
Milea tersenyum kecil saat wajah tampan itu tepat berada di depannya saat terbangun pagi ini. Wajah yang terlihat damai dengan nafas teratur yang masih membuainya di alam mimpi. Walau ada guling yang membatasi keduanya, tapi semua itu sama sekali tak menyurutkan rasa bahagia dan senyum manis si wanita. Lama dia pandangi wajah tampan yang entah sejak kapan sudah merebut seluruh hatinya tanpa sisa. Milly bahkan sama sekali tak bisa menyisakannya untuk pria lain di dunia ini, termasuk Richard. Makin kesini dia makin bersyukur karena di jodohkan dengan Rafael dan bukan Rich yang masih berjiwa petualang. Berlahan Milea bangun lalu membersihkan dirinya.
"Sudah bangun mas?" tanya Milly saat mendapati suaminya sudah duduk di sofa dengan posisi ranjang yang sudah amat rapi. Pasti Rafa bangun tak lama setelah di masuk ke kamar mandi tadi. Benar-benar pria yang rapi dan bersih.
"Apa kau tak keberatan menungguku untuk sholat berjamaah?" Milea menggelengkan kepalanya. Adzan baru saja berkumandang, mereka masih punya waktu hingga Rafael selesai mandi dan jadi imam sholatnya pagi itu.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibaca Rafael selepas sholat membuat hati Milea bergetar. Wajah itu terlihat tampan dan penuh kebaikan kala melafazkannya dengan suara merdu. Milly memang tak menunggunya hingga selesai membaca seperti kebiasaannya saat di kediaman Hutama karena harus menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk suami, papa dan kakaknya. Sejak Ken keluar dari rumah sakit, memang Milly lah yang memasak sendiri. Bukan tak percaya pada ART, tapi Milly memang ingin melakukannya karena sebuah tanggung jawab.
Milly masih sibuk memotong-motong sayuran hijau saat suster Mega masuk ke dapur. Suster cantik itu menyapanya hormat lalu meminta ijin menjerang air. Tangannya dengan cekatan membuat racikan minuman hangat dalam versi berbeda. Rempah-rempah untuk papanya dan....segelas kopi kreamer yang membuat Milea mengerutkan keningnya.
"Kopinya untuk siapa sus?" milea tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Untuk tuan Leon, nyonya muda." balasnya sopan. Mendengar jawaban suster Mega membuat Milea bertambah heran. Leon?? Tak biasanya kakak laki-lakinya itu mau dibuatkan kopi pagi oleh sembarang orang. Dulu saat dokter Maya masih hidup, beliaulah yang membuatkannya. Setelah sang mama kembali ke rahmatullah, Milly yang menggantikan perannya, membuatkan kopi untuk Leon karena selalu beralasan jika dibuatkan orang lain dan salah takaran bisa membuat harinya berantakan. Huh...dasar aneh.
"Kak Leon yang suruh?" tanya Milea memastikan. Suster Maya hanya mengangguk hormat.
"Mulai kapan suster membuatkan kopi untuk kakak saya?" Wajah suster Mega sedikit tegang karena pertanyaan beruntun Milea yang membuatnya merasa aneh. Kenapa masalah bikin kopi saja bisa dibahas sedetail itu? apa karena dia bukan ART di rumah itu? Membuat kopi memang bukan tugasnya, tapi entah kenapa dia juga tak bisa menolak jika Leon meminta tolong pada tengah malam atau pagi seperti sekarang.
__ADS_1
"Sejak pertama kali menginjak rumah ini nyonya muda. Apa saya berbuat kesalahan??" wajah resah menghiasi wajah manis di depannya itu. Terlihat sekali jika suster Mega ketakutan.
"ehmm...tidak suster. Saya hanya iseng bertanya." balas Milly cepat. Kasihan juga melihat wajah tegang suster itu. Mereka bercakap-cakap ringan hingga airnya mendidih dan suster Mega pamit ke kamar utama sambil membawa nampan berisi minuman tadi.
