
Milly masuk ke dalam mobil putih Leon beberapa saat setelah sang kakak berhenti di depan teras rumah besarnya. Tepat satu jam sejak pria itu menutup telepon tadi. Leon datang menepati janjinya.
"Mana kopermu?" tanya Leon seraya menatap pergerakan adiknya yang hanya membawa tas selempang warna coklat tua di bahunya.
"Aku tak perlu membawa apapun kak." Tukas Milly sambil menutup pintu mobil.
"Milly ...kau harus pulang." tekan Leon dengan wajah penuh harap. Milly tau ada yang tidak beres pada keluarganya. Cukup lama berada diantara mereka juga membuatnya tau jika keluarga Ibrahim akan cenderung menghadapi masalah dalam diam, mengalah.
"Kita bicara di rumah kak." Milly mengenakan seat beltnya, mau tak mau Leon menjalankan mobilnya. Milly benar, lebih baik mereka berdiskusi bersama karena ini adala hidup Milly. Dia sudah dewasa juga sudah berumah tangga. Tentu saja dia berhak menentukan hidupnya sendiri.
Hanya butuh kurang dari satu jam, mereka telah tiba di kediaman Ibrahim. Seorang menjaga membukakan gerbang saat melihat mobil sang empunya rumah datang. Sigap Leon memarkirkan kendaraannya lalu mengajak Milea masuk ke rumah mereka.
"Kalian sudah datang?" Milea terkaget saat tau papanya sendiri yang membukakan pintu rumah. Putri bungsu Ken Ibrahim itu segera menghambur ke dalam pelukan papanya.
"Milly kangen papa." bisik Milly seraya memeluk pria paruh baya itu kuat. Ken menahan sekuat tenaga air mata yang akan jatuh ke pipinya dengan membalas pelukan putrinya. Kasih sayangnya pada Leon tak sebanding dengan rasa sayangnya pada Milea. Anak gadisnya adalah kehormatan dalam keluarga mereka. Bagaimana Ken tak sakit hati saat melihat sendiri anak gadisnya menangis di pusara istrinya tanpa dia bisa berbuat apa-apa? Hati Ken tercabik karenanya.
"Masuklah nak. Biar kakakmu yang akan mengambil barang-barangmu." Milea mengrenyitkan keningnya. Papanya juga ingin dia membawa barang-barangnya seolah dia melarikan diri dari rumah. Sekarang Milly bertambah yakin jika semuanya tak baik-baik saja.
"Aku sama sekali tak membawa apapun pa." Ken tersenyum getir. Sudah dia duga.
__ADS_1
"Itu sama sekali bukan masalah Milly. Papa hanya ingin kau pulang walau tanpa apapun. Papa bisa membelikanmu yang baru. Sekarang masuklah." Leon berjalan dibelakang Ken yang menggamit lengan Milea.
"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan, pa?" Milea tak tahan jika harus terus diam dalam kebimbangan.
"Memberimu kebahagiaan yang seharusnya kau miliki Milly." Ken Ibrahim membalas pertanyaan anaknya dengan jawaban lirih, namun menusuk kedalam ulu hatinya sendiri.
"Kebahagiaan apa lagi yang akan papa berikan padaku? Mengembalikan Richard yang jadi obsesiku atau membawaku pergi dari mas Rafa? semuanya sama saja bagiku, pa. Hidupku bahkan sudah hancur saat kalian tega menjebakku dalam apartemen Rafael. Sekarang...saat aku sudah berdamai dengan nasibku dan menerima Rafael, kenapa kalian ingin aku pergi darinya? Papa....bersamanya atau tidak aku akan tetap terluka." Air mata mengalir di pipi mulus Milea, begitu juga Ken Ibrahim yang terus menyapu wajahnya. Andai waktu bisa berputar kembali, perjodohan konyol ini tak akan dia biarkan terjadi.
"Sekarang, saat aku sudah berhasil menjadi nyonya muda Hutama yang terhormat..kenapa kalian ingin aku pergi layaknya pecundang yang kalah sebelum berperang? Papa...aku harus mempertahankan posisiku bukan?" Kali ini Milea benar- benar tak bisa melawan kesedihannya. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa menunggu mentalnya siap.
"Jangan berjuang untuk sesuatu yang tak layak diperjuangkan Milly. Juga jangan mempertahankan posisi yang tak membuatmu bahagia. Maaf jika kami khilaf dan tak memikirkan perasaanmu. Tapi kami hanya ingin kebahagiaanmu." Leon yang melihat ayahnya begitu terpukul mencoba angkat suara. Milea harus tau dimana posisinya sekarang.
"Putuskan setelah kau melihat ini semua Milly. Ayo ikut aku!!"
"Stop Lee!! Jangan lakukan!!" Ken Ibrahim sontak berdiri dari tempatnya agar anak-anaknya tak pergi darinya. Namun Leon yang dikuasai amarah sudah bertekat bulat.
"Milly harus tau yang sebenarnya, pa. Tolong biarkan aku membuatnya mengerti. Milly...ayo!!" dan sentakan tangan Leon membawa paksa tubuh semampai Milly keluar dari rumah Ibrahim kembali.
"Apa yang ingin kakak tunjukkan? Papa sendirian disana."
__ADS_1
"Ada pembantu Milly. Kita hanya sebentar saja." Leon memutae kemudi dan menjalankan mobilnya cepat. Tak ada percakapa diatara mereka berdua hingga Milly mengenali jalan yang mereka lewati.
"Apa kita mau ke apartemen mas Rafa?"
"Hmmmm..."
"Untuk apa kak?" Leon sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan adiknya hingga mereka tiba di depan pintu apartemen Rafael. Leon baru memberi isyarat agar Milly menekan bel.
Sekali....
Dua kali...
Pintu baru terbuka pada hitungan ke tiga. Seorang wanita cantik yang masih membekas dalam ingatan Milea muncul dengan pakaian terbuka yang mempertontonkan lekuk tubuhnya yang sempurna.
"Leon Ibrahim...hai..apa kabarmu? Kalian mencari Rafa bukan? sayang sekali dia baru saja pergi ke kantor. Tapi dia berjanji akan kembali jam 4 nanti. Ohh ya...masuklah." Wanita yang ternyata Shane itu membuka pintu lebar-lebar. Leon bukannya menjawab basa-basi Shane, tapi melirik adik perempuannya yang berubah linglung ditempatnya. Setitik air mata jatuh.
"Terimakasih Shane. Tapi sepertinya adikku sedikit pusing. Kami harus segera pulang." pamit Leon lalu mengajak Milly pergi dari sana. Ada perasaan berdosa dihatinya. Tapi dia akan lebih merasa berdosa jika terus berpura-pura tidak tau dan membuat Milea seperti wanita bodoh yang dikorbankan keluarganya. Tidak!! Milea adalah adiknya satu-satunya. Dia berhak bahagia.
"Kakak....hiks .." Leon memeluk erat Milea ketika keduanya sudah berada dalam mobil. Pria seusia Rafael itu membiarkan Milea menumpahkan kesedihannya.
__ADS_1
"Sekarang kau tau bukan apa alasanku juga papa menyuruhmu pulang? Milly, lebih baik pergi secara terhormat dari pada bertahan namun dicampakkan."