
Tak ada pembicaraan diantara Milly dan Rafa setelah sama-sama berada di dalam mobil. Rafa sibuk menyetir setelah Milly menyerahkan kunci tadi, dan Milly masih mendekap erat Jose dalam pelukannya setelah anak itu tertidur. Jaketnya bahkan digunakan untuk menyelimuti anak itu hingga bisa nyenyak selama puluhan menit.
"Berhenti!" kata Milly singkat. Rafa menghentikan kendaraannya lalu mencari tempat parkir di pinggir marka jalan.
"Tolong belikan seporsi saja untuk Jose. Anak ini lapar." Milly mengulurkan lembaran uang berwarna merah pada suaminya yang hanya diam menatapnya.
"Baiklah, biar aku yang beli." Millea hendak meletakkan Jose dikurisnya karena tak ada sahutan dari Rafa. Dia tau, sebagai seorang tuan muda kaya raya, suaminya tak terbiasa membeli makanan sendirian. Ada bawahan atau asisten pribadi yang akan memesannya tanpa dia perlu repot-repot mengantri. Mitha memilih turun dan membelinya sendiri.
"Berikan satu porsi plus minuman ya mbak." pesannya pada gerai makanan cepat saji yang mereka temui. Sebenarnya makanan itu tak sehat untuk anak-anak seperti Jose, tapi dia terpaksa membelinya mengingat Jose mungki belum makan. Milly bahkan bisa mendengar perut Jose yang bersuara keras dari tadi.
"Kami ingin tiga porsi untuk dimakan disini." Hampir saja Milea berjingkat saat disampingnya, Rafael sudah berdiri gagah sambil menggendong Jose yang baru bangun tidur. Mata beningnya mengrejab beberapa kali saat melihat foto olahan ayam yang disukainya. Tangannya terulur pada Milly secara spontan, ingin digendong tante penolongnya.
"Mas ..kamu disini?" Milly menyambut tangan Jose dan mengendongnya.
"Dia mencarimu." Milea mengangguk.
"Totalnya...."
"Tolong ambilkan uang di dompetku mas." tentu Milly yang menggendong Jose tak bisa mengambil uangnya. Tapi Rafa memilih mengambil dompet di saku celananya, memberikan dua lembar pada kasir dan menyuruh Milly duduk duluan. Milly tentu merasa aneh, suaminya tak terbiasa menyimpan uang cash di dalam dompetnya, tapi sekarang, pria itu malah memilikinya dalam jumlah lumayan banyak di dompetnya.
__ADS_1
"Jose...kau bisa makan sendiri bukan?" tanya Rafael lembut pada bocah itu setelah makanan mereka tertata rapi di atas meja. Jose bimbang. Sebenarnya dia ingin makan sendiri, tapi tubuhnya sangat lemas karena dari pagi belum makan. Sekarang hampir malan dia baru menemukan makanan.
Milly meraih susu hangat dari nampan Jose dan mengulurkannya di dekat bibir si bocah yang langsung diminum cepat. Melihat Jose yang kehausan membuat Milly iba. Keputusannya tepat saat menyuruh Rafael berhenti tadi. Anak itu bisa dehidrasi jika mereka tetap memaksa meneruskan perjalanan ke rumah sakit saat macet seperti sekarang. Tak lama, Milly memutuskan menyuapi Jose juga. Sungguh hatinya merasa senang saat Jose memakan tiap suapan dari tangannya lahap.
" Makanlah." Milly mengalihkan pandangannya dari wajah Jose ketika mendapati tangan besar Rafael sedang mengulurkan makanan hendak menyuapinya. Jika saat itu hubungan mereka baik-baik saja tanpa kehadiran Shane, mungkin sekarang Milly akan sangat bahagia. Tapi luka itu begitu terasa.
"Aku bisa sendiri mas. Kamu makan saja. Mungkin kau juga lapar seperti Jose." Tentu Milea tau tak ada apapun di apartemen itu selain sampah. Jika Jose saja kelaparan, bisa dipastikan Rafapun merasakannya.
"Tapi kau butuh makan Milly. Makanlah." Rafael terus memaksa Milly menerima suapannya karena rasa khawatir mengingat mertuanya di rumah sakit sejak pagi hari. Milly pasti tak makan dengan baik.
"Sudah kubilang aku bisa makan sendiri. Lagi pula aku tak suka makan dari tangan yang sudah disentuh wanita lain." ketus Milly karena kesal dipaksa. Suaranya yang sedikit meninggi memaksa beberapa orang yag kebetulan duduk di dekat mereka menoleh ingin tau walau hanya sekejap.
Jose yang sudah selesai makan turun dari pangkuan Milly dan mulai bergerak aktif karena melihat anak seusianya di dekat mereka. Anak-anak memang punya dunia mereka sendiri. Milea yang merasa bersalah telah berkata kasar pada Rafael segera mengambil nampan milik suaminya dan menggantinya dengan miliknya lalu memakannya.
"Makanlah. Tak baik membuang makanan." katanya tegas tanpa menatap Rafael yang masih terdiam. Pelan tapi pasti, pria tampan itu menarik makanannnya dan mulai makan dalam diam.
"Bagaimana keadaan papa?" tanya Rafael sesaat setelah menyelesaikan makan mereka.
"Masa kritisnya sudah lewat. Aku menjemputmu untuk memintamu bersikap seolah kita baik-baik saja. Terserah jika diluar nanti kau main gila , asal papa tidak mengetahuinya. Anggap saja aku berhutang budi padamu. Tapi sebagai imbalannya, aku akan mengijinkanmu menikahi wanita itu." kata Milea amat tenang seperti tanpa luka. Terlukapun dia tetap harus melakukannya demi sebuah nyawa orang tuanya. Jantung Ken harus tetap sehat jika ingin hidup lebih lama dan Milly memilih mengorbankan dirinya asal ayahnya tetap hidup.
__ADS_1
"Momy bilang Papa bisa jadi kehilangan sebagaian kecil memorinya setelah operasi. Karena itu aku menjemputmu. Yang dia ingat adalah moment kita baru menikah saja. Selebihnya dia akan lupa. Kita bisa bekerjasama bukan? kau bisa menikahi mantan tunanganmu dan aku bisa menyelamatkan nyawa papaku."
"Bagaimana jika aku tak mau?" Milea menatap bola mata coklat suaminya. Dia tak akan datang jika tak terpaksa, sakit ini masih menusuk ulu hatiny hingga terluka namun tak berdarah.
"Aku tak suka poligami." lanjut Rafael dingin. Milly menghembuskan nafas panjang, menahan air mata yang akan lolos dari matanya. Sungguh ...dia tak ingin kehilangan Ken ibrahim saat dirinya terpuruk dalam nestapa.
"Kalau begitu aku akan mundur." putusnya penuh ketegasan yang muncul entah dari mana. Dia tau Rafa tak akan mempertahankannya karena sebuah obsesi dimasa lalu yang ingin dia wujudkan. Dia hanya orang asing dalam kehidupannya yang mungkin sukar diterima.
"Tak ada yang bisa membaca umur manusia termasuk momy. Papa akan tetap hidup jika Allah berkehendak baik ada atau tak ada aku disisimu." Setetes air mata jatuh ke pipi Mulus Milea tapi segera diusap dengan tisu hingga tak berbekas. Luka ini sudah mati rasa.
"Kalau begitu terimakasih atas nasehatnya. Aku harus segera ke rumah sakit sekarang."
"Lalu Jose?" Milea menghentikan gerakan tangannya untuk merapikan tasnya. Astaga, dia sampai lupa pada anak itu karena bicar serius tadi.
"Dia akan tetap bersamaku." putusnya cepat.
"Agar kau bisa menarik perhatian papanya dengan bersikap baik padanya?" Milly tersenyum miris lalu berdiri.
"Setidaknya aku bukan mantan tunanganmu yang selalu memanfaatkan bocah tak berdosa untuk masuk dalam kehidupan orang lain." Dan tangan lembut Milly sudah menjangkau tubuh kecil Jose yang masih sibuk bercanda dengan anak seusianya tadi.
__ADS_1
"Ayo!" Kata Rafael yang sudah lebih dulu menjangkau tubuh Jose dan menggendongnya lalu kembali mengandeng jemari Milly untuk pergi dari sana.