Love You More, Husband

Love You More, Husband
Tunggu


__ADS_3

Milea mengetuk pelan pintu ruang kerja Rafael. Sekarang terbilang sudah siang. Lima belas menit lagi bahkan sarapan pagi sudah dimulai. Tapi suaminya belum menampakkan wajahnya baik di ruang makan atau dihalaman rumah tempatnya joging setiap hari. Rumah itu terlihat lengang. Ini diluar kebiasaan Rafael yang rutin melakukan aktivitas selepas sholat subuh.


"Apa nyonya muda mencari tuan muda?" hampir saja Milea berjingkat kaget karena kehadiran Rena yang tiba-tiba ada dibelakangnya.


"Ohh ehh..kau mengagetkanku bik. Ya, aku mencari kak Rafa. Sudah siang tapi dia belum sarapan." Milly tersenyum kecil saat membayangkan Rafa duduk menyantap ayam lada hitam buatannya. Pasti suaminya itu suka. Meski belum bisa mencintai Rafa, setidaknya.dia sudah menepati janjinya untuk belajar menjadi istri yang baik baginya.


"Tuan muda sudah pergi ke bandara dini hari tadi nyonya muda." Terang Rena.


"Bandara? kak Rafa mau kemana bik?" sungguh Milly dibuat terkejut karenanya. Semalam Rafa tak bicara apapun padanya. Kenapa pagi ini dia sudah pergi? bahkan tanpa pamit padanya. Tubuh Milea melemas. Apa sebegitu tak berharganya dirinya di mata Richard? Milea berlari ke kamar papa dan mama mertuanya dengan mata berkaca. Tepat saat dia akan mengetuk pintu, Sofia membuka pintu kamarnya. Lagi-lagi Milly dibuat terkejut karenanya.


"Milly..." Sofia hampir kehilangan keseimbangannya saat Milea menubruk tubuhnya dan menangis dalam pelukannya.


"Momy dimana kak Rafa? bik Rena bilang kak Rafa pergi ke bandara dini hari tadi. Kenapa tak pamit padaku mom?" tanya Milea terisak. Sofia yang tak tau apa-apa sontak kaget. Dia saja baru akan keluar kamar setelah menyiapkan keperluan Fernando, kenapa sekarang Milly malah menanyakan keberadaan suaminya pada dirinya? Ahhh dia baru ingat jika pengantin baru itu tidur terpisah dan tak saling mengurusi. Sofia mengeluh dalam hati. Bahkan pada saat-saat terburuk dalam pernikahannya dan Fernando, mereka tak pernah pisah kamar. Dia juga cukup tau diri dengan posisinya. Tak seperti...ahhh...lagi-lagi Sofia menggelengkan kepalanya, mengusir setiap prasangka buruk pada menantunya. Dia tak ingin jadi mertua yang kejam atau selalu nyinyir pada menantu. Sofia juga ingin seperti grandma Fransisca, metuanya. Mertua yang baik, tulus dan amat menyayanginya. Ternyata seberat ini ya jadi mertua? apalagi melihat anak laki-laki kebanggan keluarganya, kesayangangan Fernando bahkan tapi harus diperlakukan sangat tak adil oleh istrinya. Sang menantu yang bisa dibilang tak tau diri. Ibu mana yang tak sakit hati? tapi Sofia mencoba berjiwa besar. Dia yang merekomendasikan Milea pada suaminya untuk jadi menantunya karena persahabatan dan hutang budi pada mamanya. Sekarang dia juga harus bertanggung jawab pada pilihannya. Dia juga cukup tau betapa sakit hatinya Fernando melihat nasib putranya walau tak pernah berkata apa-apa. Tapi yakinlah, Sofia begitu takut jika sewaktu-waktu suaminya itu murka. Sesabar-sabarnya Nando..dia juga manusia. Apalagi dia tuan besar keluarga Hutama yang punya kekuasaan penuh. Dia tak yakin Fernando bisa bersabar lebih lama.


"Milly tenang dulu ya..momy juga kurang tau dimana Rafa sekarang."


"Momy..." dan isakan sedih Milea sudah menyayat hatinya. Dia seperti melihat mendiang mama Milea menangis sekarang. Sofia merangkul menantunya.


"Milly tenanglah." Sofia mengelus punggung Milly lembut.


"Ada apa ini?" Sofia menoleh pada suaminya yang sudah ada dibelakangnya dengan pakaian kerjanya.

__ADS_1


"Milly ingin tau kemana Rafa pagi ini mas." Sofia membawa menantunya keluar dari kamar agar tak menghalangi Nando yang akan ke meja makan.


"Dia menggantikanku ke Jepang."


