Love You More, Husband

Love You More, Husband
Selidiki Dia


__ADS_3

Tangan kokoh Leon mencengkeram lengan suster Mega yang akan beranjak pergi saat dia menghentikan sesi interogasi karena ponsel disakunya berdering. Leon masih ingin bertanya lebih jauh pada suster cantik itu karena rasa penasaran yang membuncah di dadanya.


"Apa kau sudah selesai dengan adikku?" ketus Leon saat Rafael kembalu menghubunginya setelah satu jam yang dia janjikan. Selali begitu, tuan muda Hutama itu amat tepat waktu. Leon bahkan sudah hafal tabiatnya sejak jaman sekolah dulu.


"Hmmmm...sudah untuk sesi pertama. Kami akan mengulangnya beberapa jam lagi." balas Rafa terdengar santai hingga Leon meradang karenanya.


"Milly baru saja sembuh dan kau sudah menghajarnya. Ahh Ya Tuhan..kau keterlalun Raf!!"


"Keterlaluan apanya? Millu bahkan selalu menggodaku selama seminggu ini. Dia yang memaksaku Lee. Jadi jangan salahkan aku karena aku juga menginginkan istriku. Ck...sebaiknya kau cepat menikah agar tau rasanya surga dunia Lee." celoteh Rafa memantik emosi kecil dari Leon yang berdecih sebal karenanya.


"Omong kosong!! menikah tak seindah imasjinasimu Raf."


"Aku tak perna punya imajinasi soal pernikahan Lee. Kau tau pasti itu. Aku bahkan tak menyukai Milly diawal-awal pernikahan kami. Tapi sekarang?? Kau bisa lihat jika aku tak bisa jauh dari adik cantikmu. Apalagi saat dia merajuk minta tambah. Apa aku bisa menolak wanita seganas Milea??" Jika mereka berdiri berhadapan, besar kemungkinan Leon akan menghadiahi pukulan keras pada Rafael karena kata-kata mesumnya. Tapi...ahh...Leon jadi berpikir. Kenapa Rafael berubah mesum? padahal dia tak pernah menyinggung hal itu dulu. Baik sebelum atau sesudah menikah.


"Aku tau itu. Sekarang dimana Milly? Aku ingin bicara dengannya." Bukannya lebih baik bicara pada intinya saja?


"Maafkan aku Lee. Tapi Milly langsung tertidur. Mungkin kecapekan. Kau ingin bicara soal apa? Katakan saja. Aku akan menyampaikannya nanti."


"Papa menanyakan keadaannya." balas Leon singkat. Rafael juga dibuat terkejut karenanya. Dia dan Milly bahkan belum sempat berkunjung ke kediaman Ibrahim dan menengok papanya. Rafael jadi merasa bersalah karenanya.

__ADS_1


"Maafkan kami, Lee. Secepatnya aku akan mengajak Milly mengunjungi papa." ungkap Rafael penuh penyesalan. Andai Milly mendengarnya, pasti malam ini juga istrinya akan minta pulang ke rumah orang tuanya.


"Tak perlu tegesa Raf. Setidaknya biarkan Milly pulih betul walau jarak rumah kita tak begitu jauh. Percayalah papa baik-baik saja bersama suster Mega." Leon melirik wanita yang dia sebutkan tadi sekilas sebelum melanjutkan obrolannya sebentar lalu menutupnya. Kini tatapan pria tampan rupawan itu beralih pada Mega yang masih berusaha menetralisir detak jantungnya.


"Sekarang jawab pertanyaanku tadi. Kenapa kau menangis hemm??" Wanita muda berusia dua puluh lima tahun itu mengangkat kepalanya sejenak.


"Saya tidak apa-apa tuan. Tapi....." suster Mega menjeda ucapannya. Wanita muda itu terlihat ragu. Namun karena Leon terus menatapnya penuh rasa ingin tau, Mega memberanikan diri melanjutkan perkataannya. Harus...dia harus mencoba.


