
"Apa momy yakin Milly tak apa-apa?" Rafael yang baru saja masuk ke mobil mewah dadynya kembali bertanya saat melihat Milea masih mengerang sakit dalam pelukannya. Beberapa kali tangannya mengusap keringat dingin di pelipis istrinya dengan tangan bergetar. Nando hanya melirik putranya dari kaca depan lalu kembali fokus ke jalanan. Lagi dan lagi dia harus menyetir sendiri karena permintaan sang ratu Hutama yang berhasil meluluhkan hatinya hanya dengan sentuhan lembut di lengan kanannya. Singa keluarga Hutama itu bahkan menjadi kucing lucu nan gemoy sekarang.
"Apa kau meragukan kemampuan momymu hemm? Momy bahkan sudah bertahun-tahun jadi dokter umum sebelum seperti sekarang." balas Sofia tanpa tekanan. Pun saat mereka sudah sampai di rumah dan Rafael terus mengkhawatirkan istrinya dan menahan suami istri itu agar tak pulang, dokter Sofia baru menunjukkan amarahnya.
"Rafael Hutama...aku mendidikmu dengan baik dan penuh kemandirian. Bertahun-tahun hidup sendiri di apartemen pasti sudah membuatmu tau apa yang harus dilakukan pada orang sakit. Lakukan juga hal yang sama pada istrimu. Minumkan obat dan jaga dia baik-baik." nasihatnya dengan wajah kesal.
"Sayang, sebaiknya kita cepat pulang. Jose sendirian." kata Fernando menyadarkan Sofia dari amarahnya. Rafael ingin berdecih saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kala momy galaknya langsung tersenyum manis pada sang suami dan menuruti kata-katanya. Sebenarnya hubungan macam apa yang sedang dijalani orang tuanya? Masih sempat mesra-mesraan seperti itu saat menantunya terkapar sakit. Tapi decihan itu urung saat mata tajam dadynya mengarah padanya.
"Jangan pernah coba-coba menginggalkan rumah ini jika tak ingin melihat Bimantara rata dengan tanah." Rafael tak menjawab. Berkali-kali dia pernah mendengar ancaman menakutkan seorang tuan besar Hutama pada lawan bisnisnya. Tapi baru kali ini dia merasakan langsung. Aura gelap menyelimuti wajah tampan nan matang itu. Rafael amat tau siapa ayahnya. Hanya satu kalimat ayahnya yang bisa membuatnya sedikit tenang...mereka sudah menerima keberadaan Jose.
Rafa berlari kecil ke kamarnya usai kedua orang tuanya sudah meninggalkan kediamannya. Pria muda itu segera mendekati ranjang dimana Milea dibaringkan.
"Apa sakit sekali?" tanyanya pelan sambil membelai pipi Milea penuh kelembutan.
"Tidak..." sahut Milea lemah, tapi Rafa tau istrinya sedang berbohong. Krenyitan sakit itu masih tergurat. Pasti Milea menahannya mati-matian agar terlihat biasa-biasa saja.
"Jangan membohongiku Milly." bisiknya seraya meraih tubuh itu ke dalam pelukannya. Andai tak benar-benar nyeri pasti Milea akan senang sekali mendapatkan moment langka ini.
"Kau tak boleh sakit. Aku butuh dirimu." lirih Rafael, menyematkan sebuah kecupan dipelipisnya juga mempererat pelukannya. Milea bahkan bisa merasakan usapan yang amat lembut dipunggungnya saat tangan kekar sang suami mengelusnya beberapa kali.
"Hmmm...sudah tak sesakit tadi." Obat yang diberikan Sofia sudah mulai bekerja tampaknya. Milea berusaha menarik dirinya namun dicegah oleh Rafael cepat.
"Kenapa? Kau masih marah padaku?"
__ADS_1
"Tidak. Untuk apa marah? Aku bahkan tak punya hak apa-apa dengan diri mas Rafa." Sebuah cekalan kuat di dagunya membuat Milea mendongak keatas. Manik coklat itu melebar.
"Kau berhak karena kau istriku Milly." desis Rafael menatapi kedua bola matanya bergantian. Milly tersenyum getir.
"Aku hanya punya ragamu, tapi tidak hatimu. Tolong jangan memelukku seperti ini mas. Aku...."
