muda Hutama itu dalam masalah. Dan sekarang....saat Rafael tak punya apa-apa, Leon malah menampungnya walau Rafael sudah menyakiti hati Milea, adik kesayangannya.
__ADS_1
"Sekarang cepat pergi sebelum papa bangun dan curiga padamu." Leon segera bangkit dan masuk ke kamar perawatan tanpa menghiraukan Rafa setelah mengatakannya. Kunci mobil yang tadi diserahkan Rafael padanya juga kembali dia serahkan pada sang ipar.
"Aku akan datang pagi-pagi sekali besok." kata Rafael sebelum Leon menghilang dibalik pintu.