Love You More, Husband

Love You More, Husband
Jawaban


__ADS_3

Rafael menata krah kemeja putih yang dipakainya lalu bergegas keluar kamar. Tak ada jas mahal juga dasi yang melekat ditubuhnya layaknya masih menjabat CEO Hutama grup. Demikian pula sepatu mengkilat yang biasa menghiasi kakinya sudah berganti dengan sneaker warna putih yang membuat tampilannya terlihat fresh dan santai, jauh dari kesan kaku seorang tuan muda. Ya, hari ini adalah hari pertamanya masuk kerja sebagai pimpinan baru Bimantara. Seratus orang pekerja dan sepuluh staf kantor yang tersisa akan jadi tanggung jawabnya mulai dari sekarang.


"Raf, sarapan dulu gih." teriak Leon dari ruang makan tempat dirinya menikmati kopi yang disuguhkan Milea. Rafael membelokkan langkahnya mendekati Leon. Pria tampan itu baru akan ikut bergabung dengan kakak iparnya itu saat Milea terlihat kesal dengan meletakkan piring berisi roti bakar buatannya kasar.


"Milly!! Apa yang kau lakukan??" desis Leon galak. Dia terlihat tak suka dengan sikap adiknya.


"Maaf." ujar Milly pelan sambil menundukkan kepalanya, segan dengan tatapan membunuh Leon.


"Hhmmm...sebaiknya aku segera berangkat Lee. Taksi onlineku pasti sudah menunggu." Pamit Rafael yang segera berbalik cepat menuju pintu. Padahal dia sama sekali belum memesan. Masih ada waktu panjang untuk sampai ke perusahaan. Sepagi ini bahkan para karywanannya mungkin masih duduk manis di rumah. Tapi tak apalah, dia tetap bersyukur karenanya. Setidaknya masih ada wakty untuk melihat dan memikirkan kebijakan yang akan dia ambil pagi ini.


Wajah tampan bak pahatan para dewa itu kembali mendung. Ini hari pertamanya bekerja, bertempur melawan kebangkrutan dan carut marut perusahaan barunya, tapi sama sekali tak ada kepedulian Milly padanya. Wajah istrinya juga terlihat amat kesal padanya. Sebegitu dalamnyakah dia menggores hati Milea? Rafa bergegas membuka aplikasi dan memesan taksi online seraya berjalan mendekati pagar.


Sementara itu, Leon yang menatap adiknya tajam terlihat amat marah. Milly bahkan sama sekali tak berani menatapnya. Leon memang sosok kakak yang over protektif pada dirinya.


"Lain kali hormatilah suamimu. Sebesar apapun kesalahan yang dia buat padamu, dia tetap suamimu, jalan surga bagimu. Belajarlah berlapang hati Milly. Tuhan saja maha pengampun, kenapa kau tak bisa memaafkannya dan memberinya kesempatan kedua?" Milea menatap Leon tajam. Tau apa kakaknya itu soal pernikahan? diacuhkan? diselingkuhi meski belum terbukti? Leon tak tau sakitnya berjuang sendirian namun malah diduakan.


"Ini masalah pribadiku kak. Aku sudah dewasa dan sudah menikah. Aku bukan lagi tanggung jawab kakak." balas Milly ketus. Leon mengeratkan rahangnya.


"Suamimu sedang terpuruk Milly. Dia sedang tak baik-baik saja dan butuh dukungan orang-orang terdekatnya. Walau tak memaafkannya, setidaknya kau juga tak menyakiti hatinya." tegas Leon dengan wajah bertambah garang. Milly tau kakaknya sangat kesal walau nada bicaranya dibuat serendah mungkin agar Ken ibrahim tak bisa mendengar pembicaraan mereka. Sang papa masih dalam sesi pemeriksaan pagi ini.


"Bukankah hidup ini juga tercipta dari hukum aksi dan reaksi? Dia sudah menyakiti aku maka dia juga harus merasakan sakit yang kurasakan kak." Kali ini Milly benar-benar serius dengan perkataannya. Dia bahkan sampai memajukan wajahnya dan menekan erat meja makan karena luapan emosinya.


