Love You More, Husband

Love You More, Husband
Sebal


__ADS_3

"Panggilkan Yura!!" perintah Richard pada sekretarisnya begitu sampai di gedung Hutama grup. Sang sekretari segera mengiyakan, menekan telepon kantor dan menghubungi Yura. Tak ada jawaban hingga dia menekan berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Saat sekretaris itu berinisiatif mendatangi ruangan Yura, dia melihat gadis manis itu keluar dari arah pantry dengan langkah panjang.


"Yura, tuan muda Richard memanggillmu ke ruangannya sekarang. Ahh..kau sakit?? matamu memerah Yura." kata sekretaris Liam pada Yura yang menatap tajam padanya. Ya, sejak bekerja sebagai sekretaris Rich...Liam memang sangat perhatian padanya, tapi Yura pura-pura tak tau saja akan perasaan pria blasteran Cina itu.


"Aku baik-baik saja sekretaris Liam. Permisi." dan Yura segera menuju ruangan Rich yang bersebelahan dengan ruangan CEO lama mereka Rafael. Gadis itu mengatur nafas sebelum mengayunkan tangan untuk mengetuk pintu.


"Masuk!" perintah Rich dari dalam, membuatnya membuka pintu lalu masuk ke sana.


"Selamat pagi tuan muda. Apa yang bisa saya kerjakan?" ucapnya dalam bahasa formal seperti biasa. Rich menyeringai dari tempat duduknya.


"Urus tiket untuk esok pagi. Aku ingin menghadiri pemakaman Shane." Yura diam mendengarkan perintah Rich juga menatap wajah tampannya seperti biasa. Hanya bedanya sekarang tanpa tatapan memuja.


"Baik tuan muda. Apa ada hal lain lagi?" pertanyaan sama yang akan dia lontarkan pada siapa saja atasannya termasuk Rafael saat masih menjabat sebagai CEO.


"Ada. Aku ingin putraku juga dirimu ikut datang kesana." lanjut Rich lagi.


"Baik tuan muda." Rich mengeram tertahan. Wajah ini...walau terlihat sembab tapi sama sekali tak terlihat sedih seperti yang diharapkannya. Yura masih bersikap profesional dengan tetap datang ke kantor dan menepati jam kerjanya walau sudah berlari meninggalkannya saat berada di kediaman Rafael tadi. Tapi kita lihat saja apa dia mampu bertahan.

__ADS_1


"Siapkan satu tiket lagi untuk calon ibu Jose." Katanya penuh penekanan seraya memantau ekspresi Yura. Dia berharap gadis itu bersedih saat mengikrarkan jika ada wanita lain yang akan dia nikahi, dan itu bukan dirinya. Jelas bukan dirinya karena Rich sama sekali tak ada perasaan padanya.


"Baik tuan. Akan saya ulangi. Anda memerintahkan saya untuk memesan empat tiket untuk penerbangan pertama ke singapura esok. Siap, laksanakan." Lagi...tak ada ekspresi hingga Rich dibuat kesal karenanya.


"Hmmmm...pesan dua kamar saja karena calon ibu Jose akan tidur bersamaku. Sementara kau akan menemani putraku." Lihat saja pertunjukan yang akan dia buat. Jika perlu Rich akan membuatnya bernasib seperti Milea agar tak lagi punya perasaan padanya. Ya, Rich benci jika ada yang menyukainya. Apalagi yang berlindung dalam kepura-puraan seperti Yura. Cintanya sudah habis untuk Shane saja.


"Baik tuan muda. Apa ada lagi?" Sialll!!! Rich mengumpat dalam hati saat wajah oriental berkulit putih di depannya itu terlihat biasa saja.


"Ada. Aku tidak ingin bawahan sepertimu menaruh hati pada seorang tuan muda Hutama karena perasaanmu hanya sebuah kesia-siaan. Para penerus Hutama akan menikahi wanita golongan atas seperti Milea, bukan seorang bawahan." Ujar Richard dengan wajah seriusnya, berharap Yura akan bersedih karena perkataannya.


"Baik, kau boleh pergi." ucapnya menahan kesal. Yura bergegas memberi hormat lalu berbalik dengan langkah tegapnya keluar dari ruangannya. Rich segera mengarahkan cctv padanya saat Yura sudah keluar dari ruangannya. Tapi sayang, yang diharapkannya sama sekali tak terjadi. Yura hanya melakukan pekerjaannya seperti biasa lalu duduk menyeruput kopinya sepersekian detik sebelum menekuni pekerjaannya kembali. Rich memukul mejanya, kesal.


