
"Siapa yang bilang heemmm??" Milea menundukkan kepalanya. Kenapa dia malah keceplosan bicara? dia sungguh tak ingin menyuarakan isi hatinya pada sang suami. Tapi hal yang harus diingat adalah manusia mempunyai ingatan dibawah sadarnya layaknya gerakan refleks saat menghadapi sesuatu. Kata hati kadang memang susah diajak sembunyi.
"Milly...jawab!" paksa Rafael lembut. Sontak Milly menengadahkan wajahnya dan menatap Rafael berani.
"Aku yang mengatakannya mas. Sekarang segeralah sarapan. Obatmu harus diminum, aku tidak ingin memeluk pria penyakitan saat tidur, apalagi harus berkali-kali bangun untuk membenarkan selimutnya atau mengecek suhu tubuhnya." Omel Milly sambil membawa piring lauk ke arah meja. Rafael tersenyum bahagia mendengar omelan Milea yang panjang. Istri cantiknya itu memasang wajah cemberut dan kesal, padahal Rafa tau jika Milly amat perhatian dan menyayanginya. Lebih tepatnya sangat mencintainya hingga tak mau terjadi apa-apa pada dirinya. Milea selalu punya cara untuk memperlihatkan kepeduliannya. Dan Rafa suka. Ternyata begini rasanya dicintai. Kenapa tidak dari dulu saja mereka menikah??
"Mas Rafa mau makan pakai apa?" tangan Milea bergerak cekatan mengambilkan nasi untuk sang suami.
"Apa saja, jika perlu makan sepiring berdua saja denganmu."
.......blusss.....
Pipi Milea memerah. Kenapa sejak tadi suaminya selalu saja bersikap manis dan menggodanya? bagaimana jika nanti dia tergoda? Milly bergerak menyendokkan capjay goreng dan potongan lauk lalu mengangsurkannya di depan Rafael yang lagi-lagi tersenyum nakal padanya. Benar-benar!!! siapa mengira jika putra sulung Fernando itu bisa bersikap demikian ditengah image sopan dan tegasnya?
"Sini!!" Millea menghentikan gerakannya saat Rafa merebut piring yang ada ditangannya lalu mengambilkan nasi dengan menu yang sama lalu memberikannya pada Milea yang masih menatapnya aneh.
"Makanlah, setelah itu siapkan baju kerjaku." tukas Rafael lalu mulai mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Kerja?" alis Milea terangkat. Rafael hanya mengangguk tanpa berniat membalas lebih panjang. Milly yang tau jika suaminya memang tak biasa makan sambil bicara juga memilih diam dan menghabiskan sarapannya.
"Mas Rafa serius mau berangkat bekerja? Kondisimu belum begitu pulih." tanya Milea setelah mereka selesai sarapan dan masih duduk menghabiskan minuman hangatnya. Benarkan??? Milea istri yang paling perhatian??
"Ya. Kalau aku tidak bekerja, bagaimana bisa aku menafkahimu juga membayar para pekerja rumah? Apalagi Bimantara masih butuh kerja keras. Meski para karyawan ikhlas dibayar setengah gaji, aku masih punya hati Milly. Setiap tetes keringat mereka harus dihargai." meski Rafael mengucapkannya dengan suara dan ekspresi biasa saja, tapi Milea begitu tersentuh karenanya.
"Kenapa mas tak mengijinkanku membantu?" melihat suaminya bekerja keras kemarin saja sudah membuat sudut hatinya ngilu. Rasa tak tega mendominasi jiwanya. Rafa tak perlu seperti itu. Jika tak ingat pesan suaminya mungkin dia sudah memohon pada Fernando dan Sofia kemarin agar suaminya diperbolehkan kembali pada Hutama grup. Tapi sekali lagi, Milea sangat patuh pada suaminya.
"Mily, simpan saja uangmu untuk keperluanmu sendiri. Doakan saja suamimu ini mendapat banyak rejeki dan kemudahan. Rejeki suami juga tergantung pada kebahagiaan dan doa istrinya. Jadi jangan pernah berhentj berdoa dan merasa bahagia." Mata Milea berkaca saat jemari Rafael menangkup tangan kanannya yang berada di atas meja. Kenapa Rafael sangat berbeda pagi ini? Jika memungkinkan ...dia ingin hal itu tak sementara, tapi selamanya.
"Aku pasti mendoakan yang terbaik bagimu mas."
"Baiklah, tunggu. Akan kusiapkan pakaianmu." Sesuai dugaan, sang tuan muda Hutama sudah mengekori langkah panjang istrinya ke kamar diam-diam. Rafa memilih mengamati istrinya yang memilah pakaian kerja dari sofa tanpa banyak bicara. Rafa juga melihat istrinya memasukkan pakaian ganti ke dalam paperbag khusus yang dia bawa ke Bimantara.
"Astaga mas!!! Kau disini??" Milea mengelus dadanya saat berbalik dan melihat wajah tampan suaminya. Bagaimana dia tidak kaget? Langkah Rafael saja tidak bisa dia dengar.
"Ya. Aku khawatir jika istriku menangis seperti tadi. Jadi aku ingin terus di dekatnya." gombalan lagi bukan? tapi anehnya Milea suka dan makin suka.
__ADS_1
"Sudah siap. Mas bisa ganti baju sekarang."
"Milly...." panggil Rafael saat istrinya akan beranjak membuka korden kamar.
"Ya??" Millea berbalik dan mendapati suaminya sudah ada dibelakangnya. Kembali membuatnya kaget.
"Soal nafkah batin itu......aku serius ingin memberikannya." Wajah Milea memerah kembali. Bayangan saat Rafael pertama kali menyentuhnya kembali berputar dalam ingatan nakalnya. Tubuh kekar itu bahkan sudah membuatnya menjerit berulang kali dalam lembah kenikmatan yang seolah tak pernah bisa dihentikan. Hingga sekarang Milly tak pernah tau, hal itu benar-benar karena Rafael yang punya stamina tinggi, atau karena pengaruh obat saja. Diam-diam Milly menginginkan lebih dari lelakinya.
"Sayang, beri tau aku jika masanya sudah usai. Aku menginginkanmu." bisik Rafael nakal sambil mencuri kecupan ringan di pipinya sebelum berlari ke kamar mandi.
π
ππ
πππ
Hai readers .....
__ADS_1
Masih semangat untuk lanjut membacakan? Jangan lupa tab like, subscribe dan beri vote serta dukungan pada cerita ini utk kelangsungan author selanjutnya. Bagi kalian yang punya kritik dan saran seputar alur cerita, silahkan tinggalkan komentar. Itung2 kalian bantu othor yang suka ngelag krn kesibukan ini agar bisa lanjut berkarya. Hari ini saya beri double up sbg permintaan maaf karena tidak bisa up kemarin ya. Semoga kalian suka.
Love u allππππ