
Saat Milea terbangun pagi harinya, dia tak mendapati suaminya berada disisinya seperti semalam. Hanya gemricik air dari kamar mandi yang menandakan pria rupawan itu sedang membersihkan diri disana. Milea bangkit dan memberihkan ranjangnya, menyiapkan pakaian untuk suaminya bekerja nanti, membentangkan sajadahnya untuk menjemput subuh juga peralatan ibadah diatasnya. Milly tersenyum kecil. Ternyata jadi seorang istri itu menarik juga.
Pintu kamar mandi terbuka. Pemandangan disana bahkan sudah membuat Milly kesulitan meneguk ludahnya. Rafael berdiri hanya dengan handuk yang melingkari perut sicpacknya, membentangkan dada bidang dan otot-otot sempurnyanya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Milea buru-buru mengalihkan tatapannya dengan berjalan menuju kamar mandi sambil menundukkan kepalanya.
"Sedikit cepatlah Milly, aku menunggumu." Milea mengangguk dan bergegas masuk. Mandi kilat karena terlambat bangun.
"Kak....ehmmm...bisa ambilkan baju untukku? tolong..." Kepala Milly menyembul keluar karena menyadari dia lupa membawa baju gantinya. Rupanya dia terlalu menikmati perannya sebagai istri hingga lupa kebutuhannya sendiri. Rafa yang sedang duduk di sofa menunggunya bergegas bangkit dan menuju walk in closet, mencari baju ganti untuk Milea.
"Ini?" tanyanya sambil mengulurkan training dan kaos lengan panjang. Sesaat Milea terpana. Dia hanya ingin baju ganti untuk di rumah, bukannya mau joging atau olah raga. Tapi begitu menyadari suaminya adalah tuan muda kaya raya yang mungkin tak suka diperintah-perintah, Milly menelan kembali suaranya lalu menganggukkan kepalanya. Gadis cantik itu mengulurkan tangannya menerima baju ganti itu dari tangan Rafael yang masih berdiri di depan pintu. Milly segera menutup pintunya setelah mengucapkan terimakasih. Tak apa pakai pakaian begini dari pada keluar kamar mandi dengan keadaan setengah telanjang dan membuat Rafa berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
Rafael segera mengambil posisinya sebagai imam begitu Milea usai berpakaian. Ini sholat subuh berjaam kedua bagi mereka. Milly merasa semuanya amat berbeda. Sekarang dia lebih merasa damai mengerjakannya.
"Kakak akan ke kantor hari ini?" tanya Milly usai mencium tangan suaminya dan melipat mukenanya.
"Ya. Apa kau butuh sesuatu?" Rafa bangkit dan kembali duduk di sofa.
''kakak lupa jika semalam kakak sudah berjanji padaku akan membawaku bertemu dengan Farah bersama dady dan momy?" Milea bertanya ragu. Hatinya yang memang tak siap bertemu wanita itu menjadi gundah. Tapi setidaknya dia harus mencoba menata hatinya. Bukankah dia sudah berniat membuka hati untuk Rafael? Maka dia harus memantaskan diri untuk lelakinya. Dia juga harus selalu siap mendengar dan bertemu soal masa lalu suaminya.
__ADS_1
"Tidak. Kita akan bertemu dengannya bersama Rich juga." balas Rafa dengan amat santainya.
"Richard juga? apa kalian juga terlibat cinta segitiga sebelumnya?" Rafael menatap istrinya tajam.
"Cinta segitiga sebelumnya?? Kurasa aku ataupun Richard sama sekali belum pernah berada di posisi itu baik dulu, sekarang atau nanti karena selera kami amat berbeda." balas si tampan seraya memasang wajah herannya. Milea meruntuk dalam hati. Pertanyaannya yang salah. Sampai sekarangpun yang terjadi diantara mereka hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan antara dirinya dan Richard, juga mungkin akan jadi cinta serupa antara dirinya dan Rafael karena hingga saat ini suaminya itu masih tetap bersikap datar padanya walau tak pernah menolak keinginannya atau bersikap kasar padanya. Tapi Milea tau itu hanya karena sebuah tanggung jawab dan janji yang sudah dia ucapkan pada Leon. Itu saja.
"Maaf." lirih Milly, menundukkan kepalanya salah tingkah. Mungkin dia memang sudah banyak bermimpi jika penerus utama Hutama grup sudah sangat jatuh cinta padanya. Padahal sungguh...melihat semua yang ada pada diri suaminya saja sudah membuatnya tau jika Rafael bisa mnedapatkan siapa saja yang dia mau yang mungkin jauh lebih baik darinya.
"Apa kau mau turun sekarang? membantu momy mungkin...." dan Milea langsung menjawab ya. Dia tak bisa terus menerus salah tingkah di depan Rafael yang selalu saja bersikap amat tenang di depannya. Milly melangkah keluar menuruni tangga bersama Rafa.
"Selamat pagi mom...." sapanya saat melihat momy Sofia sedang sibuk memasak sarapan pagi. Ibu mertuanya itu selalu saja enerjik dipagi hari karena hanya itu saat memasak untuknya. Momy Sofia tak akan memasak disiang hari karena semua penghuni rumah sedang beraktivitas diluar, juga pada malam harinya karena dady Nando melarangnya terlalu capek. Jadi sang dokter hanya bisa menyalurkan hobinya di pagi hari saja.
"Momy sedang memasak apa?" Sofia menunjukkan potongan ayam dan beberapa sayuran didepannya yang sebagian belum dipotong. Milly segera mengambil pisau dan memotongnya.
"Ayam mentega, oseng kangkung dan udang jamur kesukaan suamimu." Sofia menhajarinya bumbu dan cara memasak hingga milea paham.
"Sayang, hari ini Rafa mengajak kita ke tempat
__ADS_1
Farah." dady Nando tiba-tiba sudah duduk dimeja dekat dapur dan menyapa istrinya. Momy Sofia bergegas membuatkannya secangkit kopi hitam lalu meletakkannya di depan Nando.
"Harus sekarang...mengapa mendadak sekali?" Sofia menatap lurus suaminya yang menikmati kopi paginya.
"Karena Milly ingin berjumpa momy." potong Rafael yang muncul dibelakang dadynya.
"Milly, bikinkan suamimu kopi susu." perintah Sofia yang lalu mengajari sang menantu kopi susu kesukaan Rafa dan takarannya. Putra sulungnya itu tak suka kopi instant.
"Hmmmm...baiklah."
"Jika momy sibuk hari ini maka kita bisa menggantinya dihari yang lain." sambung Rafa kemudian. Tapi Sofia segera menolak.
"Tidak. Momy juga sangat kangen pada Farah."
Degh...
Jantung Milea bertalu. Lihatlah momy mertuanya yang sampai berkaca karena menyebut nama Farah. Wanita itu terlihat amat menyayangi Farah. Lalu jika dia sangat menyayangi Farah...kenapa malah menjodohkan dirinya dengab Rafa? bukannya dengan Farah? Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Ada dady Nando disana, bisa habis Milea jika berurusan dengannya.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo cepat sarapan dan kesana. Panggil Rich juga untuk bersiap." Milly sama sekali tak menyangka jika momy Sofia akan seantusias itu untuk bertemu seorang Farah. Dia terlihat amat bersemangat pagi itu.
"