Love You More, Husband

Love You More, Husband
Kerlingan


__ADS_3

"Siapa yang barusan menelepon?" Yura sampai berjingkat kaget saat suara bariton Richard terdengar. Asyik bertelepon ria membuatnya tak tau jika suaminya sudah masuk ke kamar pribadinya, sementara Dave masih tertidur nyenyak meski belum sarapan. Entah kapan nanti dia akan terbangun padahal sekarang sudah jam sebelas lewat. Sebentar lagi masuk jam makan siang. Yura bahkan sudah tertidur satu jam lebih setelah Rich pergi tadi.


"Kak Milly yang telepon. Dia dan tuan muda Rafael sudah sampai ke Mekkah pagi ini." Rich mendekati istrinya lalu berjongkok di depannya, membuat Yura rikuh dan segera berdiri andai tangan kekar Rich tak segera menahannya agar tetap duduk di tepi ranjang.


"Ubah panggilanmu pada kak Rafa. Dia kakakmu juga. Pasti kakak tak suka jika kau tetap memanggilnya begitu." ujarnya mengingatkan Yura.


"Akan kucoba."


"Lalu aku?" Yura menelisik wajah tampan suaminya tak mengerti.


"Ada apa denganmu kak?" Haruskah Rich kembali marah dengan sikap Yura yang tak pernah peka? Istrinya itu memang masuk spesies aneh. Dia tak lembut dan feminin seperti Milea, tapi cenderung maskulin dan sangat mandiri. Belum lagi sikap realistisnya yang sangat diluar nalar. Tapi anehnya wanita ini yang sudah memikatnya dengan jerat pesonanya. Rich tak suka tipe wanita manja dan lemah.


"Tak ada apa-apa." sahut Rich sambil duduk disamping Yura. Begini saja sudah cukup baginya. Tak perlu membicarakan hal tak berguna yang merusak suasana.


" Yang...apa kau keberatan jika aku meninggalkan Dave sekarang?" Rich sontak menatap istrinya. 'Yang'...manis juga panggilannya.


"Mau kemana hemmm?? Sebentar lagi makan siang dan putra kesayanganmu ini belum makan." Haruskah Rich terkejut saat tiba-tiba Yura bergelayut manja dilengannya, menjatuhkan kepalanya di bahunya malah. Sikap yang sama sekali tak Yura miliki selama ini.

__ADS_1


"Pergi ke salon. Bukannya malam ini aku harus tampil spesial untukmu?" Salon?? Apalagi ini? Yura bahkan tak pernah menginjak tempat yang bernama salon kecuali untuk memotong rambut dan itu sudah berbulan-bulan lalu karena sekarang dia memilih menyanggul rambutnya jika sedang bekerja.


"Apa istriku ini sudah ingin berubah seperti wanita tulen diluar sana?"


"Menurutmu???" Rich tertawa kecil saay Yura membalik pertanyaannya.


"Yura dengar...aku menyukai dirimu yang sekarang. Apa adanya. Jangan pernah berubah karena perkataan orang lain. Setiap wanita punya sisi kecantikan masing-masing. Milea akan terlihat cantik dengan stylenya, tapi kau terlihat amat menarik dengan yang kau miliki sekarang." Yura menengadahkan kepalanya bersamaan dengan Rich yang mengecup bibirnya sekilas. Senyum tipis terbit di sudut bibir tuan muda kedua Hutama itu.


"Ini bukan soal suka tak suka, kak. Aku...hanya ingin kakak....ehmm...tapi baiklah, lebih baik aku begini saja." Lagi, senyum lebar terkembang di bibir Rich.


"Pulanglah. Aku akan mengirim petugas salon terbaik untuk memberimu threatment dirumah. Kau tak perlu keluar."


 "Haruskah aku merasa tak sabar menunggu hari berubah malam sayang?" kali ini suara serak nan berat Rich mendominasi sesaat sebelum bibir mereka kembali bertaut.


"Mama ...papa...." Sontak pasangan muda itu saling menjauh. Dave mengucek matanya yang memerah lalu duduk.


"Ehmm....apa kau lapar jagoan?" Bukannya menjawab, Dave malah terlihat linglung.

__ADS_1


"Mama ..aku ingin ke rumah kakek Sean. Tadi aku bermimpi memancing bersamanya. Antar aku ke rumah kakek, ma." Kata Dave setelah sekian lama terdiam. Rich dan Yura saling pandang. Sejak kapan Sean papanya suka memancing? Sean bahkan menganggap jika memancing sama halnya dengan pemalas. Lalu bagaimana Dave bisa memancing bersama papanya? memikirkannya saja sudah membuat Yura bingung.


"Kakek Sean berkata akan mengajakku memancing bersama nenek Amanda di belakang rumah kemarin. Mama ayolah....antar aku ke rumah kakek." rengek Dave membuat pasangan muda itu kembali saling pandang.


"Dave, besok papa akan mengajakmu ke pemancingan. Kita mancing bersama mama Yura juga. Jadi sekarang jadilah anak manis dan pulang bersama mama oke??" Rich tentu berusaha menenangkan anaknya. Sungkan rasanya merepotkan keluarga mertuanya dengan menitipkan Dave disana.


"Kurasa itu ide yang bagus Dave. Nenek pasti akan senang menerimamu. Ahhh...aku jadi ingat jika nenek menginginkan suasana ramai. Jadi mari kesana!" Yura segera berdiri, namun Rich menahannya.


"Sayang, jangan merepotkan mama papa dengan..."


"Meropotkan apanya kak? Jika papa sudah menawarkan itu berarti sudah ada persetujuan dengan mama. Percayalah, orang tuaku tak akan pernah direpotkan dengan kehadiran Dave. Apalagi besok adalah akhir pekan. Mereka akan punya banyak waktu berdua. Kami pergi dulu ya." Dan Dave segera melompat ke pelukan Yura dengan amat girangnya.


"Apa ini tak berlebihan sayang?" Tentu Rich tetap was-was dengan keputusan istrinya. Tapi lidahnya jadi kelu saat Yura mengedipkan sebelah matanya dengan manja lalu tersenyum sangat manis sebelum menjabat tangannya lalu pergi.


"Kau sangat manis jika begini..." gumam Rich seraya menggelengkan kepalanya. Kelingan itu begitu nakal hingga mirip Julia robert saat berperan apik dalam film Pretty woman. Tapi kenapa Rich jadi punya imajinasi liar karenanya?? Yura terlihat begitu seksi tadi. Putra kedua keluarga Hutama itu segera menghubungi Akira untuk mencarikan ahli salon terbaik yang akan dia kirimkan ke rumah. Meski nantinya tak sesuai ekspektasinya, setidaknya Yura mau berusaha membuat dirinya senang walau sebenarnya Rich lebih suka Yura yang sekarang. Lihat saja perubahan apa yang bisa diberikan oleh ahli kecantikan itu pada istrinya.


Sementara dilantai dasar, Jack menyambut ibu dan anak itu di lobi dan segera membukakan pintu mobilnya agar kedua majikannya segera naik.

__ADS_1


"Kita ke rumah papaku dulu Jack." perintah Yura yang segera dilaksanakan oleh Jack.


__ADS_2