Love You More, Husband

Love You More, Husband
Lingrie


__ADS_3

"Dimana nyonya muda?" tanya Rafael pada bi Desi dan Rosa yang menyambut kepulangannya. Kedua ART itu saling pandang membuat Rafa makin penasaran. Tak biasanya Milea tidak menyambutnya sepulang kerja. Atau ini salahnya yang pulang terlambat, bahkan tiga jam lebih dari waktu normal. Untung saja dia langsung sholat isya di mushola pabrik bersama Danu hingga tak terlalu terbebani saat tiba dirumah.


"Nyonya sudah tidur tuan muda." Sontak Rafael melirik jam tangan keluaran brand terkenal dunia yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih jam delapan. Tak biasanya Milly tidur sesore itu.


"Apa nyonya sedang tak enak badan?" Kedua pelayan itu menggelang hampir bersamaan.


"Nyonya muda kecapekan karena baru menemani nyonya besar belanja tuan."


"Mama???" ulang Rafael tak percaya. Mamanya belanja dengan Milea? Ahhh..mereka tetap saja sangat dekat dibelakangnya. Sofia juga terlihat lebih menyayangi Milea dari pada dirinya.


"iya tuan." balas Bi Rosa meyakinkan. Rafael mengangguk lalu pergi ke kamarnya. Saat membuka pintu, dia sudah mendapati Milea yang berbaring membelakangi pintu. Selimut tebal menenggelamkan tubuhnya hingga sebatas leher saja. Rafael yang merasakan tubuhnya amat lengket bergegas membersihkan diri. Sepertinya guyuran air hangat akan membuat pori-porinya bernafas bebas.


Putra sulung keluarga Hutama itu keluar dengan mengenakan celana pendek dan kaos abu-abu seraya mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas baru kemudian meletakkan handuk di jemuran lalu hendak naik ke ranjangnya untuk menghampiri Milea. Tapi sontak pria tampan rupawan itu dibuat terkejut kala mendapati ranjang dimana Milea tertidur tadi sudah kosong. Selimut yang tadi dipakai istrinya hanya menutupi guling saja. Dimana Milea????


"Apa kau mencariku??" sebuah suara halus membuat rasa keterkejutan Rafael berangsur menghilang. Lagi dan lagi dia harus dibuat kaget saat sepasang tangan sudah melingkari pinggangnya dari belakang.


"Milly...kau sudah bangun??" Pertanyaan bodoh bukan? Jika Milly sudah memeluknya, berarti gadis itu sudah bangun. Tapi sungguh, aroma parfum yang menguar dari tubuh istrinya sudah membuat darah Rafael tersirap.


"Jawab dulu...apa mas Rafa mencariku?" Bukannya menjawab, Rafael malah memutar tubuhnya hingga menghadap langsung pada Milea. Netra coklatnya berkilat dengan iris melebar saat melihat penampilan Milea yang....menggoda iman dengan lingrie ketat yang mempertontonkan bentuk tubuhnya hingga nyaris telanjang. Rafael meneguk ludahnya dengan susah payah. Wajah cantik Milea terlihat semakin bersinar dengan make up naturalnya. Siapa yang bisa menyangkal kecantikan istrinya? bahkan para bidadari di surga sana akan iri melihat kecantikannya.

__ADS_1


"Milly...apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan suara bergetar sesaat setelah mendapatkan kesadarannya. Tak hanya itu, Rafael refleksa menarik selimut untuk menutupi tubuh Milea.


"Milly, kau sangat ceroboh. Kenapa pakai baju seperti ini? kau bisa masuk angin dan...."


"Aku tau mas Rafa tak pernah mencintaiku juga menginginkanku." tukas Milea lirih. Setetes air mata jatuh membasahi pipi seputih pualamnya, namun segera dia seka dengan gerakan cepat hingga Rafael terkesiap karenanya.


"Milly...kau salah paham."


"Iya. Aku yang salah paham mengartikan sikapmu padaku. Wanita ini bahkan terlalu menghayati perannnya sebagai seorang istri hingga bertingkah memalukan seperti ini. Maafkan aku." Rafael masih tercengang ketika Milly melangkah cepat memasuki walk in closet dan menguncinya dari dalam. Rafael masih bisa mendengar isakannya dengan jelas saat pintu itu tertutup.


"Milly...buka pintunya sayang...Milly." panggilnya sambil terus mengetuk pintu. Ketukan yang tadinya pelan jadi makin keras dan bar-bar. Rafael jadi semakin kehilangan kesabarannya. Dengan wajah panik pria itu berlari menuju laci nakas dan mengambil anak kunci cadangan disana lalu setenga berlari menuju pintu walk in closet dan membukanya.


"Aku memang terlalu percaya diri. Maafkan aku. Hal ini tak akan terulang lagi. Aku berjanji." ucapnya dengan suara dibuat sebiasa mungkin.


"Apa mas Rafa sudah makan?" lagi..pertanyaan yang sengaja dilemparkan agar seolah tak terjadi apa-apa. Mungkin bisa bagi Milea, tapi tidak dengan Rafa. Pria itu masih menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


"Pakai lingrie itu Miilea...." desisnya dengan tatapan setajam silet pada istrinya.


