Love You More, Husband

Love You More, Husband
Butuh


__ADS_3

Rafael memasuki rumah mewahnya setelah bi Desi membukakan pintu utama. Langkah panjangnya membawa tubuh tegap miliknya memasuki kamar pribadinya dimana Rena masih duduk menemani istrinya yang masih terlelap dalam pengaruh obat. Kondisi yang sama seperti saat dia tinggalkan tadi.


"Selamat malam tuan muda." Rena yang menyadari kedatangan tuan mudanya bergegas berdiri dan memberi hormat.


"Pergilah istirahat Ren. Terimakasih sudah menjaga istriku." Perintah sang tuan muda sembari meletakkan obat dari mamanya ke atas nakas.


"Baik tuan muda." dan tanpa diperintah dua kali Rena sudah meninggalkan kamar itu setelah menutup pintunya.


Rafael mengelus kepala Milea lembut dan mengecup pucuk kepalanya sesaat. Wajah Milea sudah tak sepucat tadi, tapi masih terlihat lemah. Lagi, Rafael mengelus rambut hitamnya penuh kasih. Wanita ini, wajah ini, dan bibir ini....kenapa dia amat menyukainya? Cantik. Ya, Milea memang cantik. Seorang Sofiapun tak bisa menandingi kecantikan wanitanya.


"Ehhmm mas..." Rafael menyungingkan senyum saat Milea membuka matanya. Jarak mereka yang terlalu dekat membuatnya sedikit salah tingkah.


"Hmmmm....nyenyak sekali tidurnya. Masih sakit?" Milly mengerjabkan matanya lalu menggelang lemah.


"Apa kau sudah makan?" tanya Rafael lagi. Milly belum sempat menjawab ketika perutnya berbunyi. Wajah cantiknya merah seketika. Dia memang melewatkan makan malamnya karena tertidur pulas tadi.


"Mau makan dibawah atau disini saja?" tawar Rafa penuh perhatian. Hal yang belum pernah Milly rasakan selama menjadi istrinya.


"Biar aku makan dibawah saja mas." jawab Milly sambil beringsut dari duduknya, namun tangan kekar suaminya sudah menahannya.


"Disini saja." cegah Rafael, tangannya meraih ponselnya ingin menghubungi Desi untuk membawa makan malam untuk istrinya ke atas namun segera dihentikan oleh Milea dengan memegang lengannya.


"Mas, aku ingin makan dibawah saja." ucapnya lemah, Rafael segera membatalkan perintahnya dan menyuruh bi Desi memanaskan makanannya. Sungguh dia tak ingin berdebat dengan Milea saat ini.


"Baiklah. Mari kubantu."


"Aku tidak sedang sakit mas. Aku bisa berjalan sendiri." Milea menepis halus tangan Rafael yang ingin memapahnya hingga si pria terpaku ditempatnya.


"Kau masih marah padaku.?"


"Mau berapa kali kau menanyakan itu padaku?" balas Milea telak sebelum dia melangkah panjang menuju pintu.


"Aku akan terus bertanya hingga kau memaafkan aku Milly." tak ada sahutan, Milea sudah menuruni tangga dan bersiap makan malam. Rafael hanya mengikutinya dan duduk ditempatnya.


"Mas Rafa mau makan?" Milea menyendokkan nasi ke dalam piring besar saat menanyakannya. Dia tau jika Rafael belum makan dari tadi, sama seperti dirinya. Tanpa menunggu jawaban suaminya, tangannya dengan cekatan menata sayur dan lauk pauk diatasnya lalu menyerahkannya pada Rafael. Pria itu tidak menolak. Pun saat memakannya dengan tenggorokan yang susah menelan karena ada olahan telur di dalamnya.

__ADS_1


"Ini obat dari momy agar menstruasimu cepat selesai." Rafael menyodorkan dua strip obat dihadapan Milea lengkap dengan air putihnya saat mereka baru menyelesaikan makan malam penuh keheningannya. Lagi, tak ada sahutan dari Milea yang lebih memilih menghabiskan coklat panasnya.


"Untuk apa? siklus menstruasiku dipercepat atau tidak sama sekali tak ada hubungannya denganmu." jawabnya dingin. Salahkah Rafael jika harus memberi isyarat agar bi Desi pergi dari sana? pembicaraan mereka sangat pribadi kali ini.


"Tentu saja ada. Soal nafkah batin itu....."


"Aku tak memerlukannya. Hubungan kita tak akan membaik begitu saja meski kau memberikan aku nafkah batin sekarang atau beberapa hari kedepan. Menikah bukan melulu soal nafkah batin tuan Rafael. Catat itu." lanjut Milea tanpa ekspresi.


"Milly...akan jatuh talak jika kau tak ridho." Milea terkekeh seolah menertawakan dirinya sendiri.


"Aku bahkan tak ridho saat suamiku lebih memilih menemani wanita lain di apartemennya dan malah menuduhku main gila dengan dadynya sendiri."


"Kau mengungkitnya lagi bahkan setelah tau kenyataannya. Milly, harus bagaimana aku menjelaskan semuanya padamu?"


"Andai semua masalah bisa selesai hanya karena penjelasan..tak akan ada perpisahan atau pengadilan di dunia ini. Aku sama sekali tak menginginkan nafkah batin darimu jika itu hanya masalah kewajiban. Cukup begini saja. Toh kita bisa hidup damai tanpa nafkah lahir ataupun batin." dan Milea kembali melangkah ke kamarnya, tak mempedulikan Rafael yang masih terduduk di kursinya, juga obat yang tadi disodorkan suaminya. Luka itu kembali menganga. Sakit itu kembali terasa. Siapa bilang cinta bisa datang karena terbiasa? tak akan ada hal biasa jika tak ada yang membuka hatinya.