"Bisakah tuan meminjamkan uang pada saya?" Kali ini Leon memincingkan matanya. Uang? Setahunya bekerja pada Hutama grup sebagai kepala perawat khusus punya gaji yang lumayan besar dibanding bekerja ditempat lain. Bukannya selama bekerja di rumahnya Mega sama sekali tak mengeluarkan uang kost atau makan karena sudah ditanggung sepenuhnya oleh dirinya selaku kepala keluarga menggantikan papanya? kalaupun ada penguaran lain, pasti tak akan mengabiskan gajinya selama sebulan karena Leon juga tak pernah lupa memberikan bonus padanya.


"Untuk apa?" tanya Leon masih dengan raut menyelidik.


"Saya membutuhkannya." jawaban singkat yang sama sekali tak memuaskan rasa ingin tau Leon ibrahim.


"Untuk apa uang sebanyak itu?" lirih Leon. Tapi rasa ingin taunya berubah jadi heran karena sejurus kemudian wajah kuyu sang suster menengadah sambil memamerkan deretan gigi putinya dengan senyum lebar.


"Saya hanya bercanda tuan. Ehmm..kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam tuan." pamit Mega lalu melesat pergi sebelum Leon memberinya ijin. Dahi si tampan kembali berkerut. Apa Mega benar-benar bercanda? tapi apakah semuanya mungkin mengingat tadi wanita muda itu sempat menangis dengan ratapan tertahan. Tidak mungkin dia bercanda. Tapi tunggu..sejak kapan dia jadi begitu peduli pada urusan pekerja rumahnya? Dasar aneh.


"Tunggu!!" seru Leon setengah berteriak untuk menghentikan langkah Mega yang sedikit tergesa. Seketika gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Leon yang berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Katakan apa masalahmu suster." nada rendah yang sarat intimidasi. Sepertinya jiwa kepo Leon benar-benar meronta-ronta.


"Tidak ada tuan. Sungguh saya hanya bercanda tadi." lagi, senyum tipis Mega seolah ingin membuktikan jika dia baik-baik saja.


"Baik....Dua ratus juta. Aku meminjamkannya padamu." putus Leon tanpa berpikir banyak. Nominal yang wah untuk dipinjamkan pada seorang suster perawat papanya. Tapi apa boleh buat? seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk melakukannya.


"Tapi tuan...saya sama sekali tak punya jaminan untuk meminjam senilai itu." suara Mega bergetar ketika membalas ucapan Leon ibrahim yang berdiri menjulang di depannya.


"Kau jaminannya." Kata Leon singkat sebelum menuju ruang kerjanya dan menyuruh Mega mengikutinya.


"Aku tak punya uang cash dirumah. Bank juga sudah tutup jam sekian. Tapi aku bisa mentransfernya jika kau mau." Mega terlihat gamang. Sejujurnya dia sangat butuh uang itu. Jika bisa sekarang juga. Tapi dengan mengatakan kemana tujuan transfernya membuat dia takut Leon curiga.


"Kau tak perlu takut. Baiklah, besok pagi saja biar sekretarisku membawakan uang cash kemari." Bukannya dapat solusi, Mega makin terlihat bingung. Memegang uang sebanyak itu? Ahhh...membayangkannya saja jiwa sedehananya sudah tak bisa.


"Ta..tapi tuan. Ehhmm baiklah. Ini nomer rekeningnya." Mega bergerak mendekat. Menunjukkan deretan angka pada pesan di aplikasi warna hijau miliknya pada Leon.


"Kirim saja ke ponselku. Kau akan segera mendapatkan notifikasi dariku." Mega segera mengirimkannya pada Leon yang terus menatapnya. Rikuh rasanya berada di ruangan tertutup hanya berdua saja dengan anak majikannya yang yah...tampan.


"Pergilah istirahat. Nanti aku akan mengirimkannya padamu." perintah Leon diangguki Mega yang segera pamit ke kamarnya. Sementara Leon, pria itu segera menelepon seseorang.

__ADS_1


"Raf, tolong suruh orang-orangmu menyelidiki siapa Bram. Mega memintaku mengirimkan uang dua ratus juta sekarang." Diseberang sana, Rafael yang baru usai membersihkan dirinya usai sesi percintaan panasnya bersama Milea yang terulang mendengakan penjelasan iparnya dengan seksama.


"Tentu saja...seperti kemauanmu kakak ipar. Duduk manislah dan tunggu kabar dariku oke?"


__ADS_2