
"Lee..boleh aku masuk?" Leon yang sibuk dengan laptopnya menegakkan tubuhnya saat melihat siapa yang datang. Dia bergegas meletakkan laptop itu lalu beranjak dari ranjangnya.
"Kau? Masuk saja. Mulai kapan kau minta ijin saat masuk ke kamarku?" Tentu Rafa tak pernah melakukannya karena mereka bersahabat sejak sekolah. Seperti dirinya yang terbiasa keluar masuk area pribadi Leon, sahabatnya itu juga setali tiga uang jika berada di rumahnya. Leon bahkan menganggap kediaman Hutama adalah rumah keduanya karena sikap ramah Sofia yang membuka lebar-lebar pintu rumahnya bagi putra dokter Maya itu.
"Kita tak sedang berada di apartemenmu Lee." Leon terkekeh, mengisyaratkan agar Rafa duduk di sofa bersamanya.
"Sama saja Raff. Apalagi kita sekarang adalah keluarga. Kau juga anak papa." Entah kenapa hati Rafael seperti disentil secara halus karena perkataan Leon.
"Eengg ...maaf, maksudku...walau nanti hubunganmu dengan Milly tak seperti harapan kamipun...."
"Stop membicarakan perpisahanku dengan Millea, Lee. Aku tak akan berpisah dari Milea." Kata Rafael penuh tekanan. Terlihat sekali jika wajah tampan itu jadi gusar karena perkataannya.
"Baguslah." komentar Leon pendek.
"Lalu bagaimana reaksi Milly?" lanjut sang kakak ipar ingin tau. Rafa hanya menggelengkan kepalanya lemah.
"Milly sangat marah padaku." dan wajah tampan itu kembali mendung. Leon menghela nafas panjang lalu memperbaiki cara duduknya. Dia tau Milly sangat terluka. Apalagi Ken, papanya hingga harus tau jika Rafael sudah mendua di luar sana.
__ADS_1
"Hmmmm...lalu apa rencanamu?" Mungkin lebih tepatnya adalah Leon mencari topik lain tanpa harus melibatkan dirinya terlalu dalam dalam konflik rumah tangga adiknya. Dibanding sebagai kakak ipar, Leon lebih memilih memposisikan dirinya sebagai sahabat Rafael. Tanpa menjawab, Rafael mengulurkan ponselnya.
"Kenapa harus Bimantara? kau tau bukan jika perusahaan itu berada di ambang kebangkrutan? Mereka bahkan hampir tak bisa beroperasi karena hutang yang menumpuk." keluh Leon setelah mengetahui perusahaan mana yang baru dibeli oleh Rafael dengan harga murah. Tentu saja murah karena perusahaan itu ibarat bernafas saja sudah tak bisa. Banyak pengusaha yang jangankan membelinya, menanam saham saja tak mau. Lagipula tak ada untungnya berinvestasi disana.
"Karena hanya ini satu-satunya perusahaan murah yang bisa kubeli. Lagi pula dady sama sekali tak punya usaha dibidang ini." sahut Rafael lugas. Memang, seluruh perusahaan Hutama hanya berfokus pada industri properti, garmen, kebutuhan pokok, perhotelan dan rumah sakit. Tak ada satupun yang bergerak dibidang pertambangan juga pengolahan. Tapi Rafael dengan berani menghabiskan seluruh tabungannya saat menjadi CEO di Hutama grup untuk membeli perusahaan pengolahan baja ringan itu. Hal yang terlalu berani mengingat kondisinya yang sama sekali tak punya modal tambahan untuk berproduksi juga membeli bahan produksi.
"Raf, ini berbahaya." tegas Leon dengan raut cemasnya. Sebagai seorang sahabat dia amat terpangggil untuk menasehati Rafael.
