Love You More, Husband

Love You More, Husband
Cukup Begitu


__ADS_3

"Mengandung??" Ulang Rafael dengan ekspresi bingung. Milea menundukkan kepalanya tergesa saat mata elang sang tuan muda menatapnya tajam.


"Bagaimana dady bisa tau?" tentu saja Rafael heran. Dia suami Milea, tapi malah tak tau apa-apa soal istrinya. Dadynya yang jarang peduli pada orang lain saja tau, bagaimana dia tidak? egonya tersentil.


"Momymu yang memberi tau." balas Fernando sambil berjalan acuh meninggalkan anak istrinya.


"Momy tak mau menjelaskan apapun padaku?" Sofia menghentikan langkahnya yang hendak menyusul suaminya ke dalam rumah. Tubuh semampai itu berbalik.


"Biasakan membicarakan sesuatu setelah berada di dalam rumah Raf. Ayo masuk!" titahnya tanpa bisa dicegah. Rafael menurut, digengamnya tangan Milea untuk mengikutinya berjalan. Lain Rafael, lain pula Milly, mata coklat itu membola. Rafael....pria itu malah menggandeng tangannya saat dia ketakutan jika suaminya itu marah. Milly bergegas berjalan.


"Ini rumah yang kami berikan sebagai hadiah pernikahan kalian." Ujar Fernando sambil membuka pintu rumah berlantai tiga yang sudah dilengkapi fasilitas modern itu. Tuan besar Hutama itu malah sudah memfasilitasi rumah itu dengan lift untuk naik turun. Rafael memandang sekelilingnya. Empat orang pelayan menyambut mereka dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat. Dua pria dan dua wanita.


"Dady...kami hanya berdua, kenapa harus mempekerjakan pelayan sebanyak ini?" Rafael masih tak mengerti jalan pikiran dadynya. Dia keluar dari kediaman Hutama dengan harapan bisa hidup mandiri bersama Milea saja. Tapi dadynya malah memasukkan banyak orang di rumahnya. Benar-benar tak masuk akal.


" Mereka tak hanya berempat. Diluar sana, beberapa pengawal sudah dady tempatkan untuk kalian. Nak, kau bukan orang biasa. Tuhan memilihmu untuk menjadi putraku. Artinya, kau harus menjadi pria golongan atas yang harus mau dibantu orang lain. Ingatlah dadymu ini bahkan punya puluhan pengawal dan pekerja saat berada di usiamu sekarang. Syukurilah hidupmu karena dengan begitu kau sudah membantu mereka dengan memberikan pekerjaan dan penghasilan. Ingat nak, jangan pernah menolak kehadiran mereka karena Tuhan sudah mengatur rejeki mereka melewati tangan kita." Nasihat Fernando pelan. Rafael hingga harus menundukkan kepalanya saat mendengar petuah sang dady yang amat bijak. Mungkin itu alasan Fernando selalu mempekerjakan banyak orang baik dirumah maupun perusahaan mereka dengan gaji diatas rata-rata.


"Baik dad." jawab Rafa lamat.

__ADS_1


"Sekarang bawa Milly istirahat dikamar kalian. Desi...tunjukkan pada tuan muda dimana kamarnya." seoarng pelayan yang dipanggil Desi segera mempersilahkan Rafa dan Milea mengikutinya memasuki lift disisi tangga menuju lantai dua.


Sebuah kamar berukuran besar sudah lebih dulu menyambut mereka, bersebelahan dengan kamar yang berukuran lebih kecil. Rupanya Nando dan Sofia sudah mempersiapkannya untuk calon cucu mereka.


"Silahkan tuan, nyonya." Ujar Desi setelah pintu kokoh itu terbuka. Haruskah Rafael protes jika kamarnya bukan sekedar kamar biasa? semua fasilitas modern melengkapinya berikut ruang kedap suara, pengamanan hingga remote pada pintu. Semua sudah dipersiapkan dengan sempurna oleh dadynya.


Rafael mendudukan tubuhnya yang lelah ke sofa besar di dekat pintu. Tatapanya lurus membidik tubuh langsing Milea yang lagi-lagi salah tingkah.


"Kenapa kau merahasiakan kehamilanmu dariku?" tanya si tampan tanpa ekspresi. Milea memilin kedua tangannya, cemas.


"Apa ini yang membuatmu ingin satu kamar, membuka hati, juga menolak bercerai dariku?" Milea menatap Rafael juga nyaris tanpa ekspresi berlebih.


"Benarkah? Milly....aku tak pernah memaksamu membuka hati atau beralih keinginan. Fokuslah pada tujuan hidupmu Milly. Toh aku tak akan menceraikanmu sebelum kau sendiri yang memintanya. Dan anak itu...dia akan tetap jadi anakku, mendapatkan haknya tanpa terlewat sedikitpun. Dan ya...soal hati. Aku tau hatimu bukan untukku dan aku cukup tau jika perasaan tak bisa dipaksakan." Milea yang semula tenang langsung berang. Dia merangsak maju dan berdiri di depan Rafael gagah.


"Kau salah kak. Aku ingin membuka hati karena keinginanku sendiri. Aku tak ingin berpisah darimu." Rafael mengalihkan pandangannya ke arah lain, enggan menatap Milea.


"Kakak salah jika menuduhku menyembunyikan kehamilan ini. Aku juga baru tau kemarin dari momy." Kali ini Rafael kembali menatap mata Milea.

__ADS_1


"Apa kau sama sekali tak merasakan perubahan apapun Miilly?" Milea menggeleng lemah.


"Aku ..bagaimana aku tau? ini kehamilan pertamaku. Jangankan hamil, kau..ahhh...hari itu juga yang pertama bagiku." wajah cantik itu memerah. Gemas rasanya melihat sikap Milea.


"Kemarilah." Rafa menepuk sofa kosong disebelahnya. Milea beringsut duduk agak takut.


"Maafkan aku Milly. Mulai sekarang jaga dirimu dan calon bayi kita baik-baik."


"Kenapa kakak begitu baik padaku?" Tatapan polos itu menghujam jiwa Rafael. Dia jadi merasa jahat karenanya. Dia yang memperkosa Milea, bukankah sudah seharusnya dia bertangung jawab? apa Milly melupakan itu?"


"Milly..kau istriku. Sudah sepantasnya aku begitu." kilah Rafa cepat.


''hanya itu?" Rafael kembali menatap Milea lurus. Milea menundukkan kepalanya, sedih.


"Apa kakak pernah mencintaiku?" Rafael terdiam. Tak biasanya Milea terlihat baper seperti sekarang. Rafa menarik nafas panjang.


"Aku menyayangimu Milea ....." balas Rafael tulus. Kepala Milly terangkat tegas. Senyum lebar terpampang dibibir seksinya hingga Rafa bingung juga. Kenapa Milea terlihat amat bahagia sekarang?

__ADS_1


"Begitu saja kak...cukup sayangi aku. Sisanya biarkan aku yang berusaha. Aku akan membuat kak Rafa mencintaiku." Penuh semangat hingga Rafael terpaku.


__ADS_2