"Milly...aku melakukannya karena aku tak mau berpisah darimu." Sejenak Milea menghentikan langkahnya yang hampir mencapai anak tangga pertama. Pengangannya mengerat pada ralling berwarna hitam pekat itu.


"Kita tak akan berpisah kecuali kau menginginkannya."


"Nyonya, sepertinya tuan muda kambuh." ucap Rena pelan, tentu dengan rasa bersalah. Dia menyajikan menu telur untuk Milea tadi. Mungkin tuan mudanya ikut memakannya hingga alerginya kambuh.


"Kambuh? ma...mas Rafa sakit apa bi?" tanya Milea panik. Wanita muda itu tercekat saat merasakan tubuh suaminya panas.


"Tuan alergi telur. Maafkan saya nyonya, saya tidak bermaksud mencelakakan tuan muda." Milea terdiam. Jika ada yang harus disalahkan maka itu adalah dirinya. Rasa sakit hati sudah membuatnya egois dan membuat suaminya hampir celaka.


"Apa tuan punya obat alergi? Jika tidak, panggilkan dokter kemari." perintah Milly.


"Tuan menyimpan obatnya di dalam laci ruang kerjanya nyonya. Anda bisa mengambilnya sendiri disana." ucap pak Mun yang langsung memberi jalan pada sang nyonya. Milea langsung berjalan cepat kesana dan mencari laci yang dimaksud pak Mun.


"Ohh astaga.." Milly menutup bibirnya saat hampir saja menjatuhkan ponsel suaminya yang ada diatas meja. Tatapan nanar seketika membuatnya hampir meneteskan air mata saat melihat wallpaper ponsel yang menggunakan foto pernikahan mereka. Makin kesini dia makin terharu saat galeri ponsel itu dipenuhi foto dirinya dalam berbagai pose. Dalam hati Milea kembali mengingat-ingat...kapan Rafael mengambil foto itu? Padahal foto-foto itu lebih banyak berlatar diluar rumah. Tanpa sengaja dia juga membaca beberapa chat diaplikasi hijau suaminya walau tergesa. Milly bergegas memasukkan ponsel itu kedalam sakunya lalu pergi membawa obat untuk suaminya.


"Mas, kau sudah sadar?" Milly yang baru memasuki kamarnya mempercepat jalannya dan menjangkau pinggir ranjang saat melihat Rafael sudah membuka mata.


"Minum obatnya dulu mas." Pak Mun segera membantu tuan mudanya duduk dan meminum obatnya.

__ADS_1


"Terimakasih pak. Maaf sudah menyusahkan kalian. Pergilah istirahat, saya sudah baik-baik saja." perintah Rafael lemah diangguki Milly. Kamar kembali lengang saat semua pelayan pergi. Jika tadi siang dia yang terkapar sakit. Sekarang gantian suaminya yang berbaring sakit.


"Maafkan aku mas. Aku..."


"sstt...aku tak akan mati karena alergi ini Milly. Jangan menangis. Hatiku sakit melihat kau menangis." Milea menyeka air matanya lalu mengangguk. Bersamaan dengan itu ponsel Rafael berdering.


"Kau membawa ponselku?" Milea tersenyum kikuk saat akan menjawabnya. Dia bahkan membawa ponsel itu tanpa minta ijin pemiliknya.


"Ya, maaf." ucapnya sambil mengeluarkan ponsel itu dari sakunya lalu menyerahkannya pada Rafael.


"Angkat saja." balas Rafael tak peduli.


"Tapi orang ini telepon mas Rafa. Malam-malam, mungkin ada yang penting." paksa Milea semakin tak enak hati.


"Mulai sekarang kau yang akan mengangkatnya saat ada orang menelepon saat aku dirumah." lanjut pewaris kerajaan bisnis Hutama itu penuh kayakinan. Milea menatap layar ponsel dengan ragu. Dia harus berdamai dengan diri sendiri juga jika yang menelepon suaminya saat hampir tengah malam seperti ini adalah wanita.


"Momy." desisnya langsung memencet tombol hijau juga mode loudspeaker.


"Asalamualaikum momy." Sapanya. Suara ramah Sofia segera mendominasi balasan salam menantunya.


"Ohh kau yang mengangkat? apa Rafael sudah tidur?" Milea menatap suaminya, tak tau harus menjawab apa.


"Be...belum momy. Tapi mas Rafa yang menyuruhku mengangkat teleponnya."


"Hmmmm....tak masalah. Milly, kau sudah minum obatnya?"


''Sudah mom." balas Milly mantap membuat Sofia kembali tertawa bahagia diseberang sana.


"Baiklah. Momy hanya mengingatkan agar kau banyak minum dan makan makanan bergizi. Telepon momy jika merasa lemas atau ada keluhan. Begitu saja ya, momy mengantuk. Asalamualaikum Milly." dan Sofia sudah menutup teleponnya sebelum Milly membalas salamnya.


"Kenapa mesti berbohong pada momy?" Milea memutar kepalanya menatap suaminya yang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Aku tidak bohong. Aku memang sudah meminum obatnya." Rafael menatapnya dalam sambil menggelengkan kepalanya yang masih terasa berat dan pusing.


"Kau tak perlu melakukannya Milly." lanjutnya terdengar putus asa.

__ADS_1


"Perlu karena aku butuh nafkah batin darimu, secepatnya."


__ADS_2