"Milly ingatlah...jika ada yang akan membalas semua perbuatan Rafael padamu, itu adalah Tuhan. Biarkan karma yang berjalan. Kewajibanmu hanya memaafkan. Tapi jika kau belum bisa melakukannya, maka jangan kotori hatimu dengan dendam dan kemarahan. Kau sendiri yang akan tersiksa nantinya." Lanjut Leon dengan suara yang makin lemah. Sesungguhnya hatinya juga sakit saat memarahi adiknya seperti tadi. Tapi dia adalah anak laki-laki satu-satunya. Peran sang ayah dialah yang harus menggantikan. Cukup sudah Milly menyakiti hatinya sendiri. Dia dan Rafael sama-sama korban yang berusaha menjadi pemenang.

__ADS_1


"Kakak tau...aku sudah berusaha mencintainya dan membuatnya membuka hati padaku. Jika bukan karena momy, dady dan Rich, aku tak akan sudi kembali kemari." Milea terisak dalam diam. Leon beringsut mendekati sang adik lalu memeluknya. Jika Milly sakit, maka dia akan merasakan sakitnya juga.


"Itu bukan karena mereka Milly...semua juga karena dirimu yang masih ingin mempertahankan pernikahan kalian." Milea terus terisak dalam pelukan Leon. Semua yang dikatakan saudara laki-lakinya itu benar adanya. Dia kembali untuk memperjuangkan haknya, cinta dan kehormatannya. Tapi salahkah jika sebagai manusia biasa dia juga ingin membalaskan sedikit rasa kecewa yang hinggap dihatinya pada pria itu??


"Sudah jangan menangis lagi. Kakak harus segera ke kantor." leon melepaskan pelukan adiknya lalu mengelus kepalanya.


"Jangan menyakiti hati Rafael lagi." Milly hanya mengangguk samar. Dia bergegas masuk ke kamar papanya begitu Leon pergi. Meski ada suster Mega, Milly tak begitu saja membiarkan papanya. Dia tetap mengawasi semuanya, takut papanya kenapa-napa.


Langit sudah berubah gelap, segelap hati Milea yang terus merasa was-was. Hampir jam tujuh malam tapi Rafael belum pulang juga. Tak biasanya pria itu pulang terlambat, apalagi ini hari pertamanya bekerja. Milly juga amat kesal karena Rafa sama sekali tak menghubungi atau mengirim pesan padanya. Lagi dan lagi hatinya memanas. Sebenarnya dianggap apa dirinya bagi Rafael?


Suara langkah kaki memasuki rumah. Milly yang berada di ruang keluarga sontak berdiri, memastikan siapa yang datang. Alangkah terkejutnya dirinya saat melihat suaminya yang masuk kesana dan langsung menuju meja makan, meletakkan kotak besar dan membawa kotak kecil lain ditangannya, lalu berjalan cepat menaiki tangga.


Bukan kotak itu yang menjadi pusat perhatian Milea, tapi penampilan suaminya. Entah bagaimana menggambarkan keadaan Rafael malam itu. Milly hingga tak mengenali suaminya sendiri karena dandanannya yang diluar kebiasaan. Kemeja yang dia pakai tadi pagi sudah berubah warna jadi tak karuan, begitu pula celana bahannya yang bernasib serupa. Wajah lelah dan rambut kusut menghiasi wajah tampannya. Sebenarnya apa yang dikerjakan suaminya hingga seperti itu? Milly penasaran, mendekati meja makan dan membuka kotaknya. Astaga, martabak kesukaannya dengan logo resto terkenal favoritnya terhidang disana. Sungguh, Milly senang bukan main melihatnya. Sudah lama ingin mampir tapi selalu berakhir tak ada waktu. Dia ingin segera memakannya hingga mengingat sesuatu. Cepat dia menaiki tangga dan menuju kamar suaminya.


