Love You More, Husband

Love You More, Husband
Dejavu


__ADS_3

Milea masih menatap sedih Rafael yang mengemudikan mobilnya menuju kediaman Hutama. Wanita muda itu dilanda ketegangan, pun dengan jemarinya yang berubah dingin dan tak berhenti saling memilin. Banyak hal yang ingin dia katakan, tapi semua serasa hanya terjadi dalam angannya dan tercekat dalam tenggorokannya.


"Kak..." ucapnya memberanikan dirinya memanggil Rafael yang sejak tadi hanya fokus pada jalanan yang mereka lewati.


"Hmmmm...." sahut Rafael acuh. Banyak masalah dan tugas yang harus dia selesaikan dan menguras energinya. Sungguh, pria itu butuh ketenangan. Apalagi proyek besar yang ditanganinya bukan pekerjaan main-main. Rafael butuh suntikan semangat.


"Kenapa kita tak tinggal di apartemen saja?" Rafael sudah membelokkan mobilnya di kediaman orang tuanya usai Milly bertanya. Terang saja Milly kecewa. Dia bahkan belum bisa bicara banyak atau mendapat jawaban dari pertanyaannya.


"Kau ingin tau kenapa?" tentu saja Milea mengangguk yakin. Mereka sudah menikah, Rafa juga punya apartemen dan rumah sendiri. Tapi kenapa suaminya malah memilih tetap tinggal di rumah orang tuanya? meski momy Sofia sangat lembut dan bak hati, tapi dady Nando adalah tipe pendiam yang menakutkan baginya. Papa mertuanya itu hanya bicara seperlunya saja. Selebihnya hanya diam dan jarang bicara jika bukan momy Sofia yang bertanya.


"Kita tidak bisa melanjutkan pernikahan ini Milea." balas Rafael pendek. Darah Milea seperti berhenti mengalir. Wajah orang tua dan kakaknya hadir silih berganti. Memang tak ada yang memaksanya bertahan, tapi dia tak ingin mengecewakan keduanya. Pernikahan ini atas keinginan keduanya dan Milea tak ingin menghancurkan impian mereka. Milly tau baik papa maupun kakaknya sangat menginginkan kebaikan untuknya. Tapi kenapa bukan dengan Richard saja?


"Tapi aku tidak mau pisah kak." Rafael menatanya lurus dengan ekspresi tak terbaca. Pria itu menarik ujung bibirnya, membentuk lengkungan kecil yang entah apa maksudnya.


"Demi Richard?" tanya si pria dengan nada getir. Berkali-kali kisah itu terulang dalam kehidupannya. Seperti dejavu. Dia terlahir sangat tampan dengan fisik sempurna, tapi kisah percintaannya tak setampan wajahnya. Semua gadis yang diinginkannya selalu saja jatuh cinta pada Richard entah kerena apa. Padahal sungguh, postur mereka jauh berbeda, demikian pula wajah dan perangainya. Bisa dikatakan jika Rafael adalah anak rumahan yang hanya tau bekerja dan patuh pada orang tua. Tak lebih. Mungkin itu alasan kenapa baik Fernando ataupun Sofia begitu memprioritaskan si sulung. Anak yang manis dan amat cerdas yang lahir dari rahimnya. Lalu sekarang...Milea Ibrahim, wanita yang dia nikahi juga atas dasar perjodohan orang tuanya juga jatuh cinta pada Richard. Apa sebagai lelaki dia bisa menerimanya?


"Bukan. Papa..kak Leon..aku tidak bisa mengecewakan mereka.'' Rafael menarik nafas panjang. Sekarang dia tau kenapa wanita ini ingin bertahan. Yang jelas alasannya bukan karena dirinya. Sakit? pasti. Dia pria normal yang punya harga diri. Tak ada yang menginginkan dirinya secara tulus bukan? tapi setidaknya Milea menginginkannya bukan karena ingin mendekati Richard lagi. Milly punya prioritas lain walau terkesan plin-plan dimatanya.


"Baiklah. Kita tak akan bercerai Milly." Salahkah jika Milly hampir berteriak girang mendengar perkataan suaminya? artinya dia tak akan mengecewakan siapapun, tanpa dia tau ada sebuah hati yang sangat dia kecewakan. Rafael Hutama.

__ADS_1


"Terimakasih kak." Milly memeluk tubuh kekar itu erat seakan tak mau lepas.


