
Seorang wanita muda dengan dandanan modis melangkah lebar mencoba mengiringi dua pria beda generasi disampingnya. Pasmina cream yang dikenakannya melambai ditiup angin saat mereka tiba di halaman bandara tempat sebuah mobil Suv hitam menunggu kedatangan mereka. Flat shoes yang dikenakan si wanita agaknya adalah pilihan tepat meski dia juga tidak phobia dengan sepatu atau sandal hak tinggi. Bagaimanapun dia pernah jadi pemenang lomba modeling antar fakultas dikampusnya. Tentu dengan bentuk tubuh langsing dan wajah cantik jelitanya. Tapi sekarang dia butuh berjalan dalam tempo cepat bersama dua pria disebelahnya.
"Rich sudah menunggu kita rupanya." celetuk pemuda dewasa yang ternyata adalah Leon. Ken ibrahim mengangguk disampingnya. Tentu wanita muda tadi adalah Milea yang segera menaikkan kaca mata hitamnya diatas kepala sebelum jarak mereka semakin dekat. Ya, mereka memutuskan pulang setelah Richard meyakinkan mereka dengan beribu argumen yang tentu saja sangat masuk akal hingga Leon, Ken dan Milea setuju untuk kembali ke Indonesia setelah beberapa hari tinggal di Jepang. Mereka bahkan belum sempat jalan-jalan karena Milly terus tenggelam dalam kesedihannya.
"Selamat datang.." Dan Richard yang sedari tadi menunggu menyalami Ken dan Milea serta memeluk Leon erat laksana saudara yang lama tak bertemu.
"Kau sudah lama menunggu? Kukira kau akan menyuruh pak Man saja yang menjemput kami." seloroh Leon santai. Menghadapi seorang Richard tak perlu terlalu serius seperti saat berhadapan dengan kakaknya. Rich adalah pribadi yang hangat dan humoris di luar kampus. Wajah tampan dan peraingainya bahkan membuat semua wanita tergila-gila padanya termasuk Milea saat masih menjadi mahasiswinya dulu.
"Mana mungkin aku melakukannya? Kita bersaudara Lee." Rich dengan tangkas membukakan pintu belakang untuk Ken dan Milea. Leon memilih duduk di depan menemani Richard yang akan menyetir mobil itu.
"Kalian ingin mampir kesuatu tempat?" tawar Rich ramah. Sungguh tuan muda yang sangat baik hati hingga bersikap sangat rendah hati.
"Boleh mampir ke supermarket terdekat Rich..kami harus membeli beberapa keperluan dapur karena para pekerja baru akan datang besok." Richard melirik Milea dri kaca depan lalu tersenyum. Pantas jika Milea ingin berbelanja terlebih dahulu sebelum sampai ke rumah mereka yang tentu saja kosong melompong dalam hal bahan makanan. Tapi Rich tak tega juga melihat Ken ibrahim yang kelelahan. Pria paruh baya ity harus segera pulang dan istirahat mengingat kesehatannya yang menurun akhir-akhir ini.
"Bagaimana jika kita mampir ke resto favorit momy? rasanya enak. Kita makan siang sekalian lalu membungkus menu untuk makan malam. Milly tinggal menghangatkannya nanti. Lebih baik banyak istirahat dari pada berkutat di dapur." usul Rich penuh keyakinan. Restoran itu memang sering dikunjungi orang tuanya jika ingin makan diluar. Rasanya enak, bersih dan tentu saja dengan kuwalitas bagus meski harganya bisa membuat orang dengan ekonomi biasa saja akan sesak nafas karenannya.
__ADS_1
"Ide bagus." sambut Leon hingga membuat Rich makin bersemangat. Sudah lama mereka tak makan bersama. Lagi pula ini seperti merayakan pertemuan kembali dua keluarga meski tak ada Nando juga Sofia disana. Rich segera mempercepat laju mobilnya agar mereka segera sampai.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di restoran mewah bergaya modern yang tentu saja banyak kunjungi orang-orang kelas atas seperti mereka. Rich mendahului berjalan masuk hingga tangan Milea menghentikan langkahnya. Rich masih mengrenyit heran karena perlakuan Milea hingga....
