
"Aku tidak bisa menikahkan kaliam sebelum tuan Fernando juga momymu datang kemari." tegas Sean moraima dengan ekspresi dingin. Entah bagaimana ceritanya dia bisa terseret hingga kemari. Kantor urusan agama setempat, tempat warga muslim seperti mereka menikah. Beberapa kali juga istrinya, Amanda Larsons bergerak gelisah dengan terus menengok ke arah pintu seperti ada seseorang yang dia tunggu. Tangannya juga tak henti-hentinya mengirimkan pesan entah pada siapa, Sean tak tau. Yang dia tau, tuan muda kedua keluarga Hutama itu menatapnya penuh permohonan namun tetap menatap galak putrinya yang terus diam tanpa suara. Cekalan tangan sang tuan muda juga mengerat disana. Andai Yura tak berbasis semi militer, mungkin anak gadisnya itu sudah menjerit minta dilepaskan karena kesakitan. Tapi sungguhkah begitu? Sean juga amat tau jika putri bungsunya itu seperti berada di alam lain. Kehilangan sebagian kesadarannya yang pergi entah kemana.
"Tapi uncle harus tetap menikahkan kami. Kenapa harus menunggu dady dan momy? yang mau menikah adalah aku dan Yura. Bukan dady." tegas Richard masih dengan wajah penuh harapnya. Meski badung, pria muda itu amat memegang norma kesopanan. Apalagi ada beberapa pengawal juga keluarga dekat Amanda yang memang didatangkan Rich untuk jadi saksi pernikahannya...
"Tuan muda, menikah bukan hanya menyatukan kalian berdua...tapi juga seluruh keluarga kita. Anda amat tau jika strata sosial kita amat berbeda. Saya tidak ingin Yura...."
"Sekali lagi uncle...aku yang menikah. Bukan strata sosial seperti yang uncle bicarakan." Sean tetap teguh pada pendiriannya. Dia hanya bawahan, cukup tau diri siapa majikannya sesungguhnya. Seorang bawahan tak akan bergerak tanpa diperintah.
"Maafkan saya tuan muda....."
"Nikahkan mereka Sean!!!" Beberapa pasang mata yang ada disana seketika menatap ke arah pintu masuk dimana sepasang suami istri yang tampak amat mesra diusianya sedang melangkah masuk seraya berpegangan tangan.
"Tuan Fernando...anda..." Suara Sean tercekat ditenggorokan hingga pasangan paruh baya itu sampai di dekatnya.
"Nikahkan Rich dengan Yura. Ini perintah Sean!!" ulang Fernando sekali lagi dengan tegasnya. Bagaimana Sean bisa menolaknya? Amanda Larsons sang istri segera mengambil kain panjang menyerupai kerudung yang di selimutkan dikepala calon pengantin pagi itu. Nandolah yang memberi isyarat pada penghulu agar memulai acara sakral itu hingga terdengar kata 'Sahh!!!' yang menggema diseluruh penjuru ruangan. Ucapan tahmid menyusul setelahnya. Baik Yura ataupun Richard sama-sama menyalami kedua orang tua mereka bergantian lalu mengarahkan mereka semua ke halaman samping masjid yang letaknya berhadapan dengan kantor urusan agama tadi. Disana, beberapa orang telah mempersiapkan jamuan untuk semua orang yang mau datang termasuk teman-teman, saudara, takmir masjid juga petugas kantor tadi sebagai rasa terimakasih. Entah kapan Rich melakukannya. Tapi jika dilihat dari tampilannya, acara itu memang dibuat secara dadakan.
Jika dilihat dari kejauhan, mereka bukan pasangan bahagia yang menikah karena saling cinta. Terbukti dari Yura yang selalu membuat jarak dan terlihat ling-lung. Tapi sebenarnya, apa yang gerangam terjadi pada mereka?
"Apa semuanya akan baik-baik saja hubby?" Nando melirik istrinya sejenak. Dari tempat duduknya yang sekarang terlihat jelas jika mereka tak baik-baik saja. Bagaimanapun dia juga pernah muda dan juga menjalani pernikahan paksa.
__ADS_1
"Semoga saja begitu sayang." balas Nando setelah agak lama terdiam. Sofia menghela nafasnya dalam.
"Saya rasa mereka....."
"Jangan menduga-duga Sean. Rich yang ngotot ingin menikah. Apapun alasannya, putraku tak akan main-main dengan pernikahan karena jika itu terjadi maka akulah orang pertama yang akan menghajarnya di depanmu." Semua terdiam. Nando bukan tipe pria yang suka bercanda. Dia akan melakukan apapun yang dia katakan tanpa syarat. Sean mengangguk lemah. Kekhawatirannya pada nasib putrinya setelah pernikahan dadakan ini seolah sirna karena Nando sendiri yang akan menjamin kesejahteraan putrinya.
"kemari!!" perintah Nando saat jamuan itu berakhir. Rich yang masih mengenggam jemari Yura langsung menuntun wanita yang sudah menjadi istrinya itu mendekat.
"Duduk!" Rich lebih dulu menarik sebuah kursi untuk istrinya sebelum menarik yang lain untuk dirinya. Hal yang manis menurut Nando maupun Sofia. Putranya itu tak pernah melakukannya kecuali pada almarhumah Shane dimasa lalu.
"Dady maupun mertuamu ingin tau apa alasanmu menikahi Yura secepat ini?" tanya Nando penuh tekanan. Rich meremas jemari Yura yang masih setia dalam gengamannya. Namun Yura masih tak peduli.
"Jangan bilang karena kalian saling mencintai karena dady tau hubunganmu dengab Yura tak sebaik itu." tekan Nando lagi sebelum Rich menjawabnya.
"Milea juga sangat mencintaimu, kenapa kau menolaknya waktu itu? Itu bukan alasan yang masuk akal Rich. Jujur atau dady akan mencari tau sendiri semuanya."
.....degh....
Jantung Rich berdetak cepat. Tak ada yang tak mungkin jika dadynya sudah mengeluarkan perintah. Semua akan terbuka saat uang yang bicara. Dadynya benar. Alasannya sama sekali tak masuk akal. Diatas kertas Milea jauh lebih cantik juga berasal dari keluarga yang lebih terhormat dari pada Yura yang hanya anak bawahan ayahnya. Tapi entah kenapa dia memilih wanita muda itu untuk jadi pendampingnya di detik-detik krusial dalam hidupnya?
__ADS_1
"Karena kami sudah melakukannya. Lebih tepatnya aku sudah memaksa Yura melakukannya denganku." Rich menundukkan kepalanya dalam. Dalam posisi sekarang, apa bedanya dia dengan Rafa yang juga lebih dulu memperkosa Milea sebelum menikah? tapi sungguh itulah kenyataannya. Dia jadi kalap saat mendengar pengunduran diri Yura setelah pertengkaran hebat mereka selepas dari pemakaman Shane. Mulut jahatnya sengaja sudah menuduh Yura memanfaatkan kedekatannya dengan Jose sebagai strategi licik untuk menarik hatinya. Yura yang sudah sakit hati sebelumnya merasa seperti menyiram luka dengan air garam. Pedih.
"Maafkan saya tuan muda. Hari ini saya minta berhenti dari pekerjaan saya." kata si wanita penuh ketegasan hingga Rich terpana karenanya. Tak ada tangisan. Wajah cantik itu bahkan sudah sekeras batu karang dilautan luas. Dingin dan keras.
"Kau....memangnya apa yang bisa dilakukan wanita sepertimu setelah diblack list dari Hutama grup nantinya? Kau akan jadi sampah nona Moraima." sentak Rich dengan tatapan menggelap. Sama sekali tak ada rona risau yang bersarang diwajah ayunya. Padahal semua orang tau, semua orang yang keluar dari Hutama grup tanpa alasan jelas tak akan diterima dimanapun.
"Saya akan melanjutkan hidup." balas Yura mantap. Secercah senyum bahkan sudah terkembang disana. Senyum yang bahkan sangat dibenci Rich saat itu.
"Jadi pengangguran sekaligus benalu bagi uncle Sean? Tak tau malu." hardik Rich kasar, berharap Yura akab sakit hati dan menangis didepannya. Dia berharap gadis itu akan menghiba padanya untuk kembali bekerja. Tapi nyatanya tidak. Jawaban Yura berikutnya malah membuat darahnya tersirap.
"Untuk apa jadi benalu. Saya akan menikah dan hidup tenang ditempat yang jauh dari hiruk pikuk kekuasaan. Mewujudkan impian saya untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak tanpa harus bekerja. Suami saya yang akan mencukupkan kebutuhan kami." jawabnya dengan mata menerawang. Senyuman bahagia begitu terlukis di bibir padatnya membuat sudut hati Rich serasa dicubit karenanya. Tak ada dia dalam impian Yura. Kenapa jadi dia yang kecewa?
"Itu semua tak akan pernah terjadi Yura! Karena aku akan menghabisi siapapun yang berani menikahimu nantinya. Kau hanya akan menikah denganku." egoisme yang terlalu dipaksakan. Yura yang baru mendapatkan kesadarannya terlihat acuh dengan langsung menuju kamarnya untuk berkemas. Dia juga sama sekali tak ada niatan terus bekerja di Hutama grup karena hanya dimintai tolong untuk sementara waktu sebagai asisten Rafael, bukan Richard.
"Yura ..berhenti!!" namun tak ada sahutan. Yura tetap memasuki kamarnya dengan sikap tenang. Memaksa si tampan berkulit sawo matang itu berlari kecil mengejarnya lalu masuk ke kamar itu setengah memaksa.
"Tolong tinggalkan kamar saya karena saya akan berkemas tuan muda." pinta Yura penuh kesopanan. Bisa-bisanya gadis itu bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Rafael malah dibikin meradang karenannya.
"Mari menikah!!" katanya mantap, membuat mata Yura mengerjab sesaat. Ditelisiknya wajah tampan di depannya itu. Jika tadi dia tak mendengar perkataan Rich yang merendahkan dirinya dan keluarganya, bisa jadi dia adalah wanita paling bahagia di dunia karena ajakan menikah dari Rich adalah impiannya.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bisa." hati Rich diremas sakit karena jawaban singkat itu. Harga dirinya seakan sudah terinjak.
"Kalau begitu aku akan membuatmu bisa!"