"Apa pria seperti kita akan lari dari bahaya Lee?? Aku bahkan pernah pesimis pada perusahaan game onlinmu waktu pertama kau rilis. Tapi kekhawatiranku tak beralasan bukan? Perusahaanmu laris manis dipasaran."
"Itu karena kau menanam investasi fantastis padaku." Yang dikatakan Leon benar. Walau sempat mencibir, tapi nyatanya Rafaellah investor pertamanya. Itupun dengan nominal yanh fantastis. Bisa dikatakan perusahaanya berkembang pesat juga karena dukungan Rafael kala itu.
"Aku akan berinvestasi di Bimantara, Raf." Kata Leon cepat. Dia berjalan menuju lemarinya dan mengeluarkan sebuah cek dari sana.
"Tak sebanyak dirimu mungkin, tapi hanya ini yang kupunya." Rafael terdiam, memandangi selembar kertas dengan nominal yang lumayan besar itu dengan penuh tanya. Walau berkembang pesat, tapi keuntungan perusahaan Leon mungkin belum sebesar nominal yang tertera disana.
"Dari mana kau mendapatkannya Lee? Jika ini modal perusahaanmu maka aku tak akan menerimanya. Kau masih butuh inovasi baru dan modal besar." Rafael menyodorkan kembali cek itu namun buru-buru ditolak oleh Leon.
__ADS_1
"Tenanglah Raf. Uang itu halal kok. Hasil penjualan seluruh warisan mama yang memang sudah dibagi tiga oleh papa, untuk beliau, Milly dan aku." Rafael masih tertegun. Dia cukup tau jika dokter Maya punya perkebunan teh yang luas diluar kota, juga beberapa rumah dan aset-aset lain atas namanya. Tapi kenapa harus dijual? aahh ..Rafael tak berhak menanyakan itu.
"Aku bahkan sudah menyakiti Milea, tapi kau malah mempercayakan uang ini padaku." Leon menepuk pundak Rafael dan tersenyum lebar.
"Semua ini tak ada hubungannya dengan Milly. Segera bangun Bimantara dan buktikan pada orang tuamu jika kau mampu berdiri diatas kakimu sendiri, Raf." ujar Leon menyemangati. Tapi bukannya bersemangat, wajah tampan itu malah berubah mendung.
"Bukan mereka. Tapi Milea. Lee...aku hanya ingin Milea memaafkan aku." lanjutnya sendu. Rafael yang sudah terbiasa dengan keberaaan Milea yang ceria dan penuh semangat entah kenapa menjadi sangat sedih saat wanitanya selalu menghindar dan bersikap dingin padanya. Apalagi kata-kata Milea tadi benar-benar menembus hatinya.
"Biar waktu yang akan meluluhkan hati Milly Raf. Fokus saja bekerja." Tapi lagi-lagi Rafael menggeleng lemah. Bukan itu yang dia mau.
"Bukan waktu Lee..tapi aku sendiri yang akan berusaha untuk mendapatkan maaf darinya." ucapnya penuh keyakinan.
"Terserah kau saja. Tapi kuminta, tetaplah tinggal di rumah ini."
"Itu tidak mungkin Lee...Milly tak akan menerimaku di kamarnya." Rafael tau pasti itu karena sikap enggan Milly dan tindakannya meninggalkan Rafael sendirian di taman tadi.
"Ada satu kamar diantara kamarku dan Milea. Kecil memang karena itu adalah ruang kerjaku dulu. Aku akan menyuruh pembantu untuk membersihkannya. Maaf Raf, hanya ini yang bisa kulakukan. Kau tak mungkin tidur di kamar tamu karena papa pasti akan curiga." jelas Leon tak enak hati. Tapi membiarkan Rafa tinggal sendirian diluar sana juga bukan tindakan yang benar. Bagaimanapun Rafael masih bagian kelurganya.
__ADS_1
"Tak apa Lee, bisa punya tempat tinggal dan bisa melihat Milly tiap hari saja sudah cukup bagiku."