"Untuk apa? Aku bisa masuk angin. Apa yang bisa kuharapkan dari tubuh kurusku ini hmmm? Jangankan seorang tuan muda sepertimu, pria diluar sana juga tak ada yang akan tertarik padaku meski aku telanjang sekalipun. Aku....hemmmmpptttt...." Rafael sudah membungkam bibir istrinya dengan ciuman liar yang bahkan tak pernah di dapatkan Milea sebelumnya. Nafas memburu Rafael juga terdengar kasar ditelinga kanannya, belum lagi remasan demi remasan disekujur tubuhnya membuat Milea merinding karenanya.

__ADS_1


"Pakai kembali lingrie itu dan segera keluar. Malam ini aku meminta hakku Milea. Aku ingin tubuhmu, juga seluruh cintamu. Cepat keluar atau aku akan memperkosamu untuk yang kedua kalinya." ancam Rafael sambil berjalan keluar meninggalkan Milea yang masih membeku ditempatnya. Berlahan jemarinya memungut lingrie yang sudah dicampakkan asal.


Milea menundukkan kepalanya setelah keluar dari walk in closet. Rasa tak percaya diri menyergapnya. Sesungguhnya dia enggan keluar. Tapi ancaman Rafael.mengingatkannya pada kejadian pemerkosaan dirinya beberapa bulan lalu. Milea takut.


"Kenapa tak bilang jika masa itu sudah berakhir? aku bahkan terlalu lama menunggu. Jangan salah paham Milly...aku hanya terkejut dengan surprisemu. Benar-benar terkejut hingga aku refleks melakukannya. Siapa yang tak menginginkan dirimu? Kau bilang tak ada pria yang tertarik padamu? Itu pasti karena aku tak akan segan memberi mereka pelajaran jika berani mendekatimu." Haruskah Milea bahagia saat Rafael mengatakannya dengan amat lembut seraya memeluk tubuhnya dari belakang? Milly bahkan hanya bisa menahan nafasnya, salah tingkah. Rafael membalikkan tubuh istrinya amat pelan lalu memaku pandangannya.


"Sayang...aku menginginkanmu Milea...." dan sebuah ciuman telah berlabuh diatas bibir seksi Milea. Lembut diawalnya, namun berubah liar pada akhirnya. Tangan sang tuan muda juga sudah bergerak kemana-mana seolah tak ingin melewatkan satu sentipun dari tubuh wangi istrinya. Milea seakan tenggelam dalam pusarannya hingga kehilangan seluruh kesadarannya.


"Aaaaahhh...." rintihnya saat Rafael menyesap puncak bukitnya dari luar lingrie dan menggerakkan lidahnya dengan lihai disana. Tubuh Milea bahkan sudah tertarik ke atas karena naluri kewanitaannya sudah bekerja maksimal. Tangannya juga dengan cekatan menurunkan kain tipis itu lalu dengan gerakan erotis menyodorkannya pada Rafael yang tanpa dikomando sudah benar-benar menyesapnya bergantian seperti bayi yang kehausan. Tiap erangan yang keluar dari bibir Milea seakan makin memacu hasratnya yang terus ingin dituntaskan. Lingrie itu bahkan suda tanggal secara mengenaskan setelah menjalankan tugasnya.


"Kau...sayang..kau sangat cantik Milea. Kau membuatku...gila." ucap Rafael membuat pipi Milea memerah. Rafael bahkan sudah menyingkirkan tangannya yang menutupi intinya karena malu.


"Lepas Milly, ini milikku...hanya milikku." Milea hanya menutup matanya rapat ketika Rafael kembali bermain disana dengan gerakan lidahnya yang nakal namun dia suka. Entah berapa kali mengerang hingga si pria memutuskan berhenti sebelum wanitanya mencapai puncaknya. Dia tak rela Milly sampai hanya dengan permainan lidah dan jari tangannya. Ada sang junior yang akan melakukan tugasnya.


"Ahhh...." pekik Milea tertahan saat benda keramatnya keluar dari sarangnya. Benda sebesar itu? Ahh...apakah muat saat memasuki dirinya? Pantas saja dia memekik kesakitan saat kejadian di apartemen beberapa waktu lalu. Rafael yang mengerti kembali mencumbui istrinya sangat lembut hingga Milea kembali hanyut.


"Aku akan pelan. Jangan takut sayang...kau juga pernah menjerit nikmat karenanya bukan? sekarang ini milikmu juga." bisik Rafael sambil bergerak pelan memasuki inti Milea. Tak ada penolakan atau kesakitan dari Milea saat benda tumpul berotot itu dipacu keluar masuk oleh pemiliknya. ******* demi ******* terdengar salin bersahutan saat kedua insan beda gender itu saling berbagi kenikmatan hingga memekik hampir bersamaan dengan tubuh menegang. Rafael ambruk disamping Milea tanpa berniat melepaskan tautannya. Keduanya sama-sama mengatur nafasnya yang tersengal.


"Kau sangat nikmat sayang...aku mencintaimu...sangat mencintaimu." bisik Rafael penuh keromantisan hingga Milea tersipu. Pun saat Rafael membawanya kedalam pelukannya, wanita muda itu tetap tak bisa berkata-kata. Hatinya terlalu bahagia hingga mendengar detak jantung Rafael saja sudah memnuatnya laksana terbang ke surga.

__ADS_1


__ADS_2