Love You More, Husband

Love You More, Husband
Tidurlah


__ADS_3

Hampir jam sembilan malam saat Leon berpamitan pulang. Dua sahabat itu memang selalu lupa waktu jika sudah berbincang. Banyak topik yang akan mereka bahas mengingat mereka sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Leon dengan perusahaan game onlinenya yang makin berkembang dan Rafael yang sibuk mengurus bisnis keluarganya karena tak mungkin dadynya sendiri yang akan menghandle semua usahanya juga milik kakeknya, Teguh hutama yang kesehatannya makin menurun.


Milea maupun Rafa sama-sama mengantar Leon sampai ke beranda. Leon tersenyum bahagia saat Rafael sama sekali tak meleoas tautan tangannya dari Milea yang masih terlihat malu-malu. Adiknya itu juga hanya curi-curi pandang pada sang suami yang bersikap sangat tenang disampingnya. Sekarang mana adiknya yang bilang mengidolakan Richard hutama dan akan mengejarnya hingga dapat? Milea seperti korban amnesia yang hanya ingat jika fokus buruannya kini adalah Rafael Hutama saja, bukan adiknya yang cinta kebebasan dan petualangan. Leon mengusap kepala sang adik lembut.


"Raf....titip adikku ya." pesannya pada Rafael yang tetap setia berdiri di samping Milea.


"Lee...Milly istriku. Kau tak harus menitipkannya padaku. Dia tanggung jawabku jika kau lupa itu." Ujar Rafael tegas. Leon tersenyum lalu masuk ke mobilnya. Hatinya tenang setelah melihat rumah tangga adiknya baik-baik saja. Rafael yang biasanya sangat dingin menghadapi perempuan juga terlihat hangat dan mesra pada adiknya. Satu lagi, Rafa berjanji tak akan menceraikan Milea sampai kapanpun. Janji itu sudah sangat membuat Leon bahagia.


"Ayo masuk Milly." Milea tersentak saat suami tampannya sudah merengkuh linggang langsingnya dan menariknya. Milea mangikuti Rafael hingga ke kamar utama. Baru setelah tiba di kamar utama sang suami melepaskan rengkuhannya.


"Buka bajumu!" Milly yang hampir menjangkau ranjang berhenti seketika.

__ADS_1


"A...aku...bu...buka baju? Ehh..untuk apa kak?" Tubuh semampai Milea kembali gemetar. Apalagi Rafael sudah memangkas jarak diantara mereka.


"Untuk terapi pembesaran alami. Apa kau lupa jika kita akan terapi setiap hari." jelas Rafa kalem. Tapi malah membuat Milea makin ketakutan. Rasanya Rafa ingin tertawa kencang entah untuk keberapa kalinya. Wajah memelas Milea benar-benar menggelitik hatinya.


"Tiap hari? Tak bisakah kita terapinya seminggu sekali saja?" tanyanya ragu. Rafael bukannya berhenti, tapi malah lebih gencar menggoda sang istri dengan pura-pura berpikir lama hingga Milea makin panik dan gelisah karenanya.


"Baiklah....dua hari sekali." putus Rafa kemudian setelah berpikir cukup lama.


"aku maunya seminggu sekali saja." tetap ingin berada di zona aman dengan menjauhi Rafael. Walau ingin membuat suaminya jatuh cinta tapi Milly masih malu bila berdekatan dengannya.


"Dua hari sekali atau tidak sama sekali Milly. Jika kau tak setuju maka baiklah. Tak jadi masalah buatku. Itu artinya kau sama sekali tak menginginkan aku membuka hati untukmu." Suara datar dengan ekspresi dingin Rafael seperti momok paling menakutkan untuk Milea. Setelah setengah jalan apa dia harus mundur dan jadi seorang pecundang? Semua itu sama sekali tak ada dalam kamus hidupnya.

__ADS_1


"Ba...baik kak. Aku setuju!!!" Milea melepaskan atasannya satu persatu dengan gerakan lambat. Rafael yang semula menatapnya lucu sekarang malah dibuat menatap wanitanya takjub. Pastinya dengan drama kesulitan menelan air liurnya sendiri. Tenggorokannya tercekat saat bra merah menantang yang dipakai Milea menyembul keluar.


Siapa bilang dada Milea kecil? tidak sama sekali. Dada seputih pualam itu sangat seksi dan kencang. Jika mau jujur Rafael sangat menyukainya. Acara pembesaran alami hanya akal-akalannya saja agar bisa menjamah Milea tanpa menurunkan gengsinya. Jika tak begini, maka selamanya hubungan mereka akan tetap jalan ditempat bukan? Lagi pula tak ada yang salah. Mereka sudah menikah. Hanya sebuah ego yang membuatnya bertahan. Rafael masih mengingat dan merasa sakit hati pada sikap Milea yang mengatakan jika dia mau menikah hanya untuk mengejar cinta Richard, bukan dirinya. Kalau saja Milly tak seceroboh itu, mungkin sekarang Rafa sudah sangat mencintainya. Tapi sungguh, rasa sakit karena perlakuan Milea masih menancap kuat hingga berakar jauh di dalam hati Rafael dan dia butuh waktu untuk mencabutnya.


"Aku bilang lepas Milly." desis Rafael dengan suara berat ketika Milly menghentikan gerakannya, menyisakan bra merah itu tetap disana.


"Aku malu kak..." lagi, wajah cantik itu merona.


"Untuk apa kau malu hemmm....aku bahkan sudah melihat dan menikmati semua yang kau miliki. Kita suami istri Milly. Tak ada yang akan kita tutupi satu sama lain." Milea menatap dalam Rafael yang berdiri menjulang di tempatnya sebelum kemudian dia meloloskan kain penutup itu tanpa keraguan.


Rafael membelai dada istrinya hingga Milea meremang. Sebuah ******* lolos kala tangan besar Rafael meremasnya bergantian. Milea kembali menutup matanya saat adegan sang bayi kembali terulang. Dia bisa merasakan lidah lembut Rafael yang berulang kali menyentuh ujungnya juga bibirnya yang menyesapnya bergantian. Milea dibuat melayang dengan lenguhan kecil.

__ADS_1


"Tak usah menahannya Milly. Kamar ini kedap suara." desis Rafael setelah melepaskan hisapannya yang lumayan lama. Dengan nafas berat pria itu beranjak. Bibirnya melengkung tipis saat menatap hasil karyanya yang mengiasi bak tato aneka bunga di dada Milea. Tangan kekarnya terulur ke atas nakas dimana minyak yang tadi dibawa Leon berada. Rafa menuangkannya ditelapak tangannya lalu membalurkannya bak tukang pijit profesional lalu menyelasaikan terapinya. Namun saat Milea kembali membuka matanya, gadis itu mengurungkannya. Deru nafas Rafael menerpa wajahnya yang makin memerah. Lagi dan lagi Rafael melabuhkan ciuman panjang di bibirnya. Milly bahkan bisa merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana, namun Rafael sama sekali tak ingin melanjutkan kegiatan panas mereka.


''Tidurlah Milly...hari sudah malam." bisiknya serak.


__ADS_2