"Rafael..." desis Leon yang berdiri gagah dibelakang adiknya. Richard segera tanggap dan mengikuti arah pandang semua orang yang tertuju pada satu titik yang sama. Sebuah meja dimana Rafael duduk berhadapan dengan Shania dengan sikecil Jose yang duduk manis dipangkuannya. Sambil menerima suapan demi suapan makanan dari tangan Rafael sedang ibunya...wanita itu malah sibuk berswafoto sambil memainkan ponselnya tanpa peduli pada anaknya.
"Bisakah kita mencari tempat lain saja Rich?" Richard menoleh pada Milea yang berdiri disampingnya. Rona kesedihan begitu ketara di wajah cantiknya yang terlihat sendu dengan mata berkaca.
"Papa ingin pulang." Suara lemah Ken ibrahimlah yang membuat Leon panik. Niat awalnya ingin menghampiri meja makan Rafael menguap sudah karena wajah pucat pria paruh baya itu. Sebagai seorang ayah, Ken tentu sangat kecewa karena kelakuan menantunya, tepatnya menantu idamannya. Istrinya hilang beberapa hari namun sama sekali tak ingin mencari. Pria muda itu malah bersenang-senang dengan mantan tunangan dan anaknya. Hati Ken serasa di remas.
"Sebaiknya kita bawa paman ke rumah sakit, Lee." Leon hanya mengangguk lemah sambil terus memijit ringan pundak papanya yang makin lemah. Wajahnya juga mulai memucat dan hampir kehilangan kesadarannya. Melihatnya, Richard bergegas melaju ke rumah sakit keluarganya sambil berulang kali mendial nomer momynya.
"Momy...segeralah ke rumah sakit. Paman Ken dalam masalah." Kata Rich panik tanpa menjawab salam momynya lalu menutup teleponnya karena dia harus cepat sampai ke rumah sakit.
"Bagaimana paman Lee..." teriaknya panik karena tak ada suara dari belakang joknya.
__ADS_1
"Papa pingsan Rich, terus saja. Itu rumah sakit kalian sudah telihat." Leon dan Milly bukannya tak panik, tapi mereka memikirkan keselamatan jika terus memaksa Rich melaju dengan kecepatan penuh.
Richard menghentikan mobilnya di lobi. Suaa beratnya terdengar kencang saat meneriaki beberapa petugas jaga di IGD. Mereka langsung berhamburan keluar setelah melihat siapa yang datang. Ken ibrahim segera dibawa masuk dan mendapatkan pertolongan pertama di IGD itu. Tiga dokter umum yang sedang berjaga segera menangani pasien serentak saat Rich menyuruh mereka dalam kepanikan.
"Panggilkan dokter Andi. Pasien terkena serangan jantung." teriak dokter pria awal tigapuluhan pada seorang perawat jaga yang langsung berlari tanpa diperintah dua kali. Suasana panik terus terjadi manakala Ken mengalami sesak nafas akut dan terpaksa dipasangkan selang tambahan. Dokter Andi datang dengan tergesa, menghampiri brankar dan memeriksa Ken.
"Momy!!" pekik Richard ketika melihat Sofia datang. Sofia hanya tersenyum sekilas lalu bergabung dengan dokter Andi yang langsung mengangguk hormat pada Sofia, bergeser memberi ruang agar sang dokter bisa memeriksa juga. Selain pemilik rumah sakit ini, Sofia adalah seniornya sebagai spesialis jantung.
"Segera bawa pasien ke kamar operasi!" titah Sofia tegas setelah memeriksa keadaan ken.
"Momy, bagaiman paman Ken?" Richard sudah lebih dulu meraih tangan momynya yang akan ikut ke ruang operasi. Sofia berhenti sejenak.
"Paman Ken kritis Rich. Kemungkinan selamat hanya tigapuluh persen saja." Sofia hampir terhuyung jatuh saat Milea sudah bersimpuh dibawah kakinya dengan tangisan menyayat hati.
"Mom....tolong selamatkan papa. lakukan apapun asal papa selamat. Seumur hidup aku akan berhutang budi pada momy." Sofia berjongkok menyejajarkan diri dengan menantunya yang terus menangis pilu. Dia tak punya banyak waktu untuk menghiburnya.
__ADS_1
"Milly, hidup dan mati ada di tangan Allah. Berdoa saja. Bantu momy dan yang lain dengan doa."