Milly meneruskan acara memasaknya. Tinggal beberapa sayuran lagi lalu menghaluskan bumbu dan menumisnya.
"Apa kau perlu bantuan?" Hampir saja Milly berjingkat kaget saat suara bariton suaminya terdengar sangat dekat di sampingnya. Kali ini dia terlalu fokus memasak, juga memikirkan suster Mega hingga tak menyadari kedatangan Rafael.
"Ehhmmm...tidak usah mas. Tunggu saja di kamar atau di sofa sana." tolak Milly halus. Jarang bukan, ada pria yang mau turun ke dapur? Apalagi suaminya bukan orang sembarangan. Jangankan Rafa, Leon saja tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di dapur.
"Sini, biar aku membantumu." Rafael mengambil pisau dari tangan Milea lembut lalu melanjutkan memotong sayur dengan terampil hingga Milly tercengang dibuatnya.
"Aku tinggal di apartemen saat kuliah dulu. Memasak bukan hal yang aneh buatku. Momy selalu mengajarkan kami untuk mandiri. Kau mau masak apa, Mil?" Milea ber oohh ria.
"Mau bikin sup untuk papa, ayam goreng dan gurami asam manis untuk mas Rafa." sahut Milea.
"Untukku?" ulang Rafa. Milly mengangguk. Suaminya juga pecinta gurami, maka itu dia ingin memasaknya pagi ini.
__ADS_1
"Boleh kuusulkan sesuatu?" Rafa menatap Milly serius, membuat Milly menghentikan gerakannya yang akan menumis bumbu.
"Akan terlalu banyak menu yang akan kau masak. Kau akan kecapekan nanti. Tak perlu banyak menu dipagi hari, yang penting sudah ada menu untuk papa. Kita yang sehat bisa makan apa saja bukan?"
"Tapi aku mau memasaknya untuk mas Rafa." protes Milly. Jika untuk makan seisi rumah, akan ada pelayan yang akan membuatkan menunya, tapi dia ingin Rafael makan masakannya. Tentu saja dengan resep pemberian momy Sofia.
"Milly...aku tak rewel soal makanan. Apapun yang kau sediakan aku akan memakannya. Aku hanya tak ingin kau terlalu capek." kali ini Milly hanya bengong saat tangan kirinya sudah berpindah dalam genggaman Rafael. Wanita mana yang tak tersanjung dan bahagia saat mendapatkan perhatian sebesar itu dari suaminya?
"Goreng saja ayamnya. Aku akan masak capjay kuah. Menu itu bisa kita makan bersama, juga aman untuk papa." Pungkas Rafael seraya menghidupkan kompor dan mulai memasak.
"Hmmm...baunya harum. Pasti rasanya enak." ujar Milly setelah meniriskan gorengan ayamnya, bersamaan dengan matangnya capjay buatan Rafa. Air liurnya menetes seketika.
"Mau mencoba?" tawar Rafael saat melihat istrinya terus melihat hasil masakannya. Tak ingin melihat Milly bimbang, pria itu bergegas mengambil mangkok keci dan mengambilkannya untuk Milea.
"Aaaaaakkk...." Lagi dan lagi Milea melongo. Sang tuan muda Hutama itu malah menyuapinya tanpa sungkan, setengah memaksa pula. Mau tak mau Milly membuka mulutnya, mencicipi masakan sang suami yang ternyata...enak, sangat enak malah. Rafael tersenyum senang saat Milly menyantapnya tergesa hingga sisa saus yang menempel di sudut bibirnya membuat sang tuan muda gemas.
......cup.......
__ADS_1
Mata Milea membola saat benda kenyal itu sudah menempel di bibirnya, apalagi sapuan lidah lelakinya bergerak lembut menyapu sisa saus disana dengan amat lembut hingga membuatnya kehilangan separuh kesadarannya.