
Rafael membeku manakala tubuh tegap Fernando sudah berdiri diambang pintu hotel VVIP tepat berhadapan dengannya. Haruskah Rafael tercengang melihat beberapa kancing atas kemeja dadynya terbuka menampilkan deretan bulu tipis di dadanya juga lengan yang sudah disingsingkan hingga setengahnya? Penampilan kontras saat sang ayah masuk ke hotel tadi. Raut tegas sang dady seakan mengintimidasinya. Tapi sudah terlanjur basah, mundurpun akan jadi percuma. Jika nanti yang dia lihat adalah kebenaran, maka dia juga harus merelakan Milea lepas dari gengamannya.
"Asalamualaikum dady."
"Hmmmm....walaikumsalam warohmatullah." Fernando tersenyum samar manakala sang putra tak meninggalkan kebiasaannya mencium punggung tangannya meski hubungan mereka sedang tak baik-baik saja. Momy Sofia juga sudah menyatakan pengusiran Rafael dan memutuskan hubungan dengannya. Tapi putranya tetap pria kecil yang tumbuh besar dalam dekapan hangatnya juga didikan penuh kesantunan seorang Sofia yang selalu membuatnya bangga.
"Aku melihat dady datang bersama Milly kemari. Apa dady ada perlu dengannya?" basa-basi yang sebenarnya tak disukai Fernando, tapi untuk saat ini dia masih memerlukannya demi sebuah proses.
"Ya." balas Nando singkat. Rafael menarik nafas panjang. Wajah datat ayahnya sudah merupakan kode keras jika pria paruh baya itu tak menyukao kehadirannya.
"Kau tak perlu tau." sahut Nando dingin. Watak lamanya muncul. Hanya sikap arogannya saja yang belum terlihat.
"Apa sudah tak ada wanita lain selain Milea dad?" Rafael merendahkan suaranya namun tidak dengan kilatan dimatanya.
"Apa maksudmu?" Tanya Nando juga dengan suara tak kalah rendah dari Rafael. Dua manik blue ocean itu bertemu. Jika mau jujur, Nando seperti sedang berkaca saat menatap putranya sekarang. Wajah yang mirip, sifat yang identik namun beda jam terbang. Tapi yakinlah, suatu saat Rafael akan beberapa pijakan lebih baik darinya dimasa depan.
"Apa yang dady lakukan dengan Milea disini? Dady biarkan aku masuk!!" Rafael dengan tidak sabar mendorong dada ayahnya yang walau tak membuat sang tuan besar Hutama itu terhuyung atau jatuh, namun sempat membuatnya kaget. Bagaimana Rafa tidak nekat? dia melihat ada seseorang yang bergelung dibawah selimut tebal milik hotel itu. Hanya dari hijab yang menyembul keluar saja dia tau jika itu Milea. Hati Rafael memanas.
"Millly...bangun!! Bangun kataku!!!" desis Rafael penuh amarah, namun sang empunya penghuni ranjang hanya diam tak bergerak seolah menngacuhkan perintahnya. Lagi dan lagi Rafael dibuat geram.
"Milly!!! Keluar atau aku akan memaksamu!" ancam Rafa keras, kali ini dengan suara yang meninggi hingga Fernando mencekal lengan putranya kuat.
"Kau yang harus keluar!" desisnya dengan nada membunuh. Tapi Rafael tidak gentar. Dady dan istrinya telah menghianati dirinya juga momynya. Ini tak bisa dibiarkan begitu saja.
"Tidak dad!! dady apakan istriku? kenapa harus jadi sugar dady untuknya? Apa yang kurang dari momy hingga dady menghianati momyku?" Air mata Rafael luruh dalam kemarahan. Hatinya sakit, sangat sakit seperti ditancapi ribuan anak panah. Momynya...wanita yang amat disayanginya, juga Milea...wanita yang mulai mengisi sesuatu di sudut hatinya. Kenapa harus dadynya? Pria yang dia kagumi, dia puja dan dia banggakan? dunia Rafael berputar dalam kehancuran.
__ADS_1
"dady sudah merebut dua wanita yang kucintai dengan sangat kejam!"
"Maksudmu Sofia dan Milea?" tanya Nando tanpa rasa berdosa sama sekali. Rafael mengeratkan kepalan tangannya hingga otot-otot tangannya menyembul. Bisa-bisanya dadynya yang amat pintar jadi melayangkan pertanyaan bodoh padanya, padahal sudah tau jawabannya.
