
"Jose...." Richard yang sedang bercakap-cakap dengan Leon di luar kamar perawatan sontak berdiri saat melihat kedatangan Rafael yang menggendong Jose di dadanya. Setengah berlari, Rich mengambil tubuh kecil Jose ke dalam pelukannya tanpa mengindahkan Rafael lalu membawanya duduk di kursi tunggu
"Sebaiknya kau bawa Jose pulang Rich. Putramu itu pasti capek." tukas Leon saat melihat tubuh kecil itu sama sekali tak bereaksi pada ciuman disekitar wajahnya. Terlihat sekali jika Jose terlalu capek dan kekenyangan setelah makan tadi. Richard mengangguk, ini adalah momet pertamanya bertemu pria kecil yang sangat mirip dengannya itu. Rich tentu bahagia sekali. Begini rasanya punya anak. Dia terlalu banyak kehilangan moment bahagia bersama Jose karena keegoisan Shane.
"Aku pulang dulu. Asalamualaikum." pemitnya dibalas semua orang. Tuan muda kedua Hutama itu melangkah lebar keluar dari area rumah sakit keluarganya.
" Bagaimana kabarmu Raf???" Leon mengulurkan tangannya menjabat tangan sahabat sekaligus adik iparnya yang sedari tadi masih terpaku di tempatnya.
"Aku baik Lee...bagaimana papa?"
"Sudah berangsur membaik. Momymu ada di dalam memeriksa papa." Rafael menarik nafas panjang. Setelah kejadian pengusiran dirinya dari kediaman Hutama, terus terang dia belum siap bertemu orang tuanya, terutama momynya. Berhari-hari bahkan Rafa tak bisa tidur nyenyak karena merasa bersalah sudah membuat ibunya bersedih hingga menangis.
"Kalau begitu biar aku masuk kak." Milly segera membuka pintunya lalu berjalan masuk meninggalkan Rafael dan Leon dikursi tunggu.
"Bagaimana kabar wanita itu?" tanya Leon setelah beberapa saat sama-sama terdiam. Canggung rasanya bersikap demikian mengingat hubungan keduanya sebelumnya.
"Tak begitu baik. Trauma yang di derita Shane sangat parah. Dia bahkan mengikat Jose dan melakban mulutnya saat kutinggal tadi." Wajah Rafael jadi mendung.
"Kenapa tak bawa dia ke psikiater saja? Jose pasti ketakutan karena ulah ibunya." Leon sebenarnya tak ingin turut campur dalam kehidupan orang lain, tapi melihat ekspresi Rafa dia berubah pikiran. Dia cukup tau betapa Rafa memuja Shane saat bertunangan dulu. Rafael jugalah yang hancur lebur oleh penghianatan Shane dengan Richard hingga hamil dan kembali meninggalkan Rich untuk orang lain.
"Dia selalu menolak dan histeris. Aku takut dia nekat Lee." Leon menepuk bahunya ringan.
__ADS_1
"Kalau begitu urus saja dia dengan baik." Rafa melirik Leon yang tersenyum tulus padanya. Sama sekali tak ada dendam atau sakit hati di wajah sahabatnya itu padahal dia sudah sangat menyakiti adiknya. Leon seolah tak mengerti apa-apa.
"Aku punya istri Lee...tak mungkin aku terus mengurusnya." Sekali lagi Leon tersenyum walau tak selebar tadi. Raut wajahnya berubah sendu.
"Hanya status Raf. Milly juga tak keberatan melepas statusnya. Tapi tunggulah saat papa pulih. Setidaknya biarkan Milly tetap mempunyai papa saat sudah kehilangan mama dan dirimu." pinta Leon bijak.
"Kenapa berpikir jika aku akan menceraikan Milly?" Tawa sumbang terdengar dari bibir Leon.
"Raf, aku ataupun Milly sama-sama menyadari satu hal...bahwa cinta dan perasaan sama sekali tak bisa dipaksakan. Diawal pernikahan kalian bukankah aku hanya menitipkannya padamu? kurasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengambilnya darimu Raf." Tatapan tajam Leon seolah menusuk jantung Rafael dalam.
"Pernikahan bukan permainan Lee." balas Rafael dengan suara lirihnya.
"Memang bukan Raf. Aku dan Milly tau kau orang baik. Pria yang baik akan menikahi wanita yang baik pula. Milly terlalu kekanakan, biar aku saja yang menjaganya. Kau perlu wanita dewasa seperti Shane untuk selalu disampingmu."
"Tapi kau mencintainya bukan? Baik atau tidaknya wanita setelah dinikahi adalah tanggung jawab suaminya Raf. Dan aku percaya kau mampu membimbing Shane menjadi lebih baik." Rafael terdiam. Ada yang terasa sakit di sudut hatinya saat Leonpun seperti berpihak pada orang tuanya. Semua orang seperti mendorong dia berpisah dari Milea.
"Bukan cinta...tapi kemanusiaan Lee." kali ini Leon terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kemanusiaan yang menghancurkan keluargamu sendiri? Kau seharusnya membuka panti sosial juga Raf." sindirnya lagi. Kali ini lebih pedas.
"Kau tak pernah tau bagaimana Shane berjuang menjalani kehidupannya Lee." lanjut Rafael seperti sebuah keluhan.
__ADS_1
"Memang tidak. Yang aku tau Shane masih punya keluarga yang utuh, orang-orang yang memujanya juga panti sosial dadakan yang akan selalu ada untuknya. Aku juga hanya tau tangisan pedih wanita muda yang sudah kehilangan ibunya dan mungkin akan segera kehilangan ayahnya juga...suaminya. Tidakkah hal itu juga menyedihkan Raf? Kau hanya perlu tau satu hal lagi. Kakak wanita itu tak akan rela adiknya meneteskan air matanya untuk seorang pria yang bahkan tak menginginkan kehadirannya." mata Leon berkaca saat mengatakannya. Milly adalah putri yang amat disayangi segenap keluarga Ibrahim. Siapapun tak suka melihatnya menangis. Tapi saat dewasa, pria yang mereka harapkan bisa terus membuat bibir Milea terus tersenyum malam membuatnya menangis.
"Kau salah paham Lee."
"Ya, anggap saja begitu." tukas Leon cepat, berusaha kembali bersikap biasa. Tapi Rafael sudah sangat mengenal sahabatnya itu.
"Kau juga harus tau satu hal Lee. Aku hanya hidup sekali dan hanya akan menikah satu kali. Aku mengenalmu seperti kau mengenalku. Kalian semua boleh salah paham pada diriku, tapi janga pernah menginginkan aku menceraikan Milea karena sampai kapanpun hal itu tak akan pernah terjadi." ungkap Rafa tegas dengan wajah seriusnya.
"Kalau begitu tinggalkan wanita itu!" sergah Leon tak kalah tegas. Amarah jelas tergambar di wajah tampannya.
"Aku bahkan sudah melakukannya sebelum kau suruh. Shane sudah dikirim ke rumah sakit jiwa."
π
ππ
πππ
Selamat malam readers....
Tak terasa kita sudah sampai ke bab 78 ya. Terimakasih sudah setia mendukung sya dlam berkarya termasuk memberikan komentar yang tanpa kalian sadari juga banyak memberikan sya inspirasi utk menentukan nasib Rafa-Milea. Sesungguhnya, kalianlah author kedua novel ini. Terus semangat ya...bantu sya agar lbisa berkarya lebih baik lagi. I love U allππππ
__ADS_1