Tapi tunggu...


Saaat sang tuan muda kedua Hutama itu akan mengalihkan pandangannya dari cctv ruangan milik Yura, dia melihat Yura yang juga menatap CCTV tajam, seolah tau jika dia diperhatikan. Hanya sekejap sebelum dia berdiri dan meningglkan ruangannya, membawa tas dan kunci mobilnya. Jam makan siang telah tiba. Rich tanpa sadar ikut berdiri, nalurinya menuntun untuk mengikuti. Yura pasti ingin pergi makan siang diluar.


"Kau mau makan siang diluar Yura?" sekretaris Liam bertanya saat mereka berpapasan di depan pintu ruangan Rich. Tentu Rich bisa mendengarnya karena berada dibalik pintu.

__ADS_1


"Iya tuan Liam, aku ada janji dengan teman. Permisi." lalu Yura segera berlalu dari sana menuju lift ke lantai dasar. Hal yang kemudian dilakukan Rich saat masuk ke lift khusus petinggi Hutama grup.


Rich segera menaiki mobil yang sudah disiapkan Liam untuknya mengikuti mobil Yura dalam jarak aman. Dahinya berkerut kala melihat mobil Yura berbelok ke halaman Bimantara grup. Sigap, Rafael mengikutinya masuk.


"Milea...." bisiknya saat melihat siapa yang ditemui Yura disana. Kakak iparnya itu barusan keluar dari mobilnya yang sama-sama terparkir rapi dihalaman perusahaan Rafael itu. Siapa sangka, Yura setengah berlari menghampiri Milea lalu memeluknya, menenggelamkan air matanya disana. Tentu Rich bisa melihat dengan jelas karena Yura mengusap air matanya berulang. Wajah tegasnya dipenuhi kesedihan. Sudut hatinya tercubit sakit. Buru-buru dia menggelangkan kepalanya lalu menyuruh sopir kantor memundurkan mobilnya lalu kembali ke kantor.


Rich yang sudah tiba dikantor langsung memasuki ruangannya. Mata birunya tetap memantau cctv lantai dasar dimana lobi kantor berada. Dia ingin memastikan Yura kembali. Tentu gadis itu akan segera kembali karena waktu istirahat dan makan siang akan segera berakhir sedang perjalanan dari gedung itu ke pabrik Rafael butuh waktu lima belas menitan. Rich tau Yura wanita yang amat disiplin.


Dugaannya benar, lima belas menit kemudian Yura memasuki lobi dan langsung menuju pantry membawa plastik berlogo toko retail terbesar dinegeri ini. Rich segera memindahkan kursor, memantau asistebmn cantiknya itu. Berkali-kali dia menggelengkan kepalanya karena melihat Yura menyeduh mie instan dan memberikan dua cup lainnya pada petugas OB yang kebetulan berada disana lalu duduk dan hendak makan bersama disana tanpa rasa ragu. Hal yang tak lazim dilakukan seorang asisten CEO yang biasanya enggan berkumpul dengan bawahan. Rich kembali kesal. Sang CEO baru Hutama grup itu melangkah cepat menuju pantry.


Dua orang OB yang makan bersama dengan Yura baru akan mulai makan saat Rich masuk ke ruangan tak begitu luas itu. Dua OB itu sontak kaget dan berdiri memberi hormat, tapi tidak untuk Yura yang duduk membelakangi pintu dan fokus makan mengingat waktu istirahatnya akan segera berakhir. Rich memberi isyarat agar dua OB tadi keluar sebentar.


"Berhenti makan makanan instan Yura." ucap Rich sembari menarik cup mie yang dimakan oleh Yur lalu membuangnya ke tempat sampah dengan wajah marah. Yura yang baru menyadari kedatangan sang bos segera berdiri.


"Apa ada yang bisa saya kerjakan tuan muda?" lagi...Rich sebal dengan hal itu. Kenapa masih memasang wajah datar, sikap biasa juga ekspresi baik-baik saja padahal hatinya terluka? dasar munafik!!


"Pergi ke ruanganku, sekarang!!"

__ADS_1


__ADS_2