
"Kalau begitu aku yang akan membuatmu bisa!!" sergah Richard seraya mendorong kuat tubuh tegap Yura kebelakang lalu mengunci pintu kamarnya. Rich juga tak segan membuang kunci kamar asal agar sulit ditemukan saat Yura mungkin melarikan firi darinya. Tapi apa itu mungkin? Dia punya tenaga beberapa kali lebih kuat dari putri bungsu Sean Moraima itu. Juga penguasaan ilmu beladiri yang mumpuni, menyamai seorang Rafael yang mendekati sempurna. Rich akan ditertawakan dunia jika gagal dalam misinya kali ini.
"Anda mau apa tuan muda?" desis Yura dengan sikap waspada. Kakinya yang melangkah mundur bahkan sudah bersiap memasang kuda-kuda. Tak peduli menang atau kalah, dia tetap akan berjuang. Rich bukan hanya sudah menghina keluarganya, tapi juga akan melecehkan diri dan kehormatannya. Secinta-cintanya dirinya pada Rich, Yura tak suka dipaksa.
"Membuatmu mau menikahiku Ayura Moraima." desis Rich tak kalah dingin. Pria itu bahkan membuka pakaiannya satu persatu dan kembali melemparkannya asal lalu berjalan lambat mendekati Yura yang juga bersiap menyerangngnya. Hanya bertelanjang dada dengan boxer warna hitam yang menutupi tubuh bawahnya, Rich bahkan sama sekali tak berniat mundur walau sejengkalpun.
"Behenti tuan muda!!" ucap Yura memperingatkan. Kali ini dia tak akan segan. Diliriknya jendela dengan ekor matanya yang awas. Lantai tujuh. Ya, mereka berada di lantau tujuh sekarang. Akan sangat riskan jika dia memaksa menerobos turun dari sana. Minimal patah tulang, Maksimal mati. Tapi dimatanya, kematian bukanlah hal menakutkan. Harga diri wanita berdarah Jepang sepertinya adalah hal utama. Untuk apa bertahan hidup dalam kesakitan? Toh hatinya sudah mati saat tadi Rich menyebutnya wanita tak tau malu. Ya, Yura malu pada dirinya sendiri. Menyimpan rasa cinta yang tak pernah terwujud, mengagumi pria pujaan hatinya dari jauh. Dia bukan Milea yang dengan mudahnya bisa berpindah kelain hati karena hanya mengagumi. Tapi dia adalah Ayura Moraima...wanita muda yang tak hanya mengagumi, tapi juga mencintai Richard sejak masih SD. Cinta yang tak kunjung padam.
"Serang aku! Pukul!! berbuatlah semaumu tapi ingatlah Yura. Kau tak bisa menipu hatimu. Ada aku disana. Kau pecundang Yura!!" Rich makin mendekat. Sebuah pukulan keras bahkan sudah mampir diperutnya hingga membuatnya mundur dua langkah. Tapi Rich tak menyerah. Dia tetap maju, merasakan beberapa pukulan Yura tanpa membalasnya sama sekali. Lebam disana-sini, ngilu tak terperi, tapi Rich pantang berhenti. Toh Yura tak pernah memukul wajahnya. Saat dia hampir mendekat, tubuh langsing si wanita bergerak cepat membuka balkon dan akan melompati pembatasnya. Rich mengeram keras sebelum memutuskan melompat dan meraih tubuh si nekat lalu membantingnya ke lantai bersamaan dengan tubuhnya yang sudah lebih dulu membentur disana. Lagi-lagi sakit. Tapi Rich tak peduli.
__ADS_1
"Sebenci itukah kau padaku? Kau bahkan lebih rela mati dari pada melayaniku. Sudah jelas kau mencintaiku, tapi malah memilih jalan buntu. Kau bodoh Yura." kata Rich menahan rasa sakit yang menderanya. Tak apa asal wanitanya selamat. Bukannya berterimakasih sudah diselamatkan, Yura malah berdiri lebih dulu dan menghadiahi dirinya dengan pukulan mematikan hingga Rich nyaris pingsan karenanya.
"Bunuh aku sekalian Yura. Tapi kau tak akan bisa membunuh perasaan itu." ucap sang tuan muda sesaaat sebelum kehilangan kesadarannya.
"Tuan....tuan muda." Yura mengguncang tubuh lemah Rich berulang kali. Panik, sungguh dia panik. Dia...kenapa semarah tadi? Ohh ya Tuhan...pria ini?? Dia putra bungsu keluarga milyarder yang punya seribu kekuasaan. apa yang sudah dia lakukan? Pembunuh...dia sudah jadi pembunuh. Kalaupun Rich masih hidup, dia tak yakin bisa selamat dari amukan singa jantan sekuat Fernando satria hutama.
"Tuan muda kumohon...bangunlah!" ucap Yura berulang. Dia sudah kehilangan akal karena dilanda kegugupan luar biasa. Ingin keluar kamar tapi tak bisa menemukan kuncinya. Ingin menelepon seseorang tapi ponselnya terbawa Jose yang tadi meminjamnya untuk bermain game. Berteriak?? Itu sama saja dia bunuh diri. Orang akan tau dia sudah membunuh putra keluarga Hutama. Yura panik hingga sedikit akal sehatnya kembali. Dengan tangan bergetar dia memeriksa nafas Rich, juga nadinya.
"Jika ada yang harus mati maka itu adalah aku Rich, aku akan memohon pada Tuhan agar menggantikannya dengan nyawaku asal kau bisa hidup. Tetaplah hidup, tetaplah tersenyum dan bahagia karena aku ingin kau selalu begitu. Cemooh aku sesukamu. Aku tak akan membalas apapun. Jangan pergi Rich..." tangis Yura pecah tanpa bisa dibendung. Gadis itu bahkan sudah menangis diatas dada Rich tanpa menyadari sesuatu. Sudut bibir Rich terangkat, membentuk senyuman manis untuknya.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa pergi jika ada bidadari yang menghentikan langkahku??" sontak Yura menarik dirinya. Suara itu begitu membuatnya lega. Ingin menangis tapi masih berusaha ditahan.
"K...kau...." kebahagiaan dalam dirinya membuncah sudah. Kedua mata itu berpijar. Mata yang jadi semangat hidupnya. Mata yang menjeratnya hingga tak bisa bangkit juga berpindah dari sana.
"Pegang janjimu Yura. Kau tak akan pergi dariku." desis Rich penuh penekanan lalu dengan serta merta membalikkan tubuh Yura dan mengungkungnya. Rich bahkan sudah mengunci kedua tangan Yura hanya dengan satu tangan saja.
"K...kau...."
"Aku tidak akan mati hanya karena pukulan darimu. Kau bilang akan memberikan nyawamu dan menukarnya dengan hidupmu bukan? aku tak minta itu semua Yura. Yang kuinginkah hanya tubuh dan hatimu." dan tanpa memberi jeda Rich sudah menyerang tubuh Yura yang masih kehilangan separuh akal sehatnya. Gadis itu seperti tak menyadari apa yang terjadi pada dirinya juga rasa perih yang mendera inti tubuhnya saat Rich memaksa memasukinya. Matanya terkunci dalam kepekatan manik blue ocean Richard Hutama. Mata yang menatapnya penuh damba hingga erangan panjang membuat lelakinya menutu mata juga membisikkan kata....
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab."