Love You More, Husband

Love You More, Husband
Menyusul


__ADS_3

Makan malam sudah usai. Momy Sofia dan Milea juga sudah meninggalkan meja makan. Momy Sofia bergabung dengan suami dan anak-anaknya yang sepertinya sedang membicarakan hal serius di ruang keluarga yang dilengkapi sofa dan permadani tebal khas keluarga kaya. Nando yang menyadari kehadiran istrinya tentu langsung meraih jemarinya dan mendudukannya di sisinya.


"Kalian....sedang serius?" tanya Sofia lemah. Sebagai seorang ibu, dia tenta tak ingin menganggu momet ketika anak-anaknya sedang membicarakan pekerjaan atau minta pengarahan pada dady mereka tentang pekerjaan atau masalah seputar pria. Sofia lebih senang menghabiskan waktunya di kamar saja jika mereka sibuk bersama.


"No momy. Kami hanya membahas proyek Jepang yang ditangani om Alex." jawab Rafa cepat. Sofia jadi tak ragu mendekat dan duduk disamping suaminya.


"Dad...ada yang ingin kubicarakan." Fernando beralih menatap putra keduanya yang memasang wajah serius. Kulit kuning langsat khas Sofia mendominasi tubuhnya meski wajahnya amat mirip dirinya dan Rafael.


"Katakan." balas Nando juga dengan ekspresi seriusnya. Biasanya putra keduanya itu pasti akan membuatnya pusing dengan meminta hal yang bertentangan dengan kemauannya. Richard adalah pemberontak sejati.


"Beri aku modal." Bukan hanya Nando yang terkejut, Sofiapun sama. Tapi Nando adalah pemain ekspresi terbaik yang bisa segera menguasai keadaan.


"Ada yang ingin kau kerjakan?" Richard memajukan duduknya. Pertanda dia sangat bersemangat malam itu. Pertanyaan dadynya adalah angin segar yang tak boleh disia-siakan.


"Aku ingin mendirikan perusahaan game online." Semua saling pandang.


"Hutama grup adalah perusahaan raksasa dengan berbagai bidang usaha Rich. Jangankan bidang industri, kita bahkan sudah merambah bidang kesehatan, minyak. Pendidikan dan yayasan besar yang bernaung dibawahnya. Kau tinggal mengembangkan dan meneruskannya bersama Rafael." Fernando tak hanya sekali dua kali menghadapi kemauan aneh putra bungsunya itu dari kecil. Pria tampan berdarah campuran itu sudah hafal betul sifat Richard yang menyukai petualangan dan hal baru.


"Tapi dad....ini soal lulusan universitas kita dalam bidang...."


"Lapangan kerja untuk mereka bukan? baik, dirikan perusahaanmu tapi di bawah naungan Hutama grup. Dady akan menyokong semua dananya dengan satu syarat..."

__ADS_1


"Kuharap dady tak berniat mempersulit aku dengan syarat aneh yang tak masuk akal." gerutu Richard yang memasang wajah cemberutnya. Sama seperti dadynya yang hafal wataknya, Richard juga amat hafal dengan watak dadynya.


"Kali ini tidak."


"Syukurlah jika dady tau aku belum menikah, imut dan jadi idola."


"Kau terlalu narsis Rich." potong Sofia cepat. Gemas rasanya melihat putranya itu amat percaya diri seperti itu.


"Itu kenyataan momy. Bahkan menantu momy sendiri begitu tergila-gila padaku." seloroh Richard bercanda.


"Itu semua....tidak benar Rich." Suara halus membuat mereka semua menoleh pada sumber suara. Milea berdiri disana dalam balutan baby doll bermotif domba.


"Aku bukan tergila-gila padamu seperti yang kau katakan tadi. Aku hanya kagum...ya...hanya mengagumimu saja." Milea sama sekali tak ragu mengatakannya di depan semua orang. Tanpa di duga tawa keras Richard pecah hingga terbahak.


"Aku hanya bercanda kakak ipar. Kenapa kau seserius itu hemm...atau kau takut kak Rafa salah paham padamu?" Lanjut Richard terdengar menggoda. Tapi siapa sangka wajah Milea jadi merah padam karenanya.


"Itu...ahh...itu..."


"Milly sebaiknya kau segera ke kamar." Milea menoleh pada suaminya sekilas lalu mengangguk lemah.


"Apa kakak akan menyusulku nanti?" Terdengar manis bukan? tapi lihatlah wajah Rafael yang jadi semerah istrinya.

__ADS_1


"Hmmm...ya." balasnya pendek. Sofia dan Nando yang cukup mengerti akan sinyal positif keduanya segera menguap bersamaan.


"Masalah perusahaab kita lanjutkan besok saja Rich. Dady sangat capek." Nando segera berdiri diikuti Sofia yang juga memasang ekspresi lelah.


"Tapi ini belum jam 10 dad." Rafael tentu merasa amat aneh dengan orang tuanya. Biasanya jam 10 malam baru dadynya masuk ke kamar karena jika tidak momy Sofia akan berceramah panjang lebar soal kesehatannya. Sejak itulah mau tak mau Nando patuh. Toh istrinya berniat baik untuk kesehatannya. Sofia akan sangat panik jika dia sakit. Pernikahan yang indah dan manis.


"Sepertinya dady kalian harus tidur lebih awal hari ini."


"Ehmmm...aku baru ingat, ada sesuatu yang harus ku kerjakan." Richard malah lebih dulu berdiri naik ke kamarnya meninggalkan Milly dan Rafael yang masih saling pandang.


"Kakak mau tidur sekarang atau nanti?" tanya Milea dengan polosnya.


"Pergilah lebih dulu." pintanya. Milea menaiki tangga dengan rasa enggan. Beberapa kali dia bahkan menoleh untuk memastikan keberadaan Rafa.


"Jika setengah jam lagi kak Rafa tak kesini maka aku akan menyusulnya ke bawah." gumam Milea.


Lima belas menit kemudian pintu kamar terbuka. Milly langsung bernafas lega saat tau Rafael yang masuk dan duduk di ranjang mereka.


"Apa...apa aku perlu pindah tidur ke sofa atau lantai kak?" Untuk urusan ini Milly pasti terlaly banyak nonton drama pernikahan paksa yang tak bahagia.


"Itu tidak perlu Milly." sahut Rafa lalu menarik selimut tebalnya hingga sebatas dada.

__ADS_1


__ADS_2