Love You More, Husband

Love You More, Husband
Dulu


__ADS_3

"Katakan yang sebenarnya padaku Yura!" tekan Milea penuh intimidasi. Yura hanya menghela nafas panjang sambil sesekali mengusap air mata yang terus menggenang di ujung matanya.


"Percuma anda mengintimadasi saya nyonya muda." Sahutnya sambil menata diri. Lebih tepatnya bersikap tegar.


"Baiklah. Tak apa jika kau tak mau bercerita. Aku cukup tau dimana posisiku. Walau Rafael sudah berjanji tak akan menceraikan aku, tapi hubungan kami tak sebaik itu untuk terus bertahan. Jika nanti aku atau dia sudah tak bisa bertahanpun kita tak akan berjumpa." Yura menatap Milea dalam.


"Kau masih akan mengejar tuan Richard?" Milea tertawa sumbang.


"Tidak akan Yura. Kalaupun nanti aku dan Rafael tak bisa bertahan, maka Rich juga tak ada dalam kamusku." Seulas senyum terbit di sudut bibir Yura. Milea bisa melihatnya samar.


"Apa sekarang kau senang? setidaknya tak ada halangan bagimu oohh...lebih tepatnya hilang satu batu penghalang untuk memperjuangkan cintamu Ayura Moraima." Yura langsung terkejut saat Milea mengucapkan kalimat itu. Tubuh tegapnya menegang.


"Anda salah sangka nyonya."


"Sudah cukup saya anda juga kata nyonya Yura!! aku mau kau panggil namaku saja saat kita berdua." sentak Milea kesal. Tangannya hingga menggebrak meja walau tak keras. Yura mengangguk setuju setelahnya.


"Kau...salah sangka nyo...ehhh...maaf...Milea. A...aku dan tuan Rich...ahh...kau..."


"Kau bingung bukan? Terkejut bukan? Aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi Yura. Kau menaruh hati pada Rich dan lucunya kau hanya berani melihatnya dari jauh."


"Milea aku...."


"Katakan apa yang sesungguhnya terjadi antara suamiku dan Shane atau esok pagi seluruh keluarga Hutama akan tau jika kau tertarik pada adik iparku."

__ADS_1


"Katakan saja. Aku tidak takut Milea. Cinta bukan dosa." kilah Yura berani. Tapi sayang...Milea lebih tenang darinya.


"Baiklah, kita lihat saja apa yang akan terjadi besok." Milea berdiri dari tempatnya. Percuma mengorek informasi dari Yura. Gadis itu tetap teguh pada pendiriannya.


"Tuan muda dan nona Shane adalah pasangan yang saling mencintai saat di London. Mereka berpacaran setelah tuan putus dari Paula yang berselingkuh. Tapi saat tuan membawa nona Shane pulang ke Indonesia untuk dikenalkan pada keluarganya, nona Shane malah tertarik dan mengejar tuan Rich." Milea berbalik saat Yura mengatakan semuanya dengan nada datar.


"Perasaan nona Shane bersambut, tuan Rich juga tertarik padanya. Mereka berhubungan di belakang tuan muda hingga suatu saat mereka ketahuan. Tuan Rafa marah besar dan memutuskan pertunangan mereka saat nona Shania....hamil tiga bulan. Richard berusaha mencarinya, tapi Shane seperti di telan bumi. Beberapa bulan Rich depresi hingga di kirim ke psikiater." lanjut Yura dengan suara bergetar.


"Anak itu ...Jose...dia anak suamiku?" Milea linglung dan terduduk kembali di kursinya. Air mata mengalir dari kedua matanya.


"Tuhan....cobaan apa lagi yang kau berikan?" lirih Milea mengusap wajahnya.


"Milea...aku memang mencintai tuan Rich meski hanya bisa menyimpannya. Sekarang aku tau jika cinta itu tak akan bisa kuraih. Shane sudah kembali, Rich akan selamanya mengejarnya. Tak akan ada tempat bagiku untuk mendapatkan sedikit saja yang tersisa disudut sana."