"Apa ada wanita lain dalam hidupku selain mereka berdua?" jawaban yang sama bodohnya dengan sang ayah karena bukannya menjawab malah balik bertanya.
"Mencintai? Kau bilang mencintai? Istri sakit juga kau tak tau. Suami macam apa kau sebenarnya Rafael hutama?"
........degh......
"Momy????" Rafael tercekat saat menyadari ada orang lain dalam kamar itu. Sofia keluar dari kamar mandi dengan rambut terurainya karena baru membersihkan dirinya.
"Iya, aku. Kau kaget?? tentu saja kau kaget. Menyuruh istrimu mengembalikan black card yang kau berikan pada dadymu dalam keadaan sakit, apa itu hal yang pernah kuajarkan padamu? kau juga menuduh ayahmu berselingkuh dengan istrimu, lalu apa tadi? sugar dady? istilah apa itu? kau pikir dadymu pria hidung belang hehh? apa kau pikir itu hal yang pernah terjadi dalam keluarga kita? Kau sudah tidak waras Rafael. Mulai sekarang berpikirlah dewasa dalam menyikapi masalah Raf. Tak semua yang kau lihat adalah kebenaran." omel Sofia tanpa jeda dengan penuh kemarahan sambil menghampiri Milea, mengelap keringat dingin yang mengucur didahinya.
"Milly...kau kenapa?" Rafael bergegas mendekati ranjang dan menyentuh kening istrinya. Dingin..tapi wajah Milea pucat sekali, dahinya juga mengerenyit menahan sakit.
"Sabar nak, sebentar lagi obatnya akan bekerja." Ucap Sofia sambil mengelus kepala menantunya.
"Rumah sakit...kita harus membawanya ke rumah sakit mom." Rafael yang panik segera menarik selimut lalu membuangnya asal. Tuan muda Hutama itu juga langsung menggendong istrinya.
"Bawa dia pulang ke rumah!!" sentak Sofia tegas hingga menghentikan gerakan Rafa yang ingin mengangkatnya.
"Rumah?" ulang Rafael gamang. Rumah mana maksud momynya?
"Iya. Rumah kalian. Dady sudah bersusah payah membelikannya tapi kalian malah kompak meninggalkannya dan menumpang hidup pada tuan Ken. Memalukan!" kali ini Fernando juga segalak istrinya.
__ADS_1
"Tapi Milly butuh ke rumah sakit mom." ucap Rafael pelan. Dua singa di depannya memasang ekspresi marah dan siap menerkamnya.
"Ke rumah kataku Raf! Aku dokter dan tau pasien mana yang butuh rawat inap atau tidak." Sofia bergegas memakai hijabnya, memasukkan barang-barangnya juga Milea kedalam wadah besar lalu beranjak.
"Ada apa dengan Milea mom?"
"Milea mengalami kram perut saat menstruasi. Sepertinya sudah sering terjadi. Hanya perlu obat pereda nyeri dan istirahat." Jelas Sofia karena tak tega melihat wajah panik dan memelas putranya.
"Ayo pulang." Rafael segera mengangkat tubuh langsing Milea lalu membawanya keluar diikuti momy dan dadynya, turun ke lantai dasar.
Danu yang sudah lama menunggu di lobi segera berdiri dari duduknya dan memberi salam saat melihat rombongan kecil itu datang mendekat.
"Pak...saya...." Nando memberi isyarat agar Rafael kembali berjalan ke mobil karena menggendong tubuh istrinya diikuti Sofia.
"Siapa namamu?" Danu menundukkan wajahnya. Dia tau orang didepannya bukan pria sembarangan karena mendengar penjelasan tuan Hans tadi. Nyalinya menciut.
''Danu tuan." balasnya kemudian. Nando menepuk bahunya.
"kembalilah ke Bimantara. Urus perusahaan itu karena beberapa hari kedepan putraku akan sangat sibuk. Sekretarisku akan datang untuk membimbingmu." Ucap Nando lembut hingga Danu berani menegakkan kepalanya.
"Baik tuan."
"Kupercayakan Bimantara padamu. Bekerjalah dengan baik." lagi dan lagi Danu menganggul hormat. Pun saat seorang pria tinggi besar menghampirinya dan menyerahkan sebuah amplop coklat yang lumayan tebal padanya, pria muda itu masih menatapnya tanpa berani menerimanya.
"Terimalah Dan. Itu tanda terimakasih karena kau sudah bersikap baik dan membantu putraku."
__ADS_1
"Te...terimakasih tuan."