"Apa???" tanya Rafael tak sabaran karena Milea terlihat ragu dan enggan meneruskan kalimatnya.
"Aku bukan Paula ataupun Shane." lanjut Milea dengan kepala menunduk. Wanita muda itu segera bergerak cepat menata guling diantara keduanya lalu menarik selimutnya hingga ke leher.
"Tubuhku juga tak semenarik mereka untuk bisa menggodamu." Rahang Rafael mengeras. Dibuangnya guling tak berdosa itu asal lalu menarik bahu Milly yang berbaring membelakanginya hingga terlentang. Belum sempat melakukan apa-apa, tubuh tegap itu sudah menindih si wanita juga memegangi kedua tangannya diatas kepala hingga Milea dibuat tak berdaya.
"Hanya lelaki bodoh yang tak tergoda denganmu Milea. Kau lebih menarik dari siapapun." bisiknya diatas bibir ranum putri Ken Ibrahim itu sebelum mencercapnya penuh perasaan.
"Apa aku pernah menolakmu? Dibagian mana aku menolakmu hingga kau mencari kepuasan dengan wanita lain? Meski aku bukan tipemu tapi aku sedang berusaha menjadi yang kau mau mas." ucap Milea dengan suara bergetar.
"Milly..kau salah paham."
"Ini bukan? hanya begini yang mas Rafa mau? Lakukanlah!!" Milea melepas kancing kemejanya, begitu pula kain penutup dadanya dan membuangnya asal. Rafael membeku saat melihat dua benda putih kenyal itu sudah membusung didepan matanya. Secepat yang dia bisa, pria itu menarik selimut dan menutupinya.
"Milly...apa yang kau lakukan!!" sergahnya mencoba mengeratkan selimut itu saat Milea kembali ingin menariknya.
"Ini yang mas Rafa bilang hanya pria bodoh yang tak tertarik padaku? bagaimana jika pria bodoh itu adalah dirimu? kau bahkan tak sudi melihat tubuhku bukan? Aku selalu sja merasa terhinanya saat berkali-kali hal yang kau sebut terapi itu menampar batinku? Aku bukan hanya seorang istri yang gagal, tapi juga malang. Hampir tiga bulan menikah...kau bahkan tak pernah memberiku nafkah batin kecuali penghinaan."
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim...." Rafael segera bangkit dan mengusap wajahnya kasar. Sebuah penyesalan hinggap dalam hatinya.
"Milea maafkan aku." lirihnya disela isakan keras Milea yang menyembunyikan wajahnya dalam pelukan lututnya.
"Sayang maafkan aku." ulang Rafael sambil memeluk istrinya yang terus menangis.
"Aku bersalah sayang...maafkan aku. Dengarkan aku Milly...ahh...ya Tuhan..apa yang harus kulakukan?" Ujar Rafael frustasi. empat hari lagi genap tiga bulan mereka menikah. Hukum islam menyatakan, jika dalam tiga bulan tak ada nafkah baik lahir ataupun batin dalam pernikahan, maka akan jatuh talak. Lalu apa yang bisa dia lakukan? Istrinya sedang tak bisa digauli hingga seminggu kedepan.
"Tak ada yang perlu dimaafkan. Mas Rafa benar dengan tidak melakukannya. Menikah tanpa cinta memang berat ya mas. Apalagi aku yang harus berjuang sendirian. Aku lelah mas, aku ingin..." Lagi, sebuah ciuman panjang membungkam bibir merah Milea.
"Jangan pernah berkata akan menyerah Milly..aku tak bisa melanjutkan hidup tanpamu. Sayang, tunggulag aku akan mencari solusinya." Ucap Rafael penuh keyakinan. Tangannya meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
"Momy...aku ingin menstruasi istriku di tunda!!"
ππππππ
ππππππ
Selamat malam readers....
Hanya sebuah permintaan maaf karena belum bisa up banyak dan teratur untuk kalian. Authornya sedang ada sedikit masalah. But its ok, read must go on! Minta doa dan dukungan kalian semua ya agar othornya lebih semangat dan dapat sedikit hiburan utk lanjut menulis.
Dukungan kalian adalah nasib cerita ini terus berjalan. Salam sayang dan happy readingπ€π€
__ADS_1