
Milea menatap Yura tajam. Gadis seusianya itu juga balik menatapnya berani hingga Milea mengeletukkan giginya kesal. Tadinya Milly mengira mereka akan segera pulang, tapi tampaknya ke makam Farah adalah quality time untuk keluarga itu. Mereka seperti tak menyia-nyiakan kesempatan itu layaknya Farah masih ada diantara mereka. Dady Nando duduk bersandar dengan santainya disamping momy Sofia memandang dua putra mereka yang sibuk memancing ikan di danau buatan milik mereka. Ya, Abi memang sengaja memelihara beberapa ikan gurami disana selain untuk kesibukan juga untuk penghasilan walau gajinya mengurus makam Farah lebih dari cukup untuk hidup berdua saja dengan istrinya.
"Apa yang ingin kau tanyakan nona muda?" Yura seperti tau apa yang ada dalam pikiran Milea. Mata sipit layaknya wanita Jepang itu memincing. Jika dilihat-lihat, Yura memang memiliki wajah oriental yang khas Tapi postur tubuhnya yang tinggi juga mengisyaratkan jika dia punya darah bule dalam dirinya.
"Kenapa kau ikut kemari?" tanya Milea dingin. Sekarang mereka memang memetik tomat, cabe dan beberapa helai kacang panjang di halaman kediaman Abi, membantu istrinya menyiapkan makan siang. Yura tersenyum tak kalah dingin.
"Saya hanya menuruti perintah tuan Fernando." balasnya datar. Apalagi yang bisa dia tanyakan jika gadis ini sudah menyebut nama papa mertuanya? Siapa yang berani melawannya? Perintahnya adalah hukum di rumah maupun di kantor. Fix dia kalah telak.
"Baikah. Tapi kuperingatkan padamu agar jangan dekat-dekat dengan suamiku." Yura tertawa sumbang lalu menoleh pada Milea yang masih memasang wajah seriusnya.
"Saya sudah dekat dengan tuan muda jauh sebelum anda masuk ke dalam keluarga ini nona." Milea membelalak. Tadinya dia ingin Yura yang terkejut karena peringatan keras darinya. Tapi sekarang...gadis itu bisa membalikkan keadaan dengan mengatakan sesuatu yang mengagetkan Milea.
"Siapa kau sebenarnya Yura?"
"Ini bukan urusan anda nona." Milea mengepalkan tangannya kuat mendengar jawaban Yura. Sepertinya asisten suaminya itu sudah bersikap tak sopan padanya. Milea mendengus kesal.
__ADS_1
"Pergilah." perintah Milly menahan amarah.
"Kalau saya tidak mau??" kali ini Milly sudah kehilangan kesabarannya. Tangannya melayang hendak menampar Yura tapi dengan cepat wanita muda itu menepisnya. Apa Milea mengalah? Oohhh...tentu tidak. Langkahnya surut kebelakang, memasang kuda-kuda lalu beranjak menyerang Yura yang juga berusaha menepis dan menghindar. Entah berapa menit mereka saling serang dn bertahan. Sadar jika lawan tak berniat membalas membuat Milea geram. Kali ini dia memilih tendangan memutar untuk mengunci pergerakan Yura di pagar dan menempelkan kakinya dileher sang asisten sebelum wanita itu sempat menghindar.
.....plok...plok...plok.....
Kedua wanita muda itu serentak menoleh. Milea buru-buru menurunkan kakinya dan menundukkan kepalanya, senada dengan yang Yura lakukan.
"Apa yang kalian perebutkan hingga saling serang seperti sekarang hemmm??" Nando yang barusan bertepuk tangan berjalan mendekati mereka berdua. Ada momy Sofia, Rafa dan Rich dibelakangnya. Kenapa Milly tak sadar jika dari tadi mereka sudah ada untuk memperhatikan dirinya juga Yura?
"Nona muda ingin saya menjauhi tuan muda Rafael. Saya menolaknya dan mengatakan jika kami sudah dekat sebelum nona datang kemari. Tapi tiba-tiba nona marah dan menyerang saya tuan." kata Yura penuh kejujuran.
"Kau lupa jika aku sudah menyuruhmu pergi tapi kau malah menolaknya?" timpal Milea kesal. Yura mengangukkan kepalanya. Nando menatap lekat menantunya.
"Kau tak punya hak untuk menjauhkan Rafa dari Yura karena mereka partner kerja, juga sahabat sejak kecil." Milea menatap Nando sekilas. Ayah mertuanya itu seperti menghakiminya sekarang. Tak ada yang berani menyela untuk membelanya, atau mungkin tak ingin? Milea merasa sendiri, dia menegakkan kepalanya menatap sang ayah mertua.
__ADS_1
"Saya punya hak karena saya istri kak Rafa dady. Apa dady lupa itu?" Suara halus Milea sarat akan ketegasan walau tak menghilangkan kesan sopan.
"Aku tidak lupa Milea. Tapi satu hal yang harus kau ingat...kau hanya istri putraku secara hukum." Hampir saja momy Sofia ikut bicara jika tangan kekar Nando tak terangkat, isyarat agar yang lain tak turut campur masalah mereka.
"Saya tau dad, dan saya minta maaf. Tapi saya akan segera memperbaiki hubungan ini." Janji Milea lugas. Tak ada kebohongan disana. Semua itu murni muncul dari dalam hatinya. Fernando tertawa kecil.
"Apa yang bisa kau buktikan dari omonganmu ini Milea?" Milly kembali menundukkan kepalanya. Fernando benar...tak ada yang bisa dia buktikan. Perasaan Rafael padanya juga masih abu-abu. Apa dia sangggup berjuang sendirian?
"Kami akan tinggal di apartemen dan memulai hidup baru disana dad." sontak semua mengalihkan pandangannya pada Rafael yang barusan berbicara. Pria muda itu mendekati sang ayah.
"Rafa bukan ini yang dady harapkan." lirih Fernando.
"Tapi kami sudah menikah dad..cepat atau lambat kami akan hidup mandiri bukan? biarkan kami belajar saling mencintai dan saling mengerti di istana kami sendiri." tutur Rafael. Fernando menepuk bahunya, menyembunyikan seulas senyum disudut bibirnya.
"Lalu kau Milea?? apa kau berani bertanggung jawab jika aku melepas dan mempercayakan putra kesayanganku padamu?" Milea mendongak dengan mata berbinar. Senyumnya merekah membuat Nando mengerutkan keningnya. Tadinya dia menduga Milea akan tersinggung dengan perkataannya. Nyatanya tidak sama sekali. Gadis yang humble.
__ADS_1
"Tentu saja saya akan bertanggung jawab penuh dan menjaga kepercayaan dady. Dady terimakasih sudah percaya pada Milly." dan gadis itu sudah berlari memeluk tubuh tegao Fernando kegirangan layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan. Menantu yang aneh, tapi sejujurnya fernando menyukai sikap Milea. Dia seperti melihat Sofia dimasa muda. Pemberani, tegas, penuh semangat dan pantang menyerah. Sekilas dielusnya kepala Milea. Andai Farah hidup...dia pasti sebesar Milly karena mereka hanya terpaut dua tahun saja.