"Kita harus kuat Milea. Jangan mengambil kesimpulan tanpa tau kenyataan yang sebenarnya. Pulanglah dan tanyalah pada tuan muda. Aku belum tau siapa ayah Jose yang sebenarnya. Tapi kuharap bukan tuan muda orangnya. Aku tetap ingin kalian bahagia." Bisik Yura penuh kelembutan. Milea mengangguk.


"Akan kucoba." Milea kembali berdiri. Kini keduanya saling berpegangan tangan, saling menguatkan. Meski langkah terasa mengambang, setidaknya raga ini harus tegar.


"Kita pulang." Yura meraih kunci yang diserahkan Milea padanya lalu menuju kursu kemudi. Tujuan mereka adalah kediaman Rafael.


Satu jam berkendara, dua wanita berparas jelita itu sampai juga.


"Kau tak ingin mampir dulu?" Tawar Milea saat membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Sebaiknya saya kembali ke rumah saja nyonya. Permisi." Milea hanya mengangguk sedih sambil memasuki rumah besar yang terasa lengang seperti hatinya.


"Selamat sore nyonya muda." sapa pelayan yang menyambutnya di depan pintu. Milea hanya mengangguk dan mencoba tersenyum sebelum berjalan ke kamarnya. Dia butuh berendam air hangat agar tubuhnya segar.


Deru mobil memasuki pekarangan rumah dan berhenti di depan pintu utama saat Milea baru sampai di anak tangga pertama. Meski tak menoleh, dia tau jika Rafael orangnya. Bukannya berbalik untuk menyambut suaminya, Milea memilih kembali berjalan ke kamarnya.


"Milly...kemana saja kalian? kenapa pergi tanpa pamit?" cecar Rafael yang sudah berdiri di belakang Milly. Padahal baru saja pintu kamar tertutup. Milly saja belum sempat mencapai pintu kamar mandi.


"Ada yang harus ku kerjakan dengan Yura." balas Milly datar.


"Hhmmm...baiklah. Tapi lain kali pamitlah dulu jika ingin pergi duluan. Aku bahkan belum mengenalkanmu pada Shane tadi." Apa dia bilang?? belum mengenalkan? Padahal sudah hampir setengah jam Milea menunggu, juga sudah bertanya apa mereka masih lama. Tapi Rafael terlalu sibuk dengan wanita itu. Bisa jadi dia tak ingin mengenalkan Milea yang memang tak ada apa-apanya dibanding Shane yang mendekati sempurna saat bersanding dengan Rafael. Sudut hati Milea teriris karenanya.


"Ya. Aku tak akan mengulanginya lagi." dan Milea segera masuk ke kamar mandi. Bukan untuk mandi, tapi menumpahkan tangisnya dibawah guyuran shower untuk beberapa lama.


"Hallo...ohh ya Shane...." Milea yang baru keluar dari kamar mandi menghentikan langkahnya. Di sofa sana, Rafael menerima telepon, dari Shane tentunya.


"Baiklah...aku akan segera kesana." Lalu dengan panik Rafael meraih jaketnya tanpa mempedulikan Milea yang masih terpaku di tempatnya. Rafa baru menoleh pada Milly saat akan keluar dari kamar mereka.


"Milly...Jose sedang demam. Aku harus segera ke apartemen Shane sekarang." pamitnya tergesa.


"Pergilah. Jaga anakmu baik-baik, dia lebih butuh ayahnya ketimbang wanita ini." Balas Milly datar. Rafael mengerutkan keningnya namun memilih segera berlalu dari sana, meninggalkan Milea dalam tangis panjangnya.


"Mama...aku rindu padamu." katanya dalam isakan. Tanpa sadar...kakinya melangkah keluar rumah.

__ADS_1


__ADS_2