Bolehkah Milea terkejut? mungkin iya karena isi kotak itu hanya nasi goreng pinggir jalan yang sama sekali bukan menu yang biasa dia makan lengkap dengan minumannya. Tidak, suaminya tak bisa makan makanan seperti ini. Tapi kenapa Rafael harus membawa makanan dari luar? sedang dia sudah bersusah payah memasakkan makanan favoritnya sebagai permintaan maaf.


" Milly...kau disini?" hampir saja kotak sterofoam ditangannya terjatuh ketika mendengar suara Rafael dari ambang pintu kamar mandi. Wajah lelah suaminya tadi sudah berubah segar sehabis mandi. Rupanya dirinya terlalu banyak berpikir hingga tak tau jika Rafael sudah menyelesaikan mandinya.


"Kenapa mas Rafa beli ini?" tanya Milly tanpa basa-basi.


"Aku belum makan malam tadi." Jawab si pria sambil menutup pintu kamar mandi.


"Makan malam? kenapa beli diluar? mas Rafa bisa sakit perut karena ini." serga Milea tak sabar. Bagaimanapun suaminya adalah pria dari keluarga konglomerat yang punya koki pribadi di rumah orang tuanya. Tak semua makanan bisa masuk ke dalam perutnya.

__ADS_1


"Aku akan biasa nantinya." Rafael mengambil kotak itu dari tangan istrinya lalu menuju sofa. Perutnya sudah sangat lapar karena sudah melewatkan makan siangnya juga karena kesibukannya.


"Aku sudah membelikanmu martabak dibawah. Makanlah." katanya lembut seraya membuka kotak itu setelah sedikit menyedot minumannya.


"Mas Rafa membelikan aku martabak dengah harga mahal itu, tapi makan makanan pinggir jalan? apa maksud semua ini mas?" Milly bahkan sudah duduk dengan ekspresi sukar ditebak disamping suaminya hingga Rafael mengurungkan makannya.


"Karena aku menginginkannya Milly." Bukannya senang, Milly malah tambah geram karenanya.


"Ingin? tapi makanan seperti ini sama sekali bukan keinginanmu."


"Aku harus terbiasa."


"Untuk apa???!!!" Milly yang kesal makin memaksa dengan tatapan penuh istimidasinya.


"Milly dengar...aku sangat lapar, ijinkan aku makan. Lalu aku akan menjelaskan semuanya." Milly bukan tak mendengar suara perut Rafa yang berkerucuk. Tapi dia terus memaksa.


"Tidak sebelum mas Rafa menjawab pertanyaanku." ucapnya galak. Rafael menarik nafas panjang lalu beralih menatap istrinya.


"Aku sudah sangat bersyukur diterima di rumah ini Milly. Aku tak ingin merepotkan kalian lagi. Jadi biarkan aku mengurus diriku sendiri. Maaf jika aku belum bisa memberimu nafkah secara layak. Nanti setelah semua gaji karyawan berikut cicilan utang perusahaan terbayar, aku akan memberikan sisa keuntungannya padamu. Aku berjanji untuk itu." Jelas Rafael penuh ketenangan. Saat ini dia memang belum bisa banyak berjanji mengingat banyak hal yang harus dia urusi. Milea trenyuh.


"Aku sudah masakkan udang saos tiram dan oseng kangkung untuk mas Rafa dibawah. Turun dan makanlah. Aku akan buatkan kopi hangat." Milly segera mengangkat kotak nasi berikut minumannya untuk dibawa pergi saat Rafa mencekal pergelangan tangannya.


"Terimakasih, tapi biarkan aku memakan ini saja." Rasa tak enak hati kembali menyergap Rafael.

__ADS_1


"Jika kau hanya merasa tak enak hati pada keluarga ini maka buang jauh-jauh pikiran itu. Tak ada yang direpotkan disini. Turun dan makanlah dibawah. Aku menunggumu."


__ADS_2