"Aku berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik kak." Tapi Rafael sama sekali tak menjawab atau membalas pelukannya hingga Milly melepaskannya. Menghadiahi pria tampan itu dengan senyum termanisnya. Tapi hati Rafa sudah membatu. Pria itu memilih turun dan memasuki rumahnya.


"Kalian sudah pulang?" sapa momy Sofia dengan mata berbinar. Dia yang sedang bersantai dengan suaminya segera bangkit untuk menyambut anak dan menantunya. Dokter cantik diusianya yang tak lagi muda itu memeluk keduanya bergantian.


"Momy kira kalian akan menginap lagi di apartemen." Milly hanya tersenyum kecil mengingat tingkah hebohnya hingga berani menyuruh seorang singa dunia bisnis yang paling diatakuti, Fernando satria hutama mengantarkannya malam-malam ke apartemen putranya. Demi siapa coba? Jawabannya tetaplah sama. Momy Sofia. Entah kenapa pria yang amat mirip dengan suaminya itu begitu menurut pada istrinya tanpa bantahan sedikitpun. Andai Milea bisa mencintai Rafael seperti momy Sofia mencintai dady Nando ....akan banyak orang yang akan tersenyum bahagia karenanya.


"Kak Rafa meminta pulang mom." balasnya lirih. Sofia mengangguk dan mengelus punggungnya penuh kasih.


"Dad...bisa kita bicara?" Fernando yang menikmati siaran televisi favoritnya mengalihkan pandangannya pada sang putra. Wajah cerdasnya menyelidik. Rafael tak pernah seserius itu jika tak ada sesuatu yang penting. Meski mereka dilahirkan dengan sikap dingin, tapi mereka tetaplah ayah dan anak yang saling menyayangi dengan hati yang hangat. Fernando adalah ayah terbaik yang akan mendengarkan keluh kesah anak-anaknya dan ada di garda terdepan jika ada yang menyakiti mereka.


"Ada apa Raf?" Rafael menyusul papanya yang duduk di sofa panjang. Hilang sudah sikap formal ayah dan anak itu.


"Milly tak ingin bercerai dad." Tutur Rafael hati-hati saat membuka percakapannya.


"Itu bagus. Dady tak suka perceraian apapun alasannya." timpal Nando tak kalah serius. Dia sangat tau masalah yang dihadapi si sulung karena Nando adalah ayah sekaligus sahabatnya.


"Tapi..."

__ADS_1


"Jika itu demi Richard, adikmu tidak keberatan jika harus pindah ke London menyusul grand pa agar kau hidup bahagia." Rafa tersenyum getir. Dia cukup tau jika Rich amat mencintai Indonesia dan enggan meninggalkan negeri seribu gunung tempatnya mendaki. Dia tak akan membiarkan Rich melakukannya.


"No. Milly tak ingin Leon dan papa Ken kecewa jika kami berpisah."


"Menurutmu?"


"Apapun alasannya bukan aku alasan utamanya tetap bertahan dad." Nando menepuk bahu putranya lembut. Sungguh hatinya sakit mendengae penuturan putranya. Ayah mana yang tega melihat buah cintanya yang terlahir sempurna jadi menderita?


"Ingat dan dengarkan pesan dady Raf. Jodoh itu sudah ditulis di lauhul mahfudz jauh sebelum kau lahir. Dia tak akan salah atau tertukar. Yang menjadi jodohmu tetap akan jadi milikmu."


"Bisakah dady mengirimku ke Singapura saja?" Nando terdiam. Singapura? Perusahaan mereka yang ada disana memang sedang kehilangan pemimpinnya karena sakit mendadak. Padahal industri mereka berkembang pesat dengan keuntungan diatas rata-rata. Tapi mengirim Rafael kesana belum tentu disetujui ratu hatinya, Sofia.


"Lalu Milea?"


"Dia akan tetap disini, menjadi menantu keluarga ini karena kami tak akan bercerai dad."


"Meninggalkan dia sendirian sama dengan kau menyakitinya Raf. Itu bukan ide yang baik. Momymu juga tak akan setuju."


"Lalu apa yang harus kulakukan dad?" tukas Rafa terdengar putus asa.

__ADS_1


"Gantikan dady pergi ke Jepan esok pagi. Selebihnya biar dady yang mengurus semuanya."


__ADS_2