"Jepang?? kenapa tiba-tiba begini mas?" protes Sofia juga tak kalah kaget dari Milea.


"Karena jadwalnya juga tiba-tiba sayang."


"Kenapa tidak kamu saja yang kesana mas?" Wajah kesal Sofia sudah membuat Nando gemas. Andai tak ada Milea diantara mereka, dia tentu sudah mengecup pipinya berulang kali.


"Ya karena aku ada proyek besar disini." jawaban acuh Nando makin memicu kemarahan Sofia. Dia tau Nando tak sesibuk itu. Suaminya itu bahkan tinggal perintah sana, perintah sini saja setiap saat. Sangat jarang dia turun tangan secara langsung. Apalagi sekarang Richard sudah bergabung di Hutama grup. Fernando punya banyak waktu untuk bersantai sekarang.


"Mas????!!!" sentak kecil Sofia dengan mata membulat sempurna. Tapi Nando sudah melangkah pergi ke meja makan dan duduk di kursinya. Mau tak mau Sofia mengikutinya dan membimbing Milea ke sana. Dengan cekatan Sofia melayani suaminya.


"Bisa seminggu, sebulan bahkan...setahun." jawab Nando lirih.


"Dady...aku ingin menyusul kak Rafa." Milea kembali menangis, entah karena apa. Kenapa dia merasa jadi sangat tak berharga di rumah itu tanpa kehadiran Rafael? walau kedua mertuanya sangat baik, tapi Milly merasa ada yang hilang di sudut hatinya.


"Rafa kesana untuk bekerja, bukan liburan atau main-main." Nando menatap menantunya tajam. Sejujurnya hati Milea menciut karenanya. Tapi dia harus bisa menyusul suaminya.


"Tapi aku istrinya dad. Aku...aku ingin bersama kak Rafa."

__ADS_1


"Istri? apa dady tak salah dengar?" Nando memincingkan matanya dengan raut mengejek. Sebuah seringaian terbit diwajahnya.


"Mas...." Sofia yang melihat keadaan memanas merasa perlu ikut campur. Tapi Nando sudah memberi isyarat agar dia diam.


"Dady...meski aku pernah berbuat salah, tapi aku janji akan berubah. Aku akan berusaha jadi istri yang baik untuk kak Rafa." Milea menghiba. Sofia bahkan tak tega melihat putru sahabatnya itu kembali menangis. Tapi tidak dengan Nando. Siapapun tak akan mampu meluluhkan hatinya kecuali....ratu hatinya, Sofia.


"Agar ayahmu dan Leon bahagia? kau sangat naif Milea." lagi, kata-kata tajam Nando membuat Milea bersedih. Jadi dady mertunya itu tau percakapannya dengan Rafa semalam?


"Dady kumohon maafkan aku dan biarkan aku menyusul kak Rafa." tangis Milea pecah. Tapi Nando tak bergeming. Begitulah dia jika ada keluarganya yang disakiti.


"Tidak Milea. Sama seperti momymu, kau hanya akan menunggu suamimu pulang bekerja, bukan menyusulnya. Jika kau ingin belajar jadi istri yang baik maka bersikap baiklah dan tunggu suamimu pulang. Jika perlu kau harus banyak berdoa agar dia bisa pulang secepatnya." Dan Nando segera berdiri dari duduknya, melangkah ke pintu utama dimana Alex sudah berdiri menunggunya.


"Sayang dengarkan aku, ini semua atas permintaan Rafa. Jadi jangan bertindak bodoh apalagi mempertemukan mereka. Rafa harus menata hatinya." Sofia menatap suaminya lekat lalu mengangguk. Dia percaya jika Nando akan selalu bertindak hati-hati dalam tiap keputusan yang dibuatnya, apalagi menyangkut buah hati mereka.


"Baiklah hubby, hati-hati di jalan." Sofia meraih tangan suaminya lalu menciumnya. Nando membalas mengecup keningnya mesra. Waktu memang telah lama berlalu. Tapi sungguh, kemesraan diantara mereka tak pernah pudar dimakan usia.


πŸ’


πŸ’


πŸ’

__ADS_1


πŸ’


Hai readers...maafkan author yang lama tak up ya. Kalian tentu bisa menebak apa jawabannya. Authornya lagi sibuk bertahan hidup di dunia yang sekarang bak rimba belantara ini. Siapa kuat dia yang menangπŸ˜‚ Tapi tenang...saya cerita ini tetap lanjut kok meski sering tersendat. Makanya jangan lupa beri dukungan kalian ya biar authornya semangat 45πŸ’ͺ Jangan lupa beri komentar , rating yang baik juga like kalian oke? Selamat membaca...Ilove u all😍😍😍😍


__ADS_2