Love You More, Husband

Love You More, Husband
Delay


__ADS_3

Sofia seperti punya bayi perempuan sekarang. Bagaimana tidak? Milea sejak tadi tak berhenti menangis dan meminta diperbolehkan menyusul Rafa. Dia jadi mengurungkan niatnya pergi ke yayasan karena perbuatan Milly itu.


"Momy...apa kak Rafa pergi dengan asisten jelek itu?" tanyanya setelah agak tenang.


"Milly..dia punya nama. Jangan biasakan memberi panggilan buruk pada orang lain nak." nasihat Sofia sambil ikut merebahkan diri disamping Milly. Entah kenapa sifat manja Milly membuatnya sangat menyayangi gadis itu.


"Habisnya Milly kesal mom!"


"Kesal atau cemburu?" goda Sofia tanpa ekspresi. Milly jadi termenung mendengar pertanyaan mertuanya itu.


"Habisnya Mily kesal pada Yura mom. Kenapa kak Rafa tidak memilih asisten laki-laki saja?" Milea mengerucutkan bibirnya.


"Harusnya kau tanya langsung pada suamimu Milly." sahut Sofia. Bel berbunyi, membuat dahi Sofia mengerenyit. Tak biasanya ada yang bertamu di jam kerja. Para penjaga juga pasti akan melapor dulu dari gerbang jika ada tamu. Setelah pintu terbuka juga tak ada pelayan yang menuju ke atas untuk memberitaunya. Padahal yang ada dirumah itu cuma dirinya dan Milea. Sofia segera bangkit dari rebahannya diikuti Milly yang juga penasaran.


"Siapa yang datang, Re?" tanya Sofia pada Rena yang barusan mengunci kembali pintunya. Rena memberi hormat pada mereka.


"Tuan muda nyonya." jawabnya.


"Maksudmu Rafael?" Sofia memastikan. Rena mengiyakan. Milea yang mendengar percakapan keduanya segera menghambur ke ruang kerja suaminya di dekat tangga.


"Kau....." Rafa yang barusan membuka kemejanya menghentikan gerakannya seketika saat Milly tiba-tiba masuk ke kamarnya bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Rafa menarik nafas kasar.

__ADS_1


"Milly, biasakan mengetuk pintu saat masuk ke kamar orang lain." ujarnya dengan nada rendah. Salah jika Rafa berpikir Milly akan tersinggung. Gadis itu malah berlari kecil ke pintu, membukanya dengan geraka cepat, menutupnya lagi lalu mengetuknya dari luar. Benar-benar aneh.


"Masuk!" Rafa terpaksa menjawab saat ketukan ke tiga. Milea kembali masuk lalu mendekatinya.


"Kakak tidak jadi pergi?" tanyanya antusias.


"Penerbangan delay. Dady juga sudah mengirim om Alex siang ini." Milea bersorak girang, tak terduga gadis itu malah memeluk Rafael sebelum pria itu bisa berbuat apa-apa. Tak ada yang dilakukan sang pria saat wajah seputih pualam itu bahkan sudah menempel di dada polosnya yang sudah terbuka walau kemeja yang dipakainya belum tanggal sepenuhnya. Rafael tercekat saat sesuatu yang basah mengenai dada bidangnya. Milea menangis.


"Jangan pergi." bisiknya sambil terus memeluk tubuh tegapnya makin erat. Berlahan Rafael mengangkat tangannya, mengelus kepala Milea.


"Aku tidak kemana-mana." balasnya tak kalah lirih. Entah berapa lama mereka saling memeluk tanpa ingat waktu hingga Rafael melonggarkan tangan sang gadis yanga melingkari perutnya lalu menangkup wajah ayunya.


"Berhentilah menangis." Milea menatapnya nanar.


"Milly, ini cuma ruang kerja. Kau bisa lihat bukan jika ranjang disana hanya cukup untuk satu orang saja?" Rafa sengaja bergerak kesamping agar Milea bisa melihat dengan jelas kamar tidurnya.


"Setidaknya biarkan aku tidur di sofa." Kali ini Rafael menggeleng. Matanya bahkan berkilat marah.


"Tidak Milly. Apa kata keluargamu nanti jika tau anak gadis mereka diperlakukan begini? aku mengambilmu dengan rasa hormat dari keluargamu, aku juga akan menjagamu." Salahkah jika hati Milea seperti teriris sekarang? Rafael bahkan masih memikirkan dirinya juga keluarganya saat dia saja sama sekali tak memikirkan perasaan orang tuanya yang tinggal serumah dengannya.


"Kalau begitu kembalilah ke kamarmu." Rafael menghapus air mata yang terus berjatuhan di pipi mulusnya.

__ADS_1


"Pakailah, aku bisa memakai kamar tamu nantinya. Jangan pikirkan aku Milea. Aku ini laki-laki dan ini rumahku. Aku bisa tidur dimana saja aku mau."


"Tapi aku ingin kak Rafa tidur bersamaku di kamarmu." Milea sepertinya mulai meradang. Wajahnya bahkan sudah memerah sekarang. Entah karena malu atau hal lain.


"Baiklah." putus Rafa kemudian. Sepertinya pria itu sudah lelah berdebat. Tubuhnya minta diistirahatkan. Belum lagi beberapa email wajib dia teliti karena dia tak masuk kantor hari ini.


"Terimakasih kak." dan tanpa pamit Milea pergi meninggalkan ruang kerjanya hingga Rafa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan tingkah Milea. Mungkin istrinya itu terbiasa dimanja hingga bertindak semaunya. Rafael segera menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa gerah.


Belum lagi Rafael sempat berpakaian, pintu kembali di ketuk dari luar. Rafa sedikir memijit kepalanya, mungkin kesal.


"Masuk." katanya. Pintu terbuka. Lagi-lagi Milea. Istrinya itu datang membawa secangkir jus dan kudapan lalu meletakkannya di meja.


"Apa kakak aku bekerja di sini?"


"Ya, ada beberapa hal yang harus ku kerjakan." Sahut Rafael sambil membuka lemarinya, mencari pakaian. Tuan muda Hutama itu seketika menarik tangannya saat tangan lembut Milea ikut meraih baju-bajunya. Mengambilkan kaos rumahan dan celana pendek untuknya tanpa diperintah. Rafael kembali heran.


"Apa kau baik-baik saja Milea?" tanyanya hati-hati. Milea menatap netra coklat sang suami tanpa ragu.


"Ya." balasnya tegas.


"Kau tak perlu melakukan semua ini Milly, aku bisa melakukannya sendiri." Tentu saja Rafael yang sudah biasa mandiri bisa melakukan apapun tanpa bantuan. Dan lagi dia sudah biasa mengurus dirinya tanpa campue tangan orang lain.

__ADS_1


"Aku perlu melakukannya karena aku ingin belajar menjadi istri yang